Selasa, 27 Maret 2012

Perjalanan Cinta (Part 6)


Selepas Maghrib di Kediri...
            Aku sudah siap dengan helm dan jaket jalanku lagi.
            “Madaaaaa...
“Masih cari jaket mbaaaakkk...
“Cepetan! Ngerti malam gak siy kamu?
Mada hanya cengar cengir mendengar semprotanku. Segera setelah itu dia menyalakan Revo merahnya. “Silakan, dinda... hahahaha
PLAK!
“Hadoohhhh... Sudah minta tolong anterin, malah kayak gini. Gak ada apik-apike mbak Naya ki.
“Sudah jalaannnn...
Ibu menyarankan aku membeli bebrapa oleh-oleh yang dulu disukai Shina. Enting-enting jahe, kacang gula merah dan tentu saja kripik tahu, makanan khas kotaku. Dulu tiap kali Shina ikut aku mudik dari Malang, aku selalu mengajaknya jalan-jalan ke beberapa tempat yang ramai. Terkagang ke gunung paling mati di kotaku, gunung Klothok. Terkadang ke air terjun Sedudo di Nganjuk, terkadang juga ke air terujun di daerah Mojo, air terjun Dholo. Biasanya aku berangkat pagi-pagi biar sampai sana bisa masih tetep seger. Kawasan itu biasanya kalau menginajk siang pasti ramai dan tidak lagi enak dinikmati.
HP ku bergetar. Dharma Calling...
Dharma? Ada apa?
“Assalamu’alaikum, Dhar
Wa’alaikumsalam. Lagi di jalan?
“Éh iya, ini lagi mau ke Patimura cari oleh-oleh
“Oh buat kawanmu itu yah
“Kok tau? Siapa yang cerita?
“Lho... kamu tadi kan cerita dengan Pak Restu.
“Owh iya, dasar Naya pelupa. Ehmm... ada apa ya, tumben. Ada yang bisa saya bantu?
“Eh enggak, hmm... ada yang ingin saya bicarakan sedikit. Tapi mungkin besok juga tak apalah, sekarang masih jalan juga kamunya...
“Oh ya... baiklah.
“Naya.
“Iyah?
Dharma seperti menahan kalimatnya sendiri. “Ada apa, Dhar?
“Oh gak papa. Besok saja. Ati-ati yak
“Yup, insya Allah.
Dharma segera salam setelah itu. Aku pun segera memasukkan kembali HP ku ke dalam tas. “Mas Jagad ya, mbak?,” tiba-tiba Mada sudah ikut bicara.
“Jagad, Jagad apaan...
“yah siapa tau mas Jagad. Hahahaha.
“PLAK! Nyetir yang bener.
Hahahaha.
Hanya sekitar dua puluh lima menit perjalanan dari rumah ke Patimura. Tentu saja dengan kecepatan di atas 60km/jam. Patimura menyediakan banyak sekali makanan khas kota kecilku ini. Di sini ada beberapa toko yang sepertinya semuanya milik etnis China yang menjual makanan khas Kediri, mulai tahu kuning, kripik tahu, telur asap, dan macam-macam lagi. Entahlah, kemana orang-orang pribumi. Mungkin mereka kalah inovatif dengan orang-orang etnis ini hingga hampir semua toko yang menjual makanan khas Kediri malahan yang menjual orang etnis. Bisa jadi karena tabiat orang pribumi yang merasa lebih enak menjadi pegawai daripada pemilik yah. Ah entahlah...
“Sudah? Ada lagi gak?,” Mada bertanya padaku sambil membantuku membawa oleh-oleh yang kubeli.”Buat mas Jagad juga sudah mbak?
O iya, Jagad. Tapi dibelikan apa? Penting ya?
“Aku tadi pesen kaos ke mas Jagad. Hehehehe
“Hah? Kaos?
“Hu uh. Kenapa?
“Kaos apaan, Mada...
“Kaos buat dipakai dunk, mbak. Dia bilang OK, kok.
“Hahh... kamu!
Mau tidak mau aku kembali lagi ke toko oleh-oleh itu. Membeli beberapa makanan tambahan untuk Jagad. Dia tidak begitu suka tahu, tapi doyan dengan kripik bekicot.
“Mbak Nay, mas Jagad tanya mbak Nay nitip apa ga?
Dan aku hanya menjawab pertanyaan Mada dengan pelototanku. Kejam. Dan lagi-lagi kudengar tawa Mada. Kenapa dia juga suka tertawa seperti yah, aneh... hahahaha. Mada memang tidak jauh beda sifatnya denganku. Suka sekali tertawa, kadang terlihat sangat polos, terkadang terlihat cemerlang, dia tinggi tapi kurus, berbeda dengan Jagad. Ah, kenapa Jagad lagi yang kusebut. Hff...
“Sudah semua. Ayuk balek...
“Siap, bos!
Mulailah rvo merah Mada melaju di sepanjang Jalan Patimura hingga Jalan HOS Cokroaminoto. Hanya sekali berhenti lagi karena Mada minta dibelikan Martabak Holand ala pinggir jalan. Yah... aku turuti saja karna dia sudah sangat baik menjadi sopir pribadiku malam ini. Andai tak ada Mada aku juga tidak tau kapan ada waktu untuk membeli oleh-oleh untuk Shina.
Sdh balek?
Dharma. Ada apa siy segitunya memburuku.
Blum. Msh mampir sebentar. Ada apa ya? Balasku cepat
Ah gpp, jgn terlalu malam pulangnya. Kwatir ada apa2 J
Hah? Sejak kapan Dharma berani seperti ini...
Iya, matur nuwun njih... balasku akhirnya.
Sami-sami... J
Dharma sangat mirip dengan Mada. Kurus, tinggi. Namun dia tidak bisa tertawa hahaha seperti Mada. Dia lebih cenderung seperti lelaki flamboyan yang selalu menjaga ekspresi wajahnya. Wajahnya bersih dari minyak, tidak ada kerutan sama sekali. Dan yang selalu kurasakan tiap bertemu dengannya adalah wangi. Dia sangat wangi, entah parfum apa yang dipakainya. Dharma menjadi staff HRD berselisih dua tahun dengan kedatanganku. Entah sejak kapan tiba-tiba orang-orang kantor sibuk dengan perjodohanku dengan Dharma. Mungkin karena aku tidak pernah membicarakannya secara khusus dengan Dharma tentang kelakuan teman-teman kantor, jadinya dia pun merasa tidak ada masalah dengan semua itu. Padahal bagiku, itu jelas sekali suatu masalah. Namun tidak harus menjadi prioritas untuk diselesaikan.
Sudah hampir pukul setengah sebelas malam saat motor Mada masuk ke dalam rumah. Ibu bapak segera membantuku menurunkan oleh-oleh yang kubeli.
“Banyak sekali, Nay?
“Iya tuh pak sopirnya juga malak,” jawabku merengut.
“Malak apaan... cuman minta martabak dan kelengkeng doang,,,
“Huuu...
kuselonjorkan kakiku. Panas. Capek juga ternyata. Kuingat-ingat apalagi yang harus kusiapkan untuk keberangkatanku ke Bumiaji.
“Ibu jadi buat apa tadi buat Shina?
“Hmm.. Anu,,, Wajik, Nduk, Shina dulu suka itu kan? Seklian buat nak Jagad.
“Hahh...
“Kenapa, Nay?
“Kok semua perhatian banget dengan Jagad?,” ujarku kembali merengut.
“Kan kalian berteman, masa’ Shina dibuatkan Jagad tidak, kan tidak adil itu namanya,,,
“Tapi kan dia... Ah, sudahlah. Capek!

