Jumat, 15 Juni 2012
An Attribute For My Beloved "MAK" : Karna Memang Kami Sangat Mencintaimu dan Kehilangan Kebaikan2mu, Mak...
Hari ini saya katakan, saya bangga menjadi saksi dari akhir kehidupan baik seorang ibu dan emak banyak orang di sini. Saya sangat bahagia menyaksikan sebuah perjalanan akhir kehidupan yang diakhiri (insya Allah) dengan kalimat2 tauhid. Saya bahagia dalam kehilangan ini, karna memang kehilangan ini kehilangan yang sangat menyesakkan. Bukan sekedar kehilangan sosoknya yang bersajaha dan sangat sederhana, tapi kehilangan terbesar adalah kehilangan kebaikan2 yang biasanya sangat lekat padanya. Semoga saya juga teman2 yang lain dapat meneladani dan meneruskan kebaikan2 dan ajaran2 kebaikan itu seterusnya. Sampai akhirnya kami juga menemuiNya sepertinya.
Semua orang memanggilnya EMAK. Mak Tar namanya.
Semua memanggilnya demikian, sejak anak baby smart sampai ibu2 bapak2 bahkan kakek2 jamaah masjid. Semua memanggilnya sama : EMAK. Sehingga kadang guyonan saya dan kawan2, emak ini kayaknya ga bakal jadi mbah2 deh, soalnya semua selalu memanggilnya emak. Dan dari semua yang memanggil demikian, saya sangat merasakan memang semua merasakan kedekatan dengan emak. Yang anak2 sekolah SD itu seperti frend juga dengan emak, tidak ada rasa takut atau harus gimana dengan emak. Ya like a frend gitu... Akrab. Apalagi dengan kita2 yang ibu2 ini. Itulah kenapa kehilangan ini sangat luar biasa. Karena saya kehilangan keakraban itu.
Beberapa minggu sebelumnya (2 minggu sebelumnya) saya memang lebih banyaki interaksi dengan emak. Emak mengajuikan rekomendasi seseorang yang sakit dan harus ditolong. Kemudian emak juga yang mengantar saya berkunjung ke rumah tetangga kantor yang terkena stroke. Itulah kenangan2 terakhir yang saya alamai bersama emak.
Emak itu... simbol kebaikan disini. Simbol kesabaran yang tak habis2 dirasakan banyak orang. Tetangganya. Teman2 ngajinya. Murid2 ngajinya. Rasanya tidak satu dua orang yang mengatakan (sedih mereka) dengan pertanyaan kenapa emak begitu cepat dipanggil. Emak di mata tetangganya sangat luar biasa pemurahnya. Bahkan tetangga belakang ada yang mengatakan bangunan rumahnya semua kayunya dari emak.
Sejujurnya saya memang sempat shock dengan kehilangan ini. Saya memang bukan termasuk yang bisa memberi kesenangan pd emak, tapi saya benar2 kehilangan. Sy masih merasakan emak ada tiap kali ke masjid utk shalat jamaah, atau saat saya berkunjung ke sekolahan. Tiap pagi emak lewat depan rumah utk jalan2. Entahlah...
Akhir yang baik insya Allah telah menemui emak. Semoga saat ini emak sedang berasyik masyuk bertemu dengan buah2 kebaikan dan keshalihannya. Smg emak saat ini sedang bercanda dengan jamuan surga dan menjadi salah satu bidadarinya di sana.
Pernah suatu ketika emak tidak setuju dengan kegiatan milad partai kami. Namun emak benar2 bisa menyalurkan aspirasinya saat tidak setuju. Tidak semua orang diberitau ketidaksetujuannya, tidak semua orang tau tentang itu. Saat diundang via SMS, emak hanya menjawab "Maap mbak, saya tidak bisa ikut acara itu. Karena di dalam Islam tidak ada istilah milad" Hanya bgitu... tidak ada upaya2 menjelekkan, menunjukkan kelemahan kami, dsb. Ya hanya tidak setuju saja dan tidak bisa ikut kegiatan milad. Benar2 tanpa ada tendensi utk menghakimi acar milad, apalagi sampe menjelek2kan kegiatan milad yang diadakan. Padahal kalo memang ada bibit utk menjelekkan, tidak sedikit orang yang kemudian dalam ketidak setujuannya memaparkan keburukan2 yang itu harusnya bisa ditahan. Luka yang dialami sendiri, lalu dikabarkan pd yang lain sehingga memnuculkan luka baru.
Kemudian, selama saya kenal emak sekitar 5th ini, saya selalu mendapati emak PENUH saat iktikaf. Benar2 penuh dalam rukunnya. Jika sedang terjaga pasti sedang tilawah. Jika tidak, maka sedang shalat. Saya saja pernah kena tegur "Iktikaf kok keluar masuk, ga tenanan" Maap ya makkk...
Akhirnya, emak.... selamat berbahagia ya
aku yakin emak sekarang sedang berbahagia dengan kehidupan emak sekarang.
emak hidup dalam jiwaku dan jiwa orang2 yang mengenal emak, insya allah
kebaikanmu yang membuat kami merasa kehilangan
entah apakah kami akan memiliki emak sepertimu lagi makk...
Ya Allah, tempatkan emak dalam tempat terindahMu
Karna emak layak mendapatkannya insya Allah
Semoga semua dpt mengambil teladan kebaikan ini.
Semangadd !!
Semua orang memanggilnya EMAK. Mak Tar namanya.
Semua memanggilnya demikian, sejak anak baby smart sampai ibu2 bapak2 bahkan kakek2 jamaah masjid. Semua memanggilnya sama : EMAK. Sehingga kadang guyonan saya dan kawan2, emak ini kayaknya ga bakal jadi mbah2 deh, soalnya semua selalu memanggilnya emak. Dan dari semua yang memanggil demikian, saya sangat merasakan memang semua merasakan kedekatan dengan