Senin, 06 Februari 2012

Alangkah Jahatnya SINETRON Lebay Itu !!

Grrrrhhhh....
Sudah saya tulis sejak dulu bahwa saya insya Allah akan menjaga anak2 saya sebaik mungkin dari pengaruh televisi dan iklan2 ga mutu itu. Jengah saya liat sinetron yang tiap hari hanya dihiasi kelemahan, nangis2, cinta2 lebay. Kejahatan yang tidak kunjung usai, polisi yang kehilangan harga diri, dokter2 bodoh, guru2 ga bermoral. Ahh... Mau jadi apa anak2 kalo liatnya kayak gitu? belum lagi kekerasan, tarung, kata2 kasar, makian, rencana2 buruk. AKU BENCI !!

Sakit hati saya liat tayangan begitu, meski kadang saya juga termasuk yang menontonnya. Saya jujur kok, saya memang kadnag masih menonotonnya, tapi rasanya saya kok makin benci ya. Masa' kebaikan kalahnya cuman sama episode yg abis? Kalo misal ga abis episode pastilah kejahatan itu yg akan berjaya, coz memang yang dijual ya kejahatannya itu.

Aihhh... yakinlah padaku kawan, ini hanya rekayasa, visi misi, impian besar atau apalah namanya dari orang2 yang ingin menjadikan muslim semakin bodoh, lemah, panjang angan, jahat dan lemah. Ini hanya serangkaian program panjang dari orang2 laknatullah alaihi itu utk menguasai pola pikir kita dan gnerasi kita. Mereka sedang membentuk GEN baru yang tidak kenal ALlah, tidak percaya kebaikan, meninggalkan orang2 baik, memuja keburukan. Kelak mereka akan tertawa saat dari golongan kaum muslim muncul pembunuh, pemerkosa, koruptor, pemain porno, bintang film yang do everything, ustadz karbitan, anak kecil sok dewasa, penyanyi2 seronok bla bla blaaa...

Eh, sebenarnya

Saat Hati Sesak, Kemana Engkau Mengadu ?

Hari ini begini yang saya rasa. Rasanya begitu lelah, energi seperti terkuras habis sia2, tak terarah, cupet ati, merasa ga dhargai dan berharga. Pikiran saya sampe penat penuh rasanya, pokonya pengennya segera nangis nobita deh *lebay*

Tadi akhirnya saya SMS sinda abi, sekedar menyalurkan kepenatan. Paling tidak dia sekarang yang menjadi orang nomer satu yang saya tumpahi kisah2. Setelah itu semuanya agak mendingan, setelah SMS demi SMS terkirim. Tapi bagaimana kalo belum punya suami ya? Ntar lah kita pikir bersama.

Kamis, 02 Februari 2012

KAOS RASA FL:ANEL

Ini yang mengaku sayang anak dan keluarga. Bisa untuk ukuran dewasa lho... Bisa buat kembaran, kayak kaos couple gitu. Pokoknya bisa pesan sesuai pesanan!