Selasa, 20 Maret 2012

Perjalanan Cinta (Part 5)


13.33, Hari yang sama...
Aku sudah membereskan pengajuan ijinku hari ini. Tinggal menunggu rekomendasi keluar dari bagian HRD. Aku kembali memutar badanku kiri kanan untuk melenturkan kembali otot-ototku. Aku kembali menghitung kemungkinan keberangkatanku. Jika aku berangkat hari Sabtu, maka mungkin aku bisa di sana hingga minggu depannya. Tapi serumah dengan Jagad dalam waktu yang lama? Ah, aku tidak akan bisa sepertinya. Pasti akan ada keributan yang tak terhindarkan. Hhfff...
Jagad Nawwaf.
Aku pertama kali melihatnya saat menjadi anak polos kampusku dulu. Dia memang seniorku, namun sama sekali tidak kutau kalo dia senior. Entahlah, mungkin karena dia memang lebih senang bersama anak-anak polos sepertiku. Yang baru melihat gedung besar, orang-orang berdasi ataupun anak-anak mahasiswa yang sebagiannya sok jadi orang pintar. Hah, aku lupa berapa kali aku mendapat hukuman gara-gara kebandelanku melawan senior-senior itu. Bahkan beberapa senior perempuan membenciku, aku tau itu. Sering kalinya mereka membicarakanku di belakang atau menyindirku.
Aih... mereka hanya belum tau siapa Naya.
“Tidak bosen dihukum-hukum terus?,” aku tak melihat kedatangannya, namun tiba-tiba aku mendengar suaranya. Jagad.
“Bosen siy, mas, tapi ya mau gimana lagi. Semua sok jadi petinggi. Hahaha,” aku seperti lupa kalo Jagad juga seniorku dan lupa kalo ini pertama kalinya kami berbincang. Jagad ikut tertawa dengan kataku.
“Kamu yang sabar saja, yang kuat,” katanya kemudian. Aku sudah tidak begitu memperhatikan kalimatnya selanjutnya karena aku sudah sibuk dengan bawaanku yang segudang. Namun yang aku tau selanjutnya, Jagad menjadi orang yang sering kali mendatangiku untuk menanyakan keadaanku setelah aku mendapat hukuman. Dia juga menasehatiku, memberitahuku tentang beberapa hal.
“Yahh... dimana-mana senior memang begitu. Aku sudah tau itu, mas. Jadi tidak kaget lagi. Paling juga balas dendam. Hihihihihi,” kataku. Jagad tertawa. Kerudung putihku tertiup angin yang menggoda kecerewetanku. Kuakui aku memang orang yang tidak begitu peduli dengan sesuatu yang itu berbeda denganku. Aku keras kepala dan suka ngeyelan. Bahkan saat terpojok pun aku masih mencoba untuk bisa bertahan dengan apa yang kuyakini.
Selepas itu semua, memang akhirnya aku bisa akrab dengan Jagad. Awalnya aku memang selalu memanggilnya dengan “mas”, tapi dia sendiri yang kemudian memintaku memanggilnya hanya dnegan Jagad. “Biar lebih akrab,” katanya. “Tapi bukan berarti kamu bisa semena-mena juga padaku.
Jagad Nawwaf.
Hampir sepuluh tahun sejak itu hingga saat ini aku mengenalnya. Mengenali sisi baiknya. Menerima sisi buruknya. Aku mengenalnya sebagai anak laki-laki dari tiga bersaudara perempuan. Ibunya seorang guru sekolah dasar dan bapaknya juga guru. Seorang adiknya kini telah kuliah di UIN Malang dan seorang lagi sedang menyelesaikan tugas akhirnya di STAN. Tidak ada yang istimewa darinya kecuali sifatnya yang tegas.
Meskipun berteman akrab, bukan berarti dimana ada Jagad, di situ ada Naya. Meskipun juga hampir semua orang mengatakan kami menjalin suatu hubungan, namun satu pun tak kami tanggapi.
“Bukankah itu fitnah untuk kalian?,” Asri, kawan berkerudungku mendekatiku suatu siang. Angin siang itu menerbangkan kerudung coklat susu yang kupadu dengan baju muslimah coklatku.
“Tapi antara aku dan dia benar-benar tidak ada apa-apa, As,” jawabku. Aku menyenderkan tubuhku pada tiang kampusku. Asri duduk menyebelahiku.
“Memang. Kalian yang tau semua yang terjadi diantara kalian berdua. Tapi wajar kan jika banyak orang menganggap kedekatan kalian itu bermakna lain? Bukankah dimana-mana persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang tulus?,” gadis berjilbab agak lebar di sampingku ini menyedot sisa es jeruknya. “Hm Naya, sebenarnya seberapa dekat kalian?
Aku melongo. “Dekat apaan? Plis dee... ya biasa saja. Hanya saja mungkin kami akrab satu sama lain. Lagi pula ada Shina diantara kami. Aku dan dia juga tak pernah jalan berdua. Juga tak penah boncengan. Juga tak pernah saling sentuh. Hah, orang-orang ini memang terlalu parno.
“Hihihihi. Ya udah, aku percaya sama kamu kok, Nay. Tapi saranku, ada baiknya juga kamu jaga hubunganmu. Biar terjaga juga ajaran anak-anak berjilbab rapi kayak kamu niy. Jangan sampe’ stigma berjilbab rapi tapi gak karusan kelakuannya menjadi hal biasa. Top gak?
“Hahahaha, beres dah... Insya Allah. Jagad juga bukan orang yang tidak paham dengan prinsipku kok. Itulah kenapa kita gak pernah jalan berdua. Selalu ada Shina diantara kami. Dan satu lagi, kami bertiga bersaudara. Tidak ada persaudaraan yang kukenali lebih dari aku mengenali Shina dan Jagad. Ibuku ibu Shina juga, bapakku juga menjadi bapak Jagad, ibu Jagad juga menjadi ibuku dan bapaknya Jagad juga menjadi bapaknya Shina.
Mataku seperti berair saat mengatakan itu. Asri menepuk-nepuk pundakku pelan dan merangkulku. “Sssttt... Jujur, aku cemburu. Hihihihihi.
Dari kejauhan, kulihat sosok yang sangat kukenali. Tertatih-taih menuju tempatku duduk. Asri segera berdiri dan mela mbaikan tangannya semangat.

Enaknya Di Dapurrrr....

yang paling membahagiakan saat mencoba mengaduk2 bahan di dapur adalah :

1. Saat melihatnya sudah jadi, siap disantap. Apalagi liat si Nin lahap bener. Abinya apalagiiii... Syeneeenggg bgt, panas2 dapur ilang kalo liat mereka makan hasil uji dapurku.

2. Saat bisa membungkus dan membagikannya pd yg lain, minimal ke tetangga lah... Biar tetanggal ga cuman nyium baunya saja, tp jg merasakan rasanya. Kasian bener kan kalo cm dikasih asapnya, apalagi kalo sampe yg nyium baunya anak tetangga, trus nangis2 minta dibuatin juga gimana... bs susah emaknyaaa :))

3. Saat tiba2 membuat org mengenal bahwa saya bs buat2 di dapur :D Jd label wanita ga bisa masak, ga kenal dapur bla bla bla *yg nurut saya itu kacau dan menghina sekali* bisa dikit2 ilang. Yg bener sajaaa... masa' dibilangin ga bisa di dapur, bisanya cm njajan. Aihhh... ter-la-lu !!

Jadi tips dari saya utk yg suka di dapur : lakukan dg hati dan bagikan kepada tetangga. Pasti rasanya lebih maknyess !!

Paling tidak, utk ibu2 yg suaminya terjadwal ngajinya, ini saatnya menguji nyali dan kemampuan mluthek di dapur *lebay*. Biar ada yg dijadikan camilan pas ngaji maksudna... Ngirit dan bs dibagi2 dg tetangga pula. Jd disayang tetangga insya Allah...

Senin, 12 Maret 2012

Perjalanan Cinta (Part 4)


 Malam makin beranjak larut. Tinggallah Jagad dan Naya yang belum memejamkan mata dengan lelap. Keduanya sama-sama berada di sofa yang ada di ruang utama itu. Sebuah kamar yang dimiliki rumah ini belum sempat dibereskan dari beberapa barang milik Shina. Mbak Sum yang biasanya menemani Shina biasanya juga tidur di sofa. Shina bilang, mbak Sum pun enggan merapikan kamar itu salah satunya juga karena takut.
            “Kamu pikir kenapa Shina mengundang kita ke sini, Gad?,” tanpa memandang Jagad, Naya menggumam tanya. Jagad tak memberikan reaksi lebih.
“Aku juga tidak tau, Nay,” ujar Jagad. “Dan kita sama-sama tak berani menanyakan maksud Shina,” sambung Naya.
            “Naya...
            “Jika maksudmu memutar badan dan memanggilku untuk membicarakan masalah tadi sore, kamu hanya GR jika berpikir aku akan menanggapi,” sergah Naya cepat. Badannya berbalik memunggungi Jagad. Sebenarnya Naya pun risih jika harus tidur berhadapan dengan Jagad begini, namun keadaannya memang begini. Apalagi jika harus memunggungi Jagad. Namun syukurnya, selimut tebal milik Shina menutup sempurna tubuh Naya hingga tidak terlihat sama sekali. Dan kerudung berbahan kaos itu tetap melekat di kepala Naya dengan syal putih tulang di lehernya.
            “Baiklah, selamat tidur.
            “Hm...
            Tak ada suara lagi setelah itu. Hanya suara nafas-nafas halus yang terdengar. Kelelahan dan rasa dingin yang sangat membuat kedua karib itu begitu cepat melelapkan diri. Meskipun mungkin pikiran keduanya sama-sama tidak selelap suara nafas yang terdengar. Apalagi semua seperti memutar-mutar kembali. Tapi biarlah... Sepertinya pagi esok hari sangat indah untuk dinikmati. Sekarang biar saja malam membungkus cerita-cerita yang masih tersimpan nanti. Sssttt... Bukankah semua cerita adalah puzzle yang selalu kita sendiri yang menyusunnya? 
 ***
             Bagian 2
            Assalamu’alaikum, Jagad, Naya...
Alhamdulillah disini aku sehat, paling tidak aku bahagia disini. Aku harap kalian juga bahagia dengan hari-hari kalian.. Aku sengaja menuliskan ini dengan kalimat yang sama untuk kalian berdua. Apakah kalian merindukanku? Kalian pasti masih sering berkomunikasi yah. Yah... aku minta maaf karena menghilang begitu saja dari kalian berdua.
Tapi maukah kalian mengunjungiku disini?
Inginnya aku yang berkunjung ke sana, tapi kalian pasti bisa mengira kondisiku yang semakin lemah saja. Ah, tapi aku bahagia dengan semua ini. Kemarilah, akan kutunjukkan banyak keindahan disini.
Kemarilah, karna aku sangat merindukan kalian. Jagad dan Naya.
                                                                                               
                                                                                                Hugs!
                                                                                                Shina