Ending : Kuputuskan Mencintaimu Selamanya


Zenith : Mencintaimu Selamanya

Delapan Bulan Dedek
Aku merasakan semakin berat saja menggendong dedek ke sana kemari. Sesekali memang tiba-tiba aku lemas dan lunglai saat tenaga dan pikiranku tidak proporsional lagi. Dokter semakin mewanti-wantiku untuk tidak terlalu banyak bekerja sekalipun itu untuk mengepel lantai yang katanya baik untuk kehamilan. Dokter sudah memutuskan aku hanya bisa melahirkan dengan jalan operasi dan tidak ada nego model apapun agar aku bisa melahirkan dengan normal.
‘Nda Raya juga selalu mengingatkan aku agar bisa menerima keputusan operasi dedek itu dengan lapang. Katanya, semua demi aku dan dedek. Dia mengatakan aku akan tetep dipanggil bunda sekalipun melahirkan dedek dengan cara operasi atau cara apapun.
Pukul 02.35
‘Nda Raya lama dalam sujudnya. Aku tidak lagi berimam padanya karna kadang tubuhku tidak kuat berdiri terlalu lama. Kakiku juga kadang bengkak tiba-tiba, tapi jika dipijit-pijit sambil baca ma’tsurat gitu akan mendingan lagi. Semakin dewasa usia dedek di dalam rahimku, ‘Nda Raya makin khusyuk saja menjaga shalatnya. Malah sekarang semakin aktif dengan puasa daudnya. Dia bilang, biar lebih siap saja dengan semua yang akan terjadi. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya meski aku tidak tau persis maksudnya.
Aku memiringkan tubuhku agar bisa memperhatikan lelakiku itu menunaikan tahajudnya. Lama sekali sujud-sujud yang dijalaninya, terkadang sampai terisak-isak. Aku tidak pernah berani menanyakan kenapa dia menangis karna aku takut itu termasuk hubungan super personal dengan tuhannya yang tidak ingin dibagi dengan siapapun kecuali memang dia ingin membaginya denganku. Saat dia tunai dengan tahajudnya, aku kerap kali berpura-pura tidur dan tidak mengetahui aktifitasnya. Kemudian dia akan mengecup keningku dan membantuku berwudlu.
“Abid, bangun sayang. Aku masih punya dua rakaat untuk aku tunaikan bersama abid. Temani aku yok...,” katanya sambil memegang wajahku. Padahal aku sudah memperhatikannya dari tadi. “Aku sangat ingin dua rakaat terakhirku ini bisa aku tunaikan dengan abid sekalian nanti kita witir terakhir bersama ya!,” pintanya. Aku diam menatapnya. “Ayok aku bantu bangun,” katanya lagi sambil membantuku menegakkan diri. “Pelan-pelan bid... waktunya masih agak panjang kok,” katanya lagi.
“Nda...
“Iya?
“Baca surah mahar ya! Aku kangen dengan surat itu,” pintaku. Dia menjawab dengan senyum dan mengangguk.
“Tapi kalo abid sudah tidak kuat, boleh duduk segera ya! Jangan dipaksakan biar abid juga tetep bisa menemani aku menunaikan dua rakaat terakhirku. Janji ya?
Aku mengangguk. Kemudian berdiri di belakangnya, menjadi makmum shalat malamnya. Pada saat membaca al fatihah, beberapa kali nafasnya tersengal. Dia menangis tergugu dan beberapa kali menghentikan bacaannya sebelum kembali meneruskan surah yang dibacanya. Pada rakaat pertama, Nda Raya membaca separo dari surah al Insan yang dulu menjadi salah satu mahar pernikahan kami. Bacaannya masih sebagus dulu bahkan semakin kurasakan syahdu dan bagus saja.
‘Nda Raya kembali menciptakan sujud yang sangat dalam. Aku mencoba menguatkan diri untuk terus bisa menemani dia dalam rukuk dan sujud. Tangisnya kembali terdengar sangat dan sarat. Andai aku bisa hidup dalam hatinya, aku pasti mengetahui apa yang membuatnya menangis. Shalatku menjadi tidak tenang dengan tangisnya yang sedemikian dalam dan menyengal makin lama.
Hingga tunailah dua rakaat terakhir ‘Nda Raya...
“Abid masih kuat?,” tanyanya. Aku mengangguk.
“Baiklah kita istirahat dulu. Nanti baru kita lanjutkan witir penutup kita,” katanya lagi. Dia mendekatiku dan mengelus dedek pelan. Menciumnya dan mengatakan sayangnya pada dedek.
“Nda, aku tambah rakaatku lagi ya!,” ijinku.
“Tapi duduk saja ya!,” sarannya. Aku tersenyum dan menyetujuinya.
‘Nda Raya segera berpindah dari hadapanku dan menepi agar aku dapat menunaikan beberapa rakaat lagi. Sepanjang aku memulai shalat hingga akhirnya aku salam kembali, matanya tidak berpindah sama sekali dariku. Mata elangnya menatapku tidak lepas-lepas seperti seorang tawanan.