“Dari siapa, Nay?,” ibu mengambil surat yang kuletakkan di sisiku. Aku kemudian sibuk membuka bungkusan lain dalam kardus kecil itu. Tiga buah apel ranum dengan ukuran sedang. Masing-masing diberi pita warna biru. Ada juga sebuah foto dengan latar belakang kebun apel dan matahari kecil. Sebuah senyum menghiasi foto itu. Senyum Shina.
“Shina...
“Iya, bu’, Shina. Akhirnya dia menghubungi Naya...
“Syukurlah, sayang... Apakah kamu hendak memenuhi undangannya?
Aku menatap ibu. Ada pertanyaan yang tidak kuucapkan tapi dipahami ibu. “Yah... pergi saja. Nanti biar ibu yang memintakan ijin bapakmu. Tapi bagaimana dengan kantormu?
“Hmpp... Naya belum ambil cuti sama sekali, bu. Mungkin Naya bisa ambil jatah cuti taun ini. Tak apalah jika nanti tak ada cuti lagi, lagipula ini sudah tengah taun dan belum ada rencana penting untuk bulan-bulan ke depan.
“Yah, baiklah... Kapan kamu berangkat?
Aku hanya mengangkat pundak. “Entahlah...
“Sudah hubungi Jagad?
Aku  melirik ibunya. “Untuk apa?
“Yah biar sama-sama sampe disana, Nay. Kami ini gimana...
“Tunggu, tunggu... darimana ibu tau Jagad juga diundang Shina?
Wanita paruh baya itu tergelak. “Nay, nay... ibumu itu bisa membaca surat ini.
Sekarang aku yang melongo. “Hahahaha. Naya dudul... hahahaha
Aku segera ditinggalkan sendiri oleh ibu setelah itu. Naya kembali membaca surat singkat dari Shina. Shina, bagaimana keadaanmu Shin?
Kukemasi surat dan kiriman apel dari Shina. Aku beranjak ke kamar dan menikmati alam pikirku tentang Shina. Terakhir kali Shina menghubungiku tiga tahun lalu. Setelah itu kami putus kontak, terlebih saat ternyata nomer HP Shina sudah mati. Sama seperti aku, Jagad, kawanku, juga tak tahu bagaimana harus menghubungi Shina. Pernah aku menelpon ke rumah Budhe Asih, tempat tinggal Shina sebelum pindah ke Bat, tapi jawaban dari budhe Asih tidak memuaskan. Shina ingin hidup tenang, begitu katanya. Bahkan saat aku benar-benar datang ke rumah budhe Asih untuk urusan Shina, bude Asih pun tetap kukuh dengan kalimatnya.
“Nanti dia pasti menghubungi nak Naya,” ujarnya padaku saat itu. Aku hanya menatapnya tanpa makna. “Shina memilih hidup seperti itu, nak, budhe bisa apa...
Aku mengerutkan urat dariku. Hidup seperti itu?
“Nak Naya sakmeniko makaryo wonten pundi njih?
Naya tersenyum. “Wonten perusahaan kertas, bu.
Budhe Asih terlihat kaget. ”Tapi bukan di Mojokerto, budhe... di dekat desa saya juga ada pabrik kertas cukup besar. Pabrik Surya Zigzag.
Budhe Asih mengangguk-angguk. Mungkin budhe teringat dengan bapak Shina yang dulu juga bekerja di pabrik kertas Mojokerto. Shina dulu juga sempat berkaca matanya saat kukatakan aku diterima kerja di pabrik kertas. “Kau mengingatkanku pada bapak, Naya...,” ujar Shina saat itu.
“Jadi sudah lama Shina tidak tinggal disini, budhe?
Budhe Asih menarik nafas panjang. Rumah ini juga sepi. Pakdhe sudah meninggal setahun lalu, sementara putra budhe satu-satunya sekarang tinggal di Jakarta karena memang dia bekerja di sana. Rumah ini juga tidak terlalu luas. Begitu masuk langsung dapat ditemui sebuah sofa letter L jaman dulu warna merah, kemudian sedikit berbelok ada sebuah tivi di pojok ruangan. Dapurnya ada di belakang ruangan itu, sementara kamarnya behadapan langsung dengan ruang yang ada televisinya. Kesan agak sumpek memang kerasa, mungkin karena letak televisi yang berada di jalan menuju dapur.
“Shina sudah hampir tiga tahun tidak disini, nak...,” budhe Asih kembali menarik nafas. “Sebenarnya budhe juga ingin dia tetap disini. Tapi shina selalu berkata ada amanah ibu bapaknya yang harus dijaga di Batu, jadi mau tidak mau budhe harus melepas. Sebenarnya budhe diajak serta oleh Shina, tapi mas Dewo tidak mengijinkan.
“Selama tiga tahun itu, Shina tidak pernah kemari, budhe?
“Pernah nak... tapi hanya dua kali kalo budhe tidak salah. Shina kan sakit, nak, budhe bisa paham keadaannya. Syukurlah, dia menjadi gadis yang kuat. Semoga dia juga bertemu jodohnya di dunia ini, nak...
suara budhe tertelan sedak. Ada gemuruh di dadanya, aku tau itu. Kaca-kaca di matanya pun seperti hendak pecah. Aku menghampri dan memegang tangan sepuhnya. “Pasti ada malaikat bumi yang diturunkan Allah untuk Shina, budhe...
budhe mengangguk-angguk. Kini air mata itu tidak lagi bisa terbendung. Sambil bercerita banyak tentang keputusan Shina yang berpindah ke Batu, budhe berulang kali mengusap matanya. Budhe sangat membanggakan Shina meskipun budhe juga berkata Shina sangat keras kepala dengan keinginannya. Dia lembut, namun keras pada sikapnya. Sebelum pergi pun Shina memberikan beberapa lembar pakaian untuk budhe Asih, mukena dan sajadah serta kerudung sederhana siap pakai untuk budhe kenakan sehari-hari.
“Shina bilang bukan untuk membalas jasa, tapi untuk kenang-kenangan,” isak budhe Asih. “Uang itu, Shina bilang boleh budhe gunakan untuk membiayai selamatan pakdhe. Boleh juga untuk kebutuhan budhe yang lain. Shina memberikan itu beberapa bulan setelah kepindahannya ke Batu. Uang itu dititipkan mbak Sum, orang yang menemani Shina di Batu.
Aku seperti tidak seperti aku biasanya. Aku yang begitu royal dengan pembicraan, tiba-tiba hilang suara. Budhe Asih berulang kali meyakinkan aku bahwa Shina pasti menghubungiku suatu hari. Budhe juga memberitahukan mungkin Shina sudah tidak berada di taman bunga yang dulu sering kami kujungi tiap akhir pekan. Rumah ini pun sudah seperti rumahku dulu. Tidak tau kenapa, Jagad juga seolah tidak lepas dari kebersamaan kami.
SMS SMS SMS SMS SMS diterimaaaaaaa...

Minggu, 11 Maret 2012

Perjalanan Cinta (Part 3)


Dokter rumah sakit Baptis Batu menempelkan kabel-kabel di tubuh dan kepala Shina. Infuse dipasang mengimbangi kebutuhan Shina akan makanan dan minuman. Transfuse darah dilakukan terus menerus hingga Shina kembali berpenampilan layaknya manusia yang hidup. Semua anggota keluarga besarnya telah memberikan donor darah untuk Shina dan semua belum mencukupi kebutuhan darah Shina kecil. SHina masih tetap menutup mata dan mengatupkan bibirnya kuat. Hanya ada selang yang melewati batas mulut dan tenggorokannya, kabel-kabel yang berseliweran di tubuh dan kepalanya dan tentu saja infuse dan pipa yang mengalirkan cairan merah ke tubuhnya. Tapi sepertinya kesimpulan dan hasil kesehatan Shina tetap tidak bisa seperti sedia. Ada beberapa tulang kakinya yang harus dimasuki baja-baja penyangga. Dan tentu saja di kepala Shina juga mengalami tekanan yang berat hingga berbulan-bulan selepas kejadian itu Shina masih harus kembali untuk memeriksakan kondisinya.
            Sehebat apapun tangisan dan kedukaan yang menyelimuti keluarga SHina, tidak akan membuat takdir berubah. Kematian memang selalu menjadi misteri, sama halnya dengan takdir perjalanan hidup. Tidak ada yang bisa memastikan kapan piringan hitam hidup kita akan berhenti. Sama sekali tidak ada yang mengerti, apakah kematian akan mendatangi kita dengan cara yang baik ataukah dengan cara sebaliknya. Meskipun memang sebenarnya, kita sendirilah penentu cara mati kita.
            =====
           

Rabu, 22 Februari 2012

KAMU - Cowboy Junior

kamu buat aku tersipu buatku malu-malu
saat bersamamu, saat ku sapa dirimu
aku kok merinding buluku, kok jadi gugup aku
saat bersamamu, saat kau senyum padaku

mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama aku bertanya facebook-mu 
apa nomermu berapa
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu

nanti aku follow twitter-mu aku tunggu retweet-mu
agar aku tahu sukakah kamu kepadaku

mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama aku bertanya facebook-mu apa
nomermu berapa
 
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu

yeah cuma kamu cuma kamu yang bisa membuatku
tidur tak tentu memikirkanmu pujaan hati
oh kamu cantik sekali
 
oh Tuhan aku hanya ingin dia tahu
kau lucu kamu sangat lucu

mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama aku bertanya facebook-mu apa 
nomermu berapa 
nomermu berapa
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu

mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama (sejak pertama) aku bertanya
(kulihat senyumanmu lirikanmu begitu cantiknya kamu)
facebook-mu apa nomermu berapa
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu

kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu
kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu

Benar, ini memang lirik lagu Cowboy Junior, KAMU

Thema Masakan Malam Ini : GAGAL

Huhuhu
rasanya rada gemes juga dengan yang terjadi
padahal sudah disiapin kemaren lho, eh malah hari ini saya membuat kesalahan
disiapin buat jd snack bergizi abina pas ngaji dg temen2nya

Kemaren saya minta abina ambil ayam, rencana awal mau buat nugget sayur
abina juga sudah belanja sayur bahan2nya *thanks a lot HUNNY*
pokoknya bahan dasarnya sudah siap
sudah ada ayam fillet, sayur2an, daun bawang
malah kemudian sama abina ditambahi ayam satu lagi *mumpung mau panen :D

Pagi tadi rencana awal memang mau buat nugget
tapi karena sikon, saya berubah pikiran mau buat sandwich saja lebih mudah dan praktis
hasil dari membaca buku resep juga siy...
akhirnya pagi saya cuman motong2 sayur,biar ntar sore bisa cepet masaknya

Nah, kemudian saya berangkat ke kantor
eh lha kok saya malah lupa blas plang pleng kalo sudah ada plan buat sandwich
saya baru inget pas di kamar lg sama Nin, barulah saya "YA Allah ndaaa... kok lali ga blanja blas!"
Duhh...

Saya ke dapur dan melihat sayur2ku itu hiks2
sudahlah pantang nyerah
saya bilang ke abina "Nda, anter cari roti, tepung, ke KUD palsu"
akhirnya setelah abina ngontrol kandang, berangkatlah cari2 bahan lagi

Lalu sibuklah saya di dapur
bla bla blaaa...
sandwich itu harus jadi

Lalu sambil itu saya buka kulkas, ambil puding yg saya buat td pagii
puding wafer tabur kismis di tengahnya
nah, apa yg terjadi sodara2?
Ini memang pertama kalinya saya make wafer sbg bahan puding
ya Allah... pudingnya ga bisa diiris yg pas wafernya
wafernya malah jd alooottt *ahhh!
akhirnya saya akali, pas bagian wafer saya potong dan cuman saya pake yg kismis
jelek banged tampilannya, kecewa aye hiks2

Kembali pd sandwich
saya sudah siapkan isinya dan sukses
ayam dan sayur bumbu2 sudah siippp
giliraan pegang rotinya, ampuunn... rotinya jelek amitt
padahal harganya sama dengan yg biasa yg beli, beda kwalitas
hiks2
sempurnalah sudah....

Terakhir, saya goreang telur di teflon
macam martabak gitu dan saya taburkan tu isi sandwich di atasnya
lalu saya makan malam!
besok pagi baru saya mau pake tuh isi buat menu lain
Abina cuman saya bawain puding wafer gagal td

Sukses tidak ada tanpa kegagalan
belajar dr kegagalan, smangad!!

Selasa, 21 Februari 2012

Perjalanan Cinta (Part 2)


Naya tak mengindahkan kepergian Jagad. “Nay, aku mengenali kemarahan dan kekecewaanmu, tapi aku pun berdoa suatu hari –entah kapan- kamu akan menjawab dengan pasti pertanyaanku tadi,” ujar Jagad tanpa membalikkan tubuhnya di depan pintu. Dia seolah-olah juga memberitahukan pada alam sekitarnya bahwa ia bersungguh menunggu jawaban Naya.
            Dan lagi-lagi Naya tak mengubah posisi duduknya juga tak seidkitpun menengok kea rah Jagad. Dia tetap asyik dengan coklat panasnya yang kini mulai menjadi hangat. Bahkan dia juga tidak bereaksi banyak saat sudah mendengar langkah Jagad menjauh beberapa langkah dari rumah mungil Shina. Pertanyaan tentang siapa pemilik rumah ini masih disimpan Naya dalam hatinya. Shina memang bekerja di sekitar daerah Batu selepas kuliahnya. Ia memutuskan untuk meninggalkan Malang untuk meneruskan usaha kebun apel neneknya. Ibu bapak Shina telah meninggal dalam kecelakaan saat Shina masih berusia tujuh tahun. Dan kemudian Shina diasuh budhenya hingga tiba saatnya ia bisa mengelola kebun apel peninggalan neneknya yang menjadi hak waris ibunya.
Saat itu mereka hendak menghabiskan malam minggunya di daerah Payung yang terkenal dengan jagung bakar dan makanan-makanan  panas lainnya seperti ikan bakar, ayam bakar, dan sebagainya. Perjalanan dari Malang sudah dilakukan sejak pukul empat sore. Itu artinya paling lama dua jam mereka akan sampai di daerah Payung. Dan tentu saja, waktu itu akan sedikit memanjang karena harus berbelok dulu menunaikan shalat Maghrib.
            Shina berada di kursi belakang saat itu. Sementara ibunya berada di samping ayahnya yang mengemudi. Ada dua sepupu yang turut dalam mobil itu. Perlahan charry warisan kakeknya itu menyusuri jalan-jalan kota Malang dan Batu dengan santai. Di dalamnya terdengar gelak tawa yang tak habis-habis. Semakin ke arah barat, gelap semakin menggelayuti. Apalagi mendung sudah berarak sedari siang. Shina pun terlampau bahagia dengan “acara malam mingguan” bersama ayah, ibu dan dua sepupunya ini. Mereka bukan berasal dari keluarga berada hingga kesempatan menghabiskan malam minggu di luar rumah dan beramai-ramai adalah suatu hal yang sangat menarik dan ditunggu oleh semua. Terlebih Shina menjadi tunggal dalam keluarga itu. Ibunya sempat mengandung untuk yang kedua kalinya, namun ibunya mengalami keguguran karena terpeleset saat menuju ruang pembersihan bunga di belakang rumahnya. Darah yang mengental dan rasa sakit yang luar biasa membuat Mirna, ibu Shina sama sekali pasrah dengan yang terjadi. Terlebih tidak ada orang lain di rumah itu selain dirinya. Bapak Shina bekerja di pabrik kertas di kota Mojokerto.
            “Pak, nanti mampir dulu di pinggir jalan yang ada apel gedhenya yak,” Shina kecil berteriak dari jok belakangnya. “Shina mau foto di bawah apel gedhe itu, pak. Sekalian sama-sama ibu bapak yak, kan dah lama juga kita gak foto bareng,” lanjut Shina. Bapaknya hanya tertawa kecil mendengarnya
            “Arep dipake untuk apa foto-foto itu, Shina? Shina mau pamerkan pada teman-teman sekolah tho?,” tanya ibunya. Shina hanya tertawa menjawab pertanyaan ibunya.
            “Lha iyo kudu pamer, bu’. Kan artinya kita pernah malam mingguan di sekitar apel gedhe itu. Hihihihihi,” Shina kemudian mulai asyik mengatur kira-kira gaya apa yang nanti akan dilakukan olehnya, ibu, bapak dan dua sepupunya. Mendengar coleteh ketiga anak kecil belum genap sepuluh tahun itu, kedua orang tua itu hanya terkekeh dan tergelak-gelak.
            “Pokoknya nanti kita harus foto dan tersenyum lebar di bawah apel gedhe itu. Buat kenang-kenangan,” pungkas Shina. “Iya, iya Shin… nanti kita foto sepuasnya. Sebanyak yang Shina mau,” sahut bapaknya.
            Charry warisan itu semakin membelah arah barat kota Malang. Beberapa kali saat melewati gedung-gedung besar Shina bertanya dengan semangatnya. “Aku nanti akan sekolah di situ juga. Hehehehe,” seru Shina saat melewati bagian belakang gedung Universitas Brawijaya. Saat melewati pasar Dinoyo pun anak-anak itu bercoleteh macam-macam. Mira, sepupu Shina yang berusia lebih muda mengatakan pernah beberapa kali ikut ibunya masuk ke pasar itu.
            “Pasare jorok, mbak,” kata Mira. “Baunya kuwi lho, wah ke hidung rasane perih,” cerita Mira semangat.
            “Lha kalo ngerti ngono, lha yo tutup hidung tho?
            “He eh. Aku tutup idung terus, tapi sama ibu gak boleh terus gitu. Katanya gak sopan, nanti dikira wong sugih yang gak pernah masuk pasar. Jadinya ya sambil negmpet-ngempet sithik aku bisa masuk pasar itu. Toh akhirnya aku juga dibelikan jajanan sama ibu,” kisah Mira lagi. Mereka kini telah melewati ruas-ruas jalan menuju daerah Sengkaling. Disana kembali anak-anak itu girang bukan maen melewati Universitas Muhammadiyah Malang yang memang indah untuk dilihat. Apalagi untuk anak-anak yang bersekolah di pelosok seperti mereka dan jarang melihat gedung-gedung besar dan bagus.
            “Aku sekolah disini saja nanti kalo besar. Lebih gedhe bangunannya,” seru Awan, sepupu tertua Shina.
“Lha apa uangmu banyak, Wan? Kalo sekolahanmu gedhe, berarti kudu bayar mahal juga,” potong Shina.
            “Bener ngoten tho, bulik?,” Awan mengalihkan pertanyaan pada ibu Shina. Ibu Shina adalah adik dari ibunya Awan. Dan Mira adalah sepupu terkecil karena bapaknya adalah bungsu dalam keluarga bu Mirna, ibu Shina. Sedangkan keluarga pak Imam, bapak Shina semua ada di Surabaya.
            “Ya gak mesti kayak gitu, Le. Kalo kamu pinter mungkin bisa masuk gratisan ke sekolah itu. Makanya kamu yang rajin belajar, terus dapat ranking. Pokoke dimana-mana bocah pinter itu mesti akeh yang milih dan suka,” ujar ibu Shina. Matanya bergantian menyapu wajah anak-anak kecil itu. “Kamu juga bisa sekolah disitu, Mir. Pokoknya kalian belajar saja yang rajin, urusan uang sudah ada yang ngurus. Kalian gak perlu sibuk mikir uang.
           

Nin Ikut Abina Shalat Dhuhur di Mushola

Tiap kali adzan, Nin kami akan bilang "Awwaaahhh bhannn"
Lalu dia akan gegas ambil sajadahnya dan plak plok angkat tangannya shalat
Nah, kalo saya bilang "Abi ke masjid" maka dia pun akan langsung menyahut "Awwahhh..."
Seneng dg semua ini, alhamdulillah ya rabb...

Nah, ini pas kita jalan2
pas adzan dhuhur mampir ke mushola
dia langsung ikut2an saja gerakan2 abina,
sesuka hatinya
Sayang kerudungna sudah terlebih dahulu dilepas sama Nin
Nin kami memang suka bgt melepas apapun yg ada di kepalanya
tapi kelak, jilbab ini akan jadi pelindung balighmu
dan harus kamu kenakan
karna ini wajib hukumnya bagi semua muslimah
Wajib itu harus nak...
dan Allah pasti memberikan berjuta kebaikan dan perlindungan dengan jilbab itu

Pose Sujud

Pose Rukuk

Pose Ga Jelas *hahaha

Gaya Terbaru Nin

Taraaaa....
dia pake kacamata mas Zaka sekarang.
Pas dia nemu, dia cepet2 nemui saya sambil bilang "Enda nda, tatata"
Lalu pas saya pakein, saya bilang "Ntar difoto dulu, dik" dia langsung gaya kayak gini
Abis itu dia ribut pengen liat hasilna
Ahh anakku... Pinter ya nak!





Keren kan Nin?
Lalu setelah itu dia mencium saya "Muahh" karna dia bilang "Mimi mimi Boboo..."
Hahaha
Adda saja caranya merayu saya,
barakallah ya nak...
belajar terus, biar makin kuat!

Abi bunda sayang kamu!
Selalu

KOSAKATA Lighty NIN

Seneng rasanya memperhatikan Nin cantik belajar dari sekitarnya. Untukmu nak, ingatlah selalu utk selalu belajar pd sekitar. Usia 16 bulan kurang 7 hari.
  1. Ambut : Rambut
  2.  Tata : Mata
  3. Epipi : Pipi
  4.  Dun : Hidung
  5.  Upin : Kuping
  6.  Tati : Kaki
  7.  Tanan : Tangan
  8.  Paaa... : Nouval (masnya)
  9.  Haaa...: Hanif
  10.  Wa : Nasywa
  11.  Zata : Zaka (masnya)
  12. Tinta : Cinta (mbaknya juga)
  13.  Abbiii : Abi
  14.  Endaa : Bunda
  15.  Appii : Sapi
  16.  Aunn : Kucing Maung
  17.  Ani : Anis (buliknya)
  18.  Yayah : Korah2 (Cuci Piring)
  19.  Ejja : Kerja
  20.  Aem : Ayam
  21.  Maem : Maem
  22.  Pipi : Pipis
  23.  Adduu... : Aduh
  24.  Amiiii : Syamil (Video Favnya)
  25.  Ameee : Amin
  26.  Haduu : Baju
  27.  Aaaaum : Assalamu'alaikum
  28.  Tatata : Kacamata
  29. Wowok : Lombok
  30. Matmat : Tomat
  31. Ndindi : Mandi
  32. Uuaaa : Sekolah
  33. Butu : Buku
  34. Tutu : Susu
  35. Bobo : Bobok
  36. Mimi : Mimik
  37. Cut : Crut (Habbatussauda Oil)
  38. Itii : Fitri
  39. Api : Rafli
  40. Auuu : Bayu
  41. Ayah : farah
  42. Deee : Budhe
Ini dulu sementara...
Pada lupa :P :D
Hayo ayah, bunda, abi ummi, bapak ibu, momi popi, pipimimi, mamapapa...
tulis dunk koleksi kata2 anak2 kecil kita ni...
biar kelak mereka selalu tau, bahwa mereka sudah belajar sejak mereka masih sangat kecil

Smangad !
Luv u, nak...

Senin, 20 Februari 2012

Kalahnya MANUSIA Dengan BEBEK

Bebek,
yang tergambar di pikiran apa?
Wek wek cerewet banget? Bener
Coklat2 pantat goyang2? Bener juga
Telur asin? Right...
Barisannya yg tertib? Yap, 1000 persen bener !

Ceritanya gini,
pagi tadi pas saya mau berangkat eh di jalan dihadang ratusan bebek
Ampyun dehh... sudah telat malah dihadang ratusan bebek2 ini
Bebek ini ada kok kalo lima meter panjangnya
Buanyakk... wong arus kanan kiri jadi berhenti
ga tau tuh yang punya sembunyi dimana, soalnya yg naek motor pd tereak2 tabrak tabrakk gitu
kessiaannn...

Tapi saya jadi ketawa sendiri dg bebek2 itu
lucu siy, barisannya itu lho
RAPI, TERTIB
padahal tanpa pemimpin

Kalo yang barisan paling depan minggir,
yg baris kedua dst juga ikut minggir
kalo yang barisan paling depan menyebar memenuhi jalan
yg belakang juga gitu

Sekali lagi,
mereka begitu tanpa pemimpin lho
Kalo ada yang tanya siapa yang ngajari kayak gitu?
ya tanya saja sama bebeknya,
gitu saja kok repot

Nah, nurut saya bebeklah diantara makhluk hidup dunia ini yang paling teratur
tanpa ada yang mengatur dan memerintah, mereka sudah baris sendiri
patuh banget sama barisan depan
seragam bener gerakannya

Coba bandingkan dengan kita yang berlabel manusia,
ciptaan terbaik Allah
yang dianugrahi kesempurnaan
buka deh surat At Tiin ayat 4
Manusia itu adalah sebaik2 penciptaan

Sekarang kalo kita cari manusia yang bisa patuh pimpinan,
bisa diatur rapi, mau mendengar perintah
patuh dengan yang di depan/terdepan
pokoknya yang patuh, taat dan percaya pimpinan

Diantara 10 orang, satu saja yang begitu sudah alhamdulillah
kalo pun ada dua atau tiga yang begitu, terkadang bukan karena kepahaman tentang ketaatan dan keberaturan itu, tapi lebih pada rasa sungkan, takut, dsb itu
yang ada paling nggrundel, mbatin, ngrasani di belakang

Coba liat yang terjadi sekarang di tipi2
anak buah melawan pimpinannya (tanpa kita harus mencari tau bagaimana pimpinan itu)
trus anak buah yang mengkhianati pimpinannya

Sebenarnya bukan kepada siapa kita harus taat
tapi mengapa kita harus taat
mengapa harus ada pimpinan
kenapa Rasul juga selalu mengangkat pimpinan
Bahkan sepeninggal beliau kan tetap ada khalifah

Kenapa harus ada presiden
kenapa ada pimpinan perusahaan
pimpinan partai,
semua ada pimpinannya

Pelajaran utamanya,
pimpinan itu ada memang utk ditaati

Tapi bagaimana jika pempimpin itu menurut kita tidak baik?
Lha kalo tidak baik, kenapa dipilih?

Wanita HAMIL Adalah Wanita Paling SEXY

Serius deh, wanita paling sexy itu adalah wanita hamil.
Ga percaya?

Yang sudah punya istri, perhatikan baik2 istrinya saat pregnant, terutama kalo dah usia 7 bulan ke atas.
Pasti semakin cantik, menis, menarik dan -serius- semakin sexy
Kenapa bisa begitu?
Sejujurnya saya ga tau alasannya, hanya saja ini seperti sudah kesepatakan bersama kalo orang hamil itu adalah orang sexy. Entah karna perutnya yang buncit ataukah dia semakin sexy karena perjuangannya menggendong anak kemana2 selama 9 bulan
Allah yang maha menciptakan, maha membaguskan ciptaanNYa

So, saya sempet rada tersinggung saat ketemu dengan temen lama dan dia berkata "Wihhh... bumil ni sexy amit"
Saya langsung mengerutkan dahi dan melihat apa pakaianku sempit ya
tapi tidak kok, biasa saja
malah longgar2, kayak badut saja


Aih, tulisan ini memang tidak bermutu
tapi saya bener2 ingin memberikan apresiasi tingkat tinggi kpd seluruh ibu hamil di dunia 
yang membaca note saya ini,

Selamat menikmati detak2 jantung kecil itu
Selamat menjadi seorang pahlawan sejati
Selamat menjadi malaikat kebanggaan

Dan selamat menjadi wanita PALING sexy
:P :D

TELA(DAN) vs TELA(TAN)



hayo yang merasa golongan teladan, baris di sebelah kanan saya...
Yang telatan, segera ambil barisan di sebelah kiri sayaa...

Yah, like that lah
tulisannya memang beda2 tipis, tapi artine bener2 beda tebal *LAH?!

Jadi gini sodara2,
sebenarnya saya ini masuk golongan yang tela(tan)
kadang saya malu, jengah juga kenapa kok telatan amiitt...
padahal misal ada kerjaan terkadang prasaan sudah saya majukan jadwalnya
eh masih saja telat... hiks2




Nah itulah kenapa saya nulis ini,
karna saya telatan
aduh malu2in tapi saya ingin ada yg menyahuti rasa malu saya ini

Kadang saya ngliat ibu2 atau ustadz2 yang tladan itu sama sekali ga telatan
tapi kadang rada terluka juga siy kalo liat orang yang harusnya jd teladan eh malah sangat telatan
jadi sebenarnya teladan dan telatan itu sodaraan ya
kalo orang teladan harusnya dia TIDAK telatan
nah kalo orang telatan berarti dia BUKAN teladan

Jadi, saya?
ya jelaslah... sudah bisa disimpulkan sendiri
padahal asline kalo ga telat itu menenangkan lho
semua jd nyaman dan tidak terganggu

Sekarang bayangkan ya
sudah semua lg serius2, eh ada yg tiba2 datang
pecahlah konsentrasi, semua jd nengok
apalagi kalo yg datang telat memecah konsentrasi itu adalah sang teladan
addduuhh... bikin malu :D :P

Jadi saya cukup bersyukur juga kalo belum berlabel teladan
jd ga malu2in kalo masih telatan
hahaha
*ngeles.coid*

Tapi sebenarnya -kata asatidz saya-
semua kita harus bisa menjadi teladan
teladan itu kan yg bisa menjadi contoh baik
nah, sebenarnya semua juga punya fungsi itu
menjadi teladan itu keniscayaan semua orang, termasuk saya

Aihhh...
pasti orang yg teladan itu tidak punya kamus telatan ya
dan yang telatan pastilah tidak layak jd teladan
betulll... ??!!

Sekarang,
yang tadi baris di sebelah kiri saya, apakah pengen pindah ke baris sebelah kanan?
ayuk sama2 pindah yukk...
semoga Allah memampukan kita menjadi teladan yg tidak telatan

Aminnn...
*menundukkan diri*

Minggu, 19 Februari 2012

Perjalanan Cinta (Part 1)

“Sudahlah, jangan diperpanjang lagi…”
            Kalimat itu menyudahi seluruh kebekuan yang membentang antara Naya dan Jagad. Mata mereka tak lagi beradu pandang dalam perseteruan dan suara mereka pun sudah luruh ditelan nafas-nafas menyesakkan dari dada mereka. Naya berusaha mengalihkan pandangan dari melihat Jagad. Dan Jagad pun membuang mata ke arah yang lebih jauh.
            “Aku pikir aku bisa membanggakan kalian untuk menyelesaikan masalah ini,” tanpa memindahkan kesibukannya dari menyulam benang-benang hitam pada kain biru muda yang membentuk seekor burung kecil, Shina menyela keegoisan Jagad dan Naya. “Jika mau, aku bisa menjadi saksi perdebatan kalian selama kalian mampu. Jika kamu ingin aku diam, Jagad, aku akan diam. Dan aku akan tetap begini seolah-olah aku tak pernah dekat denganmu, Naya,” kedua mata Shina tak lagi berkonsentrasi pada sulaman burung kecilnya. Matanya menatap punggung kedua orang yang dianggapnya teman, ragu sudah menyelubungi hatinya.
            “Shina…
            Shina hanya menjawabnya dengan gelengan. Tangannya menolak kalimat lanjutan yang hendak diucapkan Naya. Tak ada keinginannya kini selain mengeratkan syal di lehernya dan meraih bantal kecilnya. Bantal merah hitam bergambar sepasang angsa putih. Di atasnyalah Shina kemudian meletakkan kepala beratnya yang diselimuti oleh rajutan tebal penutup rambutnya. Beberapa helai rembutnya terlihat karena kain rajutan di kepalanya melonggar.
           

Sabtu, 18 Februari 2012

Jadi, Kenapa Saya Harus Punya Twitter ?!

Karna saya harus berkembang.

Saya harus terus mencari sesuatu di luar sana yang banyak orang tau tapi masa' saya harus tidak tau? BUkan berarti saya ni harus selalu ngekor dengan yang lagi happen sekarang, tapi nurut saya niy saya memang harus belajar terus ttg sesuatu yang baru,

Bagaimana rasanya make twitter?
PUSSSIIINGGGG...
Sumpah pusing!
benar2 sangat beda dengan pengoperasian FB yang apa aja telah ada di sana. Mana kalo mention juga dibatasi cuman seiprit. Cuman enaknya kan kita bisa follow sesuka hati tanpa batas dan tidak harus nunggu diconfirm sama yg punya akun. Itu saja enaknya. Yang lain cuma ada pusiinggg...

Tapi saya kan punya pakar yang bisa menjawab semua ini. Simbah gugel. Saya gugling semua tuh yang saya ga ngerti di twitter. Mulai dari maksud RT dan sebagainya itu, trus gimana biar twitter bs nyambung sama FB trus terakhir tadi gimana cara upload foto/video ke twitter. Bayangkan lah ya, di FB semua tinggal klik2 saja kalo mo upload. Nah di twitter? KUdu buka halaman baru. Capre drehh... *lebayy*

Ya begitulah belajar. Kudu sabar dan kreatif. Saya lho sebenarnya juga tidak tau gimana nanti lah di twitter, yang saya ingin sekarang blajar saya mengenal twitter. Lha di tipi kan yg ada kan twitter, FB sudah jarang dibawa2. Dikit2 mention ke twitter kami yah bla bla bla

So, sekarang saya sudah punya twitter
silakan follow me ya ariswidyaa, kalo kata FB like this yooo
tenang saja, sy baru ngetweet dikit banged, wong baru blajarnya hari ini. Padahal saya sudah buat akun ini akhir tahun lalu, cuman masih malas saja dengan ribetnya di twitter.


Saya pikir sama lah dengan blajar nge-blog gini
Aku Cinta Blogspot
ada yang nyaranin pake wordpress saja enak, 
pake mutiply saja keren bla bla bla
tapi mau gimana lagi, kendali kan di saya toh
sy jatuh cintanya sama blogspot, masalah buat loeh? *hahaha
sy pernah nyoba pake wordpress, sudah punya multiply (dulu)
sekarang saya pengen ikut komunitas blogger (meskipun masih gini doang adanya saya),
 makanya saya buat blog di blogspot
Ntar lah kalo sudah kepikiran laen lagi, buat blog di web lainn...

Jadi kenapa saya harus punya twitter?
karna sy harus belajar lebih banyak lagi dari yang sudah saya punya sekarang.
karna saya ingin belajar diluar zona nyaman FB  yang sudah saya kuasai (insya Allah)
karna saya pengen juga blajar dr tweet2 orang2 terkenal itu *hah?!*

karna saya adalah pembelajar :)

Follw me yahh
@ariswidyaa

Jumat, 17 Februari 2012

Ternyata Space Otak Saya Masih Sangat Luangg...

Iya bener begitu kok.
space otak saya memang sangat luang. paling2 yang terisi cuman seper 0,0000 sekian persen saja. Selebihnya masih sangat kosong melompong.

Dari mana saya tauh?
Gini kisahnye...
Jadi hari ini saya sangat spesial karna banyak membaca blog yang aduhai cantik2nya. 
Saya bener2 membaca semua kreatifitas yang mereka miliki. Dan Allahu akbar,,, saya yakin saya pun bisa. Saya sempetkan melihat bukan cuman lima, tapi langsung berpuluh2 model, konsep dsb saya baca, telaah dan renungi. Hasilnya... Saya kembali bersemangat.

Begitulah otak kita bekerja,
harus terus, terus  dan terus diajak mikir dan berkreasi. Jangan cuman mikir diri sendiri dan keluarga. Perlu direfresh dengan mikir masalah2 di luar kita, di sekitar kita, diajak mikir cari duit bla bla bla...

Jadi saya semakin SADAR sesadar2nya kalo saya masih bisa melatih otak saya utk bekerja lebih giat *HAHA?!* Jadi inget buku MYELIN yg keren itu, jadi begitu juga otak kita. Harus dilatih dan ditebalkan dg pembiasaan2 yg baik.

So, kemaren2 kan saya lagi jatuh cinta banget sama masakan, kue, minuman, dsb itu. Trus kemudian jatuh cinta dengan jualan baju2 dan sebagainya. Nah, sekarang sedang sangat jatuh cinta pda handycraft. Pasti besok Allah menjatuhi saya cinta yang lain lagi. Ini yang saya sebut bahwa space otak saya masih sangat luangggg...

So, bagaimana dengan otakmu kawan?
Apakah kalian siap menantang otakmu utk bekerja sama?
Ayolahhh.... smangka pagi selalu!

Lop zu!
Cepet sehat sayang....