“Kenapa liat aku kayak gitu?,” rajukku. “Risih na...
“Hm? Kenapa risih?
“Ya si Nda liatnya gitu amat. Kayak aku tawanan yang ditakutkan melarikan diri. Biasanya juga ‘Nda Raya kalo aku shalat nungguinnya dengan bobok. Kenapa malam ini malah ngeliatnya gitu amat?
Dia tertawa. “Dasar cerewet!,” katanya. “Kemaren aku nungguinnya dengan bobok, digigit lenganku. Trus bilang kok bobok? Aku tungguin sambil baca dicubit katanya gak perhatikan aku. Nah sekarang ditunggui sambil diliatin terus malah bilang risih,” ujarnya lucu sambil menekuk kakinya seperti seorang pertapa.
“Ya tapi kan gak terus segitunya, Nda...
Dia kembali tertawa. “Jadi gimana? Bilang dong, yang...
“Genit! Ya biasa saja. Liatnya jangan kayak sipir penjara gitu, sipir saja gak segitunya liat tahanan kok. Ya diliat, diperhatikan tapi jangan segitunya.
Hehehe. Ya aku tadi kan baru ajak abid menemaniku menunaikan dua rakaat terakhirku, jadi aku khawatir abidnya trus lelah, lemas trus tiba-tiba lunglai. Abid kan sakit-sakitan,” selorohnya.
Kudaratkan sebuah cubitan kecil ke arah lengan atasnya. Dia meringis.
“Bilang ampun dulu,” ancamku.
“Iya ampun, ampun ibu suri...
Aku tertawa. Menang.
“Kalo aku gak ada siapa yang akan abid cubit sampe merah gini? Jangan bilang abid akan suka mencubit dan menggigit dedek. Aku plethakin dari atas nanti,” katanya.
Aku kembali tertawa dengan candanya.
“Sudah yok, kita witir. Sebentar lagi subuh. Aku pengen ajak abid subuh di masjid,” katanya. Aku mengangkat alisku tidak percaya. “Iya bener. Serius. Aku sudah telpon dokter semalam, dan boleh-boleh saja sesekali ajak abid sholat subuh di masjid. Serius bidd... kita witir dulu. Temani aku sampai selesai witir penutupku ya, bid. Sekuat mungkin abid tetap witir berdiri, lakukan demi aku. Abid kudu kuat demi aku. Ya?!,” kalimatnya kurasakan memang agak berlebihan didengar. Tapi aku menjawabnya tetap dengan anggukan karna memang aku yakin akan kuat-kuat saja menjalankan witir itu dengan berdiri sempurna,

Yang Terbaru Dari Nin

Lama tidak cerita tentang Nin di sini. Apa yang baru?
Buanyak sodara... kewalahan kami menghadapinya. Suaranya yg aduh subhanallah kencengnya, polahnya yang ga bisa diam, tangannya yang terkadang sangat "kreatif" dalam merusakkan mainannya atau "menyapa" temannya, lalu kesukaannya goyang2 kalo denger lagu dan angguk2 saat liat video2 anak.

Sudah banyak hal yang dimengertinya, meski mungkin dia tidak bisa mengungkapkannnya dengan kata2. Yang paling mudah baginya setiap kali menginginkan sesuatu adalah dengan menarik tangan saya atau abinya dan akan ditunjukkan maksudnya. Misalkan, dia ingin diambilkan sesuatu yang tempatnya di atas. Maka dia akan berteriak2 (tapi bukan menangis atau semacamnya), dia hanya teriak memanggil "Ndaaa...." atau kadang "bhiii..." sampai salah satu dari kami tanya "Mau apa, ada apa, dst" Setelah itu dia akan menarik tangan kami dan menunjuk2 maunya. 

Ternyata oh Ternyata

Beberapa waktu terakhir ini saya mencoba untuk menjadi bunda penjual dan bunda koki. Tapi belum serius bener siy, masih belajar. Mau tau rasanya?

Ternyataaa....

Sangat menarik!
Sangat enak bisa mikir uang kudu dialirkan kemana, untuk apa, gimana nanti. Eh eh bukan masalah uang sebenarnya, tapi lebih pada rasa enak dan kepuasan saat melakoni fungsi baru sebagai pembelajar dagangan. Seharian sambil kerja bisa pilih2 barang, di rumah tiba2 kayak sibuk banged di dapur. hihihi

Tapi ada lagi yang rada ga enaknya. 
Jadi gak bisa nyambangi rumah maya ini sering2. Biasanya bentar2 liat ini, nulis2, eh sekarang jadi sok  sibuk sendiri, ga ada waktu buat nulis. Nulisnya di otak saja. hahaha

Trus lagi, merasa pusing kalo uangnya ga ada. hahaha. Hasrat kulakan maluap, uangnya nipis. Tapi kadang saya cuman bismillah saja, niat pengen nyunnah jualan, masa' Allah ga kasih jalan buat dapat dagangan dan uang. Yang pasti, untuk jualan ini saya tidak terlalu banyak membebani suami. Kan niatnya membantu suami juga, jadi ya gak boleh membebani dunk ya...

So, begitulah rasanya.
Insya Allah saya akan berusaha istiqomah :D
Yuk smangat HOME MADE !!

Rabu, 01 Februari 2012

Keputusanku Mencintaimu Saja (Part 8)


Mataku sebenarnya masih sangat enggan terbuka. Kepalaku juga masih terasa berat. Namun saat kurasakan sentuhan itu bukan sentuhan ibuku, aku seperti mempunyai kekuatan lebih untuk membuka mata.
“Ndaa...
Dia membantuku menegakkan tubuhku. Dia menatapku dalam mata elangnya. Tanpa kata. Hanya menatap.
“Bolehkah aku peluk ‘Nda Raya?,” kataku takut-takut. “Aku kangen...
dia masih diam. Kemudian melepaskan tatapnya dan mengangsurkan tubuhnya untuk kupeluk. Aku menangis lagi kini, padahal tadi aku sudah berjanji untuk tidak menangis.
“Maafkan aku ya, bid... Maaf...
aku menggeleng dalam peluknya. Tak ada kata yang bisa kuucapkan selain dua bahasa tubuh itu : menggeleng dan mengangguk. Sambil terus memeluknya erat-erat.
Aku tidak ingin bertanya ‘Nda Raya kemana tadi. Aku tidak ingin bertanya apapun saat ini. Aku hanya ingin merasakan lega dan bahagiaku karna kudapatinya lagi saat ini. Dan sebenarnya memang dia pun tak banyak kata padaku. Hanya bahasa tubuhnya yang kemudian selalu berarti dia sangat sayang padaku. Dia merapikan kembali selimutku dan membelai-belai dedek sampai akhirnya aku pun terlelap.
Aku terlupa satu hal : malam ini harusnya dia memberi keputusan itu.
***
Aku tetap tak berani bertanya apapun padanya. Kubiarkan dia dengan dunianya sendiri –seperti kata ibuku- meski sebenarnya aku sangat ingin segera dapat berbincang dan bercanda dengannya lagi.
Dia masih lelap hingga lepas subuh. Setelah subuh dia lelap kembali. Aku menungguinya lelap. Kupandangi wajahnya yang terlelap lelah.
“He bid... dari tadi?
Aku hanya tersenyum. Ingin sekali kukatakan aku disini sejak ‘Nda Raya terlelap setelah subuh tadi. Tapi kalimatku sengaja tak kukeluarkan.
“Capek banget ya ‘Nda?
Dia tersenyum. Membenamkan wajahnya pada guling dan memunculkannya kembali kemudian.
“Iya bid, capek... Kerjaan numpuk banget. Aku harus menyelesaikan semua sebelum deadline. Biar makin dapat nabung yang banyak buat abid dan dedek,” katanya.
“Buat kita, ‘Nda...,” ralatku. Dia kembali tersenyum.
“Iya, buat kita...
‘Nda Raya kemudian menemaniku bersandar di tempat tidur ini. Kebekuan memang sangat terasa seolah-olah kami tidak sangat lama tidak bertemu dan masih malu-malu untuk berbicara. ‘Nda Raya diam dan akupun juga diam. Tanpa kata, tanpa suara.
“Bid...
Aku menoleh. Pun dia. Menoleh ke arahku sebentar dan kemudian kembali pada tatapannya sendiri. Aku masih tetap menatap samping wajahnya.
“Abid gak pengen tanya kemana aku semalam?,” katanya kemudian. Dia kembali menolah arahku. Aku tak tau harus berekspresi seperti apa selain menatapnya.
“Aku juga tidak tau kemana aku semalam, bid,” katanya lagi sambil tersenyum. Kini ‘Nda Raya menatapku utuh. Memasukkan aku dalam binar matanya. Aku masih menatapnya, mencoba memasuki dunianya dengan matanya. Matanya kini memang meredup. Binarnya redup.
“Aku tidak tau kenapa aku semalam sangat ingin sendiri. Tidak ingin diganggu, tidak ingin disapa. Tapi aku sadar aku membuatmu dan ibu khawatir. Aku tau abid pasti nangis. Entahlah...,” katanya kemudian. Matanya masih tetap menatap dalam padaku. “Tapi aku tidak kemana-mana, bid... Aku hanya berjalan saja di sepanjang taman dan kemudian berhenti di masjid. Pikiranku seperti penuh dengan rasa takut, khawatir, entahlah apalagi rasanya. Bayangan abid bergantian dengan dedek. Aku membayangkan abid yang lelah mengandung dedek, abid juga masih sakit. Kenapa semua hanya ada pada abid?
Aku menggenggam erat tangannya.
“Aku juga pengen bisa ajak abid kemanapun abid mau. Aku pengen memberikan segenap yang terbaik yang kumiliki selama aku mampu. Tapi aku takut aku juga salah memutuskan itu. Aku takut ini juga bukan yang terbaik untuk abid. Maafkan aku ya bid...
Aku hanya diam. Tak tau apa yang harus kulakukan selain semakin erat menggenggam tangannya. Benar kata ibuku, aku cengeng. Sangat mudah menangis untuk semua hal.
“Makasih ya, ‘Nda. ‘Nda Raya dah ada buat aku, ‘Nda Raya dah jaga aku dan dedek dengan sempurna. Aku tidak tau bagaimana aku dan dedek jika tidak ada ‘Nda Raya. Jangan tinggalkan aku...
Kalimat terakhirku tertelan sedak.
“Bid bid, aku pengen kasih tau sesuatu buat abid. Mau ga?
Aku hanya menatap kosong.
“Senyum dulu dong sayang... Aku yakin abid pasti seneng. Aku yakin abid pasti akan makin nangis dan memelukku erat. Aku yakin abid akan menciumku,” katanya. Matanya dikedip-kedipkan.
“Genit!
“Kan gak papa genit pada istri sendiri. Iya kan?
Aku tertawa. “Ayo bilang ada apa. Cepetan...
“Baiklah... kemarikan tangan abid,” katanya sambil membuka kedua belah tangannya. Aku meletakkan kedua tanganku di atasnya hingga akhirnya kami dapat saling bergenggaman.
“Sore ini kita berangkat ke kampung,” katanya tenang. Sangat tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan seolah-olah dia tidak sedang melakukan sesuatu yang sangat besar.
Aku hanya merengut. Kemudian mengendurkan tanganku. Tapi dia menahannya.
“Gak percaya kan?,” katanya. Aku mengangguk. “Kalo beneran gimana?
Wajahnya masih tetep datar. Tanpa ekspresi. Tenang.
Aku menggeleng. ‘Nda Raya erat menggenggam tanganku yang kini mulai basah. Aku berharap ‘Nda Raya memang sedang tidak bercanda karna itu memang sangat tidak lucu malah melukaiku. Tapi aku juga tidak berani berharap itu adalah sebenarnya karna ‘Nda Raya sama sekali tidak menampakkan bahagia saat mengatakannya.
“Abid dah mulai gusar kan?

FOR THE PLEASURE SEEKER

ARE YOU ?!

Tadi awalnya saya ga gitu peduli dengan maksud kalimat dari iklan es krim ini. Es krim batangan paling mahal dari Wall's. Hanya barusan tadi pagi saja baru merhatikan bener maksudnya. For pleasure seeker. Baru saya mikir, gitu ye... 

Pleasure seeker itu saya artikan pencari kenyamanan. Semoga artian saya tidak salah kaprah ya :D. Dan saya termasuk yang tidak setuju dengan kenyamanan, meski bukan berarti harus selalu melawan arah. Kenyamanan itu kadang tidak mengembangkan diri menjadi lebih hebat, karena sudah terlanjur nyaman pada satu tempat saja. 

Kenapa bisa begitu?

Minggu, 29 Januari 2012

Triple Bars

Siap2 buat menu ini ahhh.... Mumpung di kulkas jg masih ada sisa coklat :D

Bahannya : Coklat masak, kacang mede cincang halus, biskuit marie potong remah, dark coklat, selai kacang, kepala kering (siap pakai), coklat putih. Kayaknya coklatnya bisa diganti apa saja deh... *nurut aku siy*

Step by stepnya :
- Olesi loyang dg mentega kemudian kaish kertas roti di atasnya. Olesi dasar dan sekeliling loyang ya
- Lelehkan coklat masak lalu tuang dlm loyang
- Taburkan mede dan biscuit setengah dari yang kita punya. Biarkan beku dan kemudian siram kembali dengan coklat masak yang dilelehkan. Dan bekukan kembali
- Lelehkan dark coklat, lalu tambahkan selai kacang, aduk rata dan siramkan ke coklat tadi
- Tabur kelapa kering dan sisa biscuit yang dicampur dg coklat putih leleh
- Setelah beku, siram kembali dg dark coklat. Bekukan kembali dan siap disajikan.

So, kita butuh skitar250gr coklat masak, 200gr dark coklat, 100gr white coklat.
Saya pikir mungkin warnanya bisa dimix dengan yang lain ya. Semoga sukses deh nanti buatnya :P

Smangat home made!!

Jumat, 27 Januari 2012

LAKI-LAKI ato PEREMPUAN ?!

Sebel sama pertanyaan ini. Aneh saja rasanya kalo masih ada pertanyaan itu sedangkan jelas2 di kepala pake kerudung. Haduhhh... Apa juga ini?

Sudah sering saya dapat pertanyaan ini. Iya, ini tentang Nin. Masa' masih saja ada yang nanya "Jaler (laki) ya mbak?"

HAHHH ??!


Pliss dehhh... Oh my goss!!
Tak lihatkah krudung itu slalu bertengger di kepala Nin. Tak lihatkah ada anting di telinganya. Iya kalo nanyanya pas Nin ga pake krudung. Lah ini selalu pas Nin lagi pake krudung, eh masih juga ditanya laki pa perempuan. Ato kadang pas Nin kugandeng, dia dengan rok manisnya, masih jg ada yg bilang "ihh... Pinternaa. Laki pa perempuan mbak?"

Oh tidak bissaa...
Ini yang memang Nin yang wajah cowok atao yang nanya lg siwer ya?
Syebel saya masbroo...
Anakku yang cantik, yg shalihah dg kerudungnya
dia bener2 seorang PEREMPUAN sodara...
PEREMPUAN

*agak2 lebay tulisan kali ini kekeke*

Kamis, 26 Januari 2012

EUFORIA JUALAN

Ini dia ni yang sekarang lagi saya rasakan. Rada akut siy, tapi ga berbahaya kok, paling juga cuman sakit sedikit *apa coba maksudnya?*

My Lighty Nin
Begitulah, saya merasa sedang menuju mimpi saya itu. Saya sedang menjejaki satu per satu tanga untuk mneuju impian saya untuk menjadi mompreneur. Awalnya siy saya pengen fokus pada makanan, buka warung buka cyber cafe and book. Tapi ujug2 Allah memberi ide baru, pas baca2 siang2 itu ada melintas jualan baju. Lah, so what gitu loh? Karena yang ownernya bisa dikontak langsung, ya wis saat itu juga saya ngobrol bla bla bla... Lalu terjadilah yang terjadi *ah, kau menodaiku* hahaha

Lalu masuklah gambar2 baju dan herbal ke dalam akun fesbuk saya. Taraaa.... Bunda bening jualan. Padahal teman2, saya ga punya modal pas itu. Iseng2 sambil doa dan yakin saja, masa' siy Allah ga minjemin saya modal. Ya udah lapak pun dibuka. Pelanggan pertama datang, kedua juga datang. Semoga mendatangkan pelanggan2 selanjutnya.

Bagaimana dengan usaha foody saya?

Rabu, 25 Januari 2012

Keputusanku Mencintaimu Saja (Part 7)

Tujuh bulan dedek.
‘Nda Raya mengusulkan sebuah nama : Langit Mujahid Pratama. Langit usulan dariku, Mujahid dari ‘Nda Raya karna memang dedek berjuang bersamaku bertahan dan Pratama adalah nama ayahnya. Mengapa tidak menamakan anak dengan nama yang Islami? Tanyanya sewaktu itu. Kubilang biar dedek segera paham maksud namanya sebelum kita menjelaskannya nunggu dia dewasa nanti.  Dia pasti sudah mengerti seperti apa langit. Pasti dia akan mencoba berpikir kenapa langit begini dan begitu. Dia akan semakin banyak tanya mengapa kita menamakan langit dan bukan bumi. Kenapa langit biru, kenapa langit luas dan sebagainya. Dan pastinya akan ditanyakan sewaktu dia masih kecil. Karna memang langit sudah dilihatnya sejak dia masih kecil.
“Trus keinginan abid dengan kata Langit apa?,” tanya ‘Nda Raya.
“Ya pengen dedek kayak langit saja. Langit kan luas, tempat bergantung semua bentuk benda yang indah hingga yang mematikan. Ada bintang, bulan, meteor, matahari, mendung, petir, awan dan banyak lagi. Nah, semuanya kan cuman ada di langit dan semuanya kudu terus berputar biar bumi  juga tetap stabil. Jadi aku mau abid bisa menjadi seluas langit saat menaungi orang lain dan tetap seikhlas birunya langit meski tiba-tiba ada mendung atau petir. Dan pastinya setelah semua itu akan muncul pelangi yang kembali membuat langit ceria. Karna memang hakikatnya kan bersama kesulitan ada kemudahan[1].
‘Nda Raya mulai murung lagi.
“Aku takut Allah memang lebih sayang salah satu dari kita, bid,” katanya. “Hingga Allah maunya memanggil salah satu dari kita lebih dulu. Padahal mau kita akan bisa bersama selama-lamanya...
Tercenung aku. Apa siy yang tidak bisa dilakukan Allah, kataku sendiri.
“Kenapa sekarang ‘Nda Raya melemah?
“Aku tak bisa lagi menutupi kekhwatiranku, bid. Aku khawatir aku tak bisa menemanimu dan dedek hingga akhir. Aku juga khawatir memang Allah sayang abid dan pengen abid istirahat setelah lama abid berjuang untukku dan dedek dengan sakit abid.
“Tapi selama ini kan ‘Nda Raya bilang semua juga akan menemui mati?
Dia mendesah. Panjang.
“Iya aku tau. Entahlah, kenapa tiba-tiba aku takut,” samar lelakiku tertawa. “Harusnya aku menyemangati abid ya,” katanya lagi. “Baiklah, jika memang Allah mau siapapun tidak bisa menghindar dari mati. Yang pasti jika aku yang dipanggil lebih dulu aku mau abid njaga dedek seperti selama ini abid njaga aku. Dedek juga boleh memilihkan ayah baru,” katanya setengah tertawa.
Aku tertawa juga akhirnya. “Ikhlas ga?
Dia terkekeh. “Ikhlas khlas khlas...!!
“Udah ah, kapan kita akan berhenti bicara tentang mati? Sudah terlalu lama pikiran kita terjebak pada ketakutan dan kekhawatiran untuk takdir yang belum tentu terjadi pada kita dalam waktu dekat. Mending kita rame-rame menyerang Allah dengan doa biar kita bisa terus bareng-bareng. Ya gak?,” kuangkat-angkat alisku. ‘Nda Raya tertawa.
Hari-hariku kembali berwarna. Aku dan ‘Nda Raya berusaha sekuat upaya meluplakan “deadline” kematian kami. Entahlah, kenapa tiba-tiba ‘Nda Raya ketularan merasa khawatir akan sebuah kematian. Apakah kematian itu? Aku tidak ingin lagi membebani diriku dengan semua itu. Aku ingin semua akan baik-baik saja selama aku bisa. Dan aku juga ‘Nda Raya akan berusaha menjalani hari berdua dengan bahagia saja.
Ibuku masih disini. Ibu mertua juga. Bapak juga.
Semalam ayah datang lagi. Seperti biasa, tersenyum dan bercerita tentang sesuatu. Mengajakku tertawa. Kenapa ayah selalu mendatangiku, tanyaku semalam. Ayah hanya tertawa lagi. Kemudian ayah bilang agar aku tidak kesepian. Kematian itu memang menegangkan tapi juga membebaskan. Semua pasti akan tegang saat menghadapi kematian apalagi jika kematian itu seperti hanya menunggu hari.
Kemudian ayah berkata lagi. Tidak ada seorang pun yang bisa berlepas dari mati. Tidak ada yang bisa melawan mau Allah. Sekarang aku boleh sakit dan dikatakan sulit bertahan dengan dedek di perutku. Tapi bisa saja kan Allah malah memanggil lebih dulu Raya?
Aku merengut. Tidak boleh, kataku.
Ayah tertawa mengucek rambutku. Memang kamu siapa, katanya. Dan aku juga turut tertawa. “Ya kalo gitu temui ‘Nda Raya saja kalo memang dia harus meninggal duluan. Ayah mendatangiku terus-terusan itu rasanya seperti aku yang akan segera menemani ayah,” kataku. Jelas sekali dialog itu.
Ayah terkekeh. “Justru ayah ingin menyiapkan kamu, Ra,” jawabnya.
Aku seolah bernar-benar berbincang dengan ayah. Banyak yang aku tanyakan pada ayah dan banyak juga yang ayah jelaskan kepadaku. Kadang malah tanpa terasa ayah terlalu lama menemaniku hingga kadang aku tak mengerti kapan ayah pamit. Karna aku telah tertidur setelah itu.
Tapi lagi-lagi saat pagi tiba dan aku menceritakan mimpiku pada ibu, bapak dan ‘Nda Raya mereka malah mengolok-olokku. Ibu malah sempat tercenung agak lama. Kemudian memintaku untuk berhenti bercerita.
“Mimpi itu kan karena kamu terpancing suasana. Makanya pikirannya jangan yang aneh-aneh,” kata mertuaku. ‘Nda Raya tersenyum melirikku.
“Ra paling-paling lagi kangen ayah, makanya terus-terusan mimpi ayah,” kata ibuku. “Memang bagaimana wajah ayah kalo memang Ra mimpi tentangnya? Ra saja gak tau wajah ayah kayak apa selain dari foto. Iya kan?
Aku terkekeh. Ibu benar, aku tidak tau sama sekali wajah ayah.
“Eh ‘Nda, Pri nelpon kemaren. Pulang kampung yok!,” kataku tanpa pertimbangan apapun. “Kangen desa aku, ‘Nda. Nanti kan kita bisa rame-rame pulang kampung. Sementara rumah ini kita tinggalkan. ‘Nda Raya kan baru ambil jatah cuti beberapa hari saja, ambil sja semuanya sekarang. Nanti pas lebaran gak usah ambil cuti lama-lama juga gak masalah. Yang penting sekarang kita pulang kampung. Gimana?
‘Nda Raya hanya melirikku. Aku memang tanpa persiapan mengusulkan pulang kampung tadi. Aku juga tidak berharap banyak Nda Raya akan menyetujui. Tadi pagi memang Pri menelpon dan bercerita banyak tentang kampungku. Kerinduanku makin meuncak mendengarnya bercerita tentang sungai masa SMP dulu yang kini dipercantik. Juga tentang taman kumuh masa SMAku dulu. Pri bilang sekarang anaknya juga sangat menyukai berkunjung ke sungai kecil itu.
‘Nda...
“Kan bisa nanti saja kalo dedek sudah lahir, Ra... sekarang Ra konsentrasi saja pada kelahiran dedek,” ujar ibuku segera. Memecah pikiran lelakiku yang mungkin sedang berpikir memberi jawaban padaku.
“Lagian kalo pulangnya pas lebaran kan bisa semakin lama. Taman dan sungai itu bisa semakin ramai. Dedek juga pasti akan lebih gembira dengan keramaian itu. Nanti saja lah sekalian lebaran,” kata ibuku lagi.
‘Nda Raya masih diam. Membenahi kertas-kertasnya.
“Nda...
Ibu menjawilku. Aku merengut.
“’Nda Raya dengarkan aku gak siy?
“Dengaarrr...
“Lha kalo dengar kenapa diam saja?
“Kan masih mbenahi kertas, abidd...
“Ya tapi kan bisa komentar sedikit saja. Jangan cuman melirik gitu tadi,” kalimatku sudah terbaca manjanya. Dia melirikku lagi dan mengacak rambutnya sendiri.
“Jawabannya nanti malam sebelum tidur,” katanya.
“Kenapa lama sekali? Tinggal bilang iya dan tidak saja kan?
“Kalo nanti malam bisa jadi aku bisa jawab iya. Kalo sekarang suruh jawab, aku bisa langsung bilang tidak. Hayo milih mana?
Aku merengut. Kalah.
“Tapi bener nanti malam bisa jawab iya?,” kataku lagi. Dia hanya tersenyum. Melirikku sebentar kemudian mengenakan tas kantornya.
“Ya kan nunggu hasil istikharah nanti di kantor. Memang abid punya hadiah apa kalo kita bisa jalan-jalan ke kampung?
“Apa saja. Apa saja yang ‘Nda Raya mau aku kasih. Gimana?
Dia hanya melengang. Tetap dengan senyumnya. “Gombal!
Kulepas lelakiku pagi ini. Dia masih tersenyum hingga motornya benar-benar tidak terlihat lagi. Akhir-akhir ini memang ‘Nda Raya wajahnya selalu tersenyum. Entah karena apa. Mungkin dia bahagia dengan usia dedek yang semakin dewasa. Mungkin juga bahagia karena melihatku makin sehat saja. Tapi aku juga merasa dia makin pendiam. Bahkan sangat pendiam. Aku berpikir mungkin karna kerjaan kantor. Tapi kadang tiap libur pun dia juga pendiam.
‘Nda Raya pamit. Dia harus berangkat ngantor. Dia menciumku kemudian dedek. Ibuku, ibunya dan bapak.
“Jaga diri, bid. Doakan aku,” pesannya seperti biasanya.
“Nitip abid, bu...
***
Pukul 17.15
Lelakiku belum pulang juga. Entah kenapa karena sangat tidak biasa dia pulang kantor lebih dari jam 16.30. Beberapa kali kuhubungi Hpnya tapi tidak aktif. Ku SMS juga pending. Apakah dia marah ataukah masih bingung dengan keinginanku mengajaknya pulang kampung tadi? Ataukah dia sedang ada kerjaan di kanotr? Ataukah dia mampir ke sebuah tempat? Tapi kemana? ‘Nda Raya sangat tidak terbiasa membuatku khawatir dengan kepulangannya. Aku tau dia tidak akan tega lagi melakukan itu padaku karena dia tau sendiri kondisiku yang tidak boleh terlalu cemas, khawatir ataupun takut.
Kudengar salam dari seberang.
“Kok gak pulang-pulang?
Dia tertawa kecil. Maaf, katanya. Saat kutanya kenapa HPnya tadi sempat mati, dia bilang maaf lagi. Tidak banyak kata yang diucapkan selain maaf, kemudian ‘Nda Raya berjanji akan segera balek secepatnya. Kemudian segera mengucapkan salam. Aku merajuk sendiri disini. Pikiranku mulai dipenuhi dengan pertanyaan dan kekhawatiran.
Semua serba tidak biasa. Kenapa?
Aku mulai merasakan gelisah dan kekhawatiran yang sangat tidak biasa juga. Kenapa ‘Nda Raya tiba-tiba bisa begitu? Padahal selama aku sakit, tak pernah sekalipun ‘Nda Raya melakukan sesuatu yang membuat aku bertanya lebih banyak dari dua pertanyaan. Dia akan selalu biarkanku bermanja dan merajuk padanya.
Pukul 17. 35
Dia bilang akan segera pulang. Ini sudah 25 menit dan tidak terlihat tanda dia akan pulang. Kembali ku hubungi HPnya. Tapi tidak diangkat. Kuulangi lagi, tetap tidak diangkat. Mungkin sedang dalam perjalanan. Tapi rumah-kantor hanya lima belas menit. Macet? Ah.. ‘Nda Raya sangat jarang melewati jalan ramai. Tapi siapa tau memang dia sedang ingin menikmati kemacetan.
Bagaimana ini? Ya Allah... tolong aku. Tenangkan aku.
“Raya kok belum pulang ya, Ra?,” tanya ibuku semakin membuatku tidak berani beranjak dari dudukku. “Ra sudah hubungi Hpnya?,” pertanyaan itu kembali kujawaab hanya dengan isyarat kepala. Mengangguk.
Ibu seperti mengerti keadaanku. Dia mengelus kepalaku kemudian menenangkanku. “Ya sudah, gak papa. Kali saja Raya lagi di jalan atau masih mengerjakan tugas kantor. Nanti juga dia akan pulang kalo dah selesai. Ya kan?,” ibu masih terus mencoba menenangkanku. Aku mulai terisak kini. Kukatakan, “Tapi ‘Nda Raya tadi bilang dia akan pulang cepat. Dan harusnya dia sudah sampai rumah. Dia gak angkat HP aku bu... dia juga gak balas SMS. Kenapa ‘Nda Raya sekarang seperti cuek denganku?
Ibu hanya kembali mengelusku.
“Dia baru sekali seperti ini kan? Ra harus adil dong... Jika selama ini dia sudah sangat baik bahkan selalu melakukan yang terbaik untuk Ra, kalo saat ini dia melakukan sesuatu yang membuat Ra khawatir dan Ra tidak menyukainya, bukan berarti dia cuek. Tidak bisa begitu, Ra... Ra juga kudu bisa adil pada penilaian terhadap Raya. Bagaimanapun Raya tetap punya sisi hidup yang hanya ada dia saja. Hanya dia dan dunianya. Sama seperti Ra yang kadang tiba-tiba tidak ingin diganggu bahkan disapapun Ra tidak mau. Kalian memang  sepasang kekasih, tapi kalian juga tetap pribadi dan pribadi. Kalian, Ra dan Raya, tetap punya sisi hidup sendiri.
Aku mulai tenang. Kenapa aku banyak sekali menuntut pada ‘Nda Raya yang hanya mengambil hak tenangnya sedikit saja? Padahal nyatanya hampir tiap hari aku selalu bersandar padanya. Tidak ada waktunya yang tidak diberikannya untukku.
“Mungkin Ra hanya sedikit kaget dengan keadaan yang tiba-tiba ini. Sejak Ra sakit kan Raya selalu berusaha untuk tidak melakukan semua hal yang membuat Ra khawatir dan takut. Dan akhirnya Ra nyaman dengan keadaan itu dan selalu takut bila menemui keadaan yang tidak seperti itu. Raya hanya ingin tenang mungkin Ra... jadi Ra juga jangan terlalu khawatir gitu. Sementara ini jangan bebani Raya dengan manja dan rajukan Ra. Ra kudu tetap bisa tersenyum dengan kepulangan Raya. Bisa kan?
Kembali aku hanya diam. Membayangkan dimana ‘Nda Raya memang membuatku kembali merasakan kekhawatiran.
“Tapi Ra takut ‘Nda Raya kenapa-kenapa, bu...
“Makanya Ra doa banyak-banyak biar Raya tetap dilindungi. Biar tidak ada apa-apa dengan Raya. Ra juga akan lebih tenang nanti. Kasiyan dedek kan kalo ikut-ikutan khawatir begitu...
Ya Allah... tenangkan aku. Jaga lelakiku.

Keputusanku Mencintaimu Saja (Part 6)


EPISODE IBU
Bagi dunia, kau hanyalah seseorang.
Tapi bagi seseorang, engkau adalah dunianya.[1]
Masih sangat pagi saat kulihat ibuku memasak. Aku masih 4 tahun.
Ibu melakukan semua itu sendiri. Di rumahnya sendiri. Sambil memasak ibu akan menyapu dan sesekali memberi makan ayam-ayam. Kemudian ibuku  juga akan meneriakiku untuk segera bangun. Aku mendengar tapi belum ingin terbangun.
Pukul 05.30
Aku hanya mengerjab. Kemudian kembali memeluk gulingku.
”Tidak bisa, Ra... Ra harus bangun, ayo!,” ibuku menarik gulingku dan mengangkat paksa aku. Tapi tidak menyeretku. Setelah memaksaku bangun ibu pasti menggendongku dan menurunkanku di kamar mandi. Kamar mandi yang dingin pasti akan membuatku terbangun. Bahkan kadang menangis dan menjerit.
Ibu selalu mencoba menertibkan jadwal shalat dan ngajiku. Tiap sore pasti aku sering kejar-kejaran dengan ibu untuk segera mandi dan pergi mengaji di mushola. Aku kerap kali lebih memilih bermain di kali bersama teman-temanku dan tidak menghiraukan panggilan ibu. Hingga akhirnya ibu yang mengejarku ke sana kemari untuk menyuruhku mandi dan ngaji.
”Sudah besar kok masih kudu dipaksa untuk mandi,” kata ibuku. Usiaku sudah 7 tahun saat itu. Kelas 1 SD.
Ibu juga selalu membantuku berpakaian saat itu. Membantuku merapikan pakaianku hingga aku selalu terlihat rapi. Tidak pernah aku pergi sekolah tanpa baju yang rapi tersetlika. Di tasku selalu ada sebotol minuman dan sekotak makanan.
”Aku ingin punya ayah, bu!
Dan ibuku pasti akan menjawabnya dengan senyum saja. Kemudian mengalihkan perhatianku dengan berbagai serita dan pertanyaan untukku. Setelah itu pasti ibu akan menciumku dan mengantarku hingga pintu depan. Aku selalu bisa berangkat sekolah tanpa beban. Hanya bahagia.
”Kata bu Wati, pak Joko naksir ibu ya?,” tanyaku pada ibu setelah pulang ngaji.
Usiaku sudah 13 tahun ketika itu. Aku melemparkan tasku dengan keras.
”Eh kenapa tidak baik gitu, Ra?,” tanya ibuku kemudian. Aku merengut sempurna. Tidak ada tawa sama sekali. Aku duduk pun dengan cara marah.
”Ra tidak suka dengan pak Joko. Dia genit!,” teriakku. ”Ra tidak akan pernah rela pak Joko naksir ibu. Kalo ibu sampai menikah dengan pak Joko, Ra akan pindah dari rumah dan ikut mbah uti!,” kataku lagi.
Aku sudah tak mampu menahan air mataku. Aku menangis dengan sepenuh emosi. Ibuku segera memeluk dan bercerita padaku tentang ayah. Hanya sedikit sekali. Karna kemudian aku pasti akan diam.
”Jadi ibu tidak akan naksir pak Joko?,” tanyaku. Ibu menggeleng.
”Janji?
”Iya, janji. Ibu akan setia pada ayah. Itu janji ibu.
Aku kemudian seperti merasakan kelegaan yang luar biasa. Aku merasakan keadaan sudah sangat aman dan tentram karna ibuku pasti tidak akan menerima pak Joko yang genit itu untuk menjadi ayahku. Enak saja!
Ya meski mungkin memang aku belum mengerti benar maksud setia yang ibu katakan itu. Aku hanya mengerti setia artinya ibu tidak akan memilih lelaki yang lebih buruk dari ayah. Setia berarti ibu tidak akan menikah dengan lelaki yang tidak kusukai. Pastinya aku lega akan semua ini.
Aku sudah 17 tahun sekarang. Dengan seragam abu-abu.
Sering kali aku bertanya kepada ibuku kenapa tidak menikah lagi, tapi jawaban ibuku tetap. Ibuku pengen setia pada ayah. Aku tak mengerti kenapa ibu sangat ingin setia pada ayah. Sementara ayah tidak setia pada ibu.
”Ayah bukan tidak setia, Ra. Ayah hanya tidak punya pilihan,” kata ibuku. ”Ayah juga maunya pasti menemani kita selamanya. Tapi kan Allah lebih tau takdir terbaik untuk kita. Ayah benar-benar tidak punya pilihan...
Kemudian ada seorang laki-laki melamar ibu. Keluarganya cukup baik. Duda. Beranak dua. Yang paling besar adalah kakak kelas di sekolahku. Tapi bandel. Suka ganti-ganti pacar dan katanya teman-teman suka main perempuan. Pernah tidak naik kelas juga. Hah?!
”Kalo anaknya begitu, orang tuanya bagaimana ya bu?
Ibuku hanya melirik. Seperti tak ingin menanggapi.
”Buah jatuh kan tidak jauh dari pohonnya. Kecuali dia dipindahkan,” kataku. Kemudian aku tertawa. ”Yahh... sebenarnya memang aku tidak suka dengan anaknya. Tapi kalo memang ibu merasa cocok dengan ayahnya, ya silakan saja. Aku akan dukung ibu.
Ibu kembali hanya melirikku.
”Buu... kok cuman gitu doang dari tadi?
”Lha mau gimana? Mau ditanggapi apa?
”Ya apa gitu... cuman melirik mana bisa diartikan!,” sungutku.
”Itu artinya ibu gak tertarik,” jawab ibuku sederhana.
”Kenapa?
”Ya karna ibu tidak tertarik.
”Kenapa?
”Ya karna ibu tidak tertarik.
Aku merengut. ”Ibuuu’... Kok gitu?
Ibu tidak menyahut lagi.
”Bagaimana kalo mbah uti marah? Mbah uti selalu bilang ibu ini memang suka repot sendiri. Aku tidak rela ibu dibilang macem-macem gitu. Belum lagi kata tetangga. Mbah uti pasti akan marah lagi kalo tau ibu menolak yang ini juga. Ibu tidak takut?
Ibu hanya menggeleng.
”Buuuu’... Ibu berhak bahagia, bu’...
Kini ibu memandangku. Tegas. ”Ra pengen tau bagaimana bahagia ibu?
Aku mengangguk.
”Biarkan ibu bahagia dengan ayah. Itu saja,” katanya.
”Tapi kan...
”Ibu tidak ingin ditemani selain ayah nanti di sana,” kata ibuku lagi. Tangannya mengacung ke atas. Aku mendengus.
”Ra pengen punya ayah?
”Kadang,” jawabku. ”Ra pengen ada yang antar Ra kemana-mana. Ada yang gendong Ra. Ada yang bantuin Ra cari kabel buat fisika. Ra juga pengen nanti saat menikah, ayahlah yang menikahkan Ra...
Mataku sudah berair kini.
”Ibu tau. Maafkan ibu ya! Tapi ibu yakin Ra bisa ngerti maksud ibu. Mungkin nanti pasti Ra bisa ngerti maksud ibu dengan sempurna. Ayah tidak akan terganti oleh siapapun, itu yang ibu tau. Ibu akan mencoba semampu ibu menjaga cinta pada ayah.
”Mungkin ibu egois padamu yang menginginkan seorang ayah untuk hari-harimu. Tapi ibu lebih khawatir lagi jika ternyata ibu tidak bisa memilihkan ayah yang baik untukmu, sekalipun semua orang bilang dia baik. Ibu dan kamu yang akan menjalani hari-hari dengan ayah baru itu. Bukan orang lain. Kalaupun ada pilihan yang salah, ibu juga tidak siap Ra salahkan. Meski mungkin Ra juga tidak akan menyalahkan pilihan ibu, tapi ibu benar-benar tidak ingin memilihkan orang yang salah untuk Ra.
Aku masih menangis. Baru kali ini ibu berbicara sangat panjang padaku.
”Ayahmu juga sangat mudah menangis. Bahkan saat bahagiapun dialah orang pertama yang akan terlihat air matanya. Dan dia tidak malu,” kata ibuku. Lembut tangannya menyeka air mataku.
Benar-benar seperti ada samudra yang entah bernama apa di matanya. Meski aku sangat jarang melihatnya menangis, tapi cukup diamnya saja saat aku bertanya tentang ayah, aku tau ibu benar-benar tak ingin mengganti ayah. Ibu pasti sudah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi saat memutuskan tidak mengganti ayah dengan siapapun. Sementara usia pernikahan ibu juga usia ibu saat itu masih sangat wajar jika menikah lagi. Dan ibu tidak melakukan itu.
Perlahan memang aku bisa menerima keinginan ibu tentang ayah. Meski kadang saat aku sangat ingin diantar kemana-mana keinginan untuk memiliki seorang ayah kembali mengusik. Beruntung aku memiliki paklik yang bisa kuajak kemana-mana. Juga seorang saudara sepersusuan yang juga bisa kujadikan satpamku.
Memang tidak mungkin Allah akan memberikan kesulitan tanpa solusi disampingnya. Tidak mungkin juga Allah akan melepaskan aku dan ibu hanya berdua di bumi ini. Pasti akan ada banyak orang yang akan membantu tugas ayahku sekalipun mereka bukan ayahku.
Dan saat ini, aku akan menjelang pagi juga bersama ibu...
***
”Ayahmu kecelakaan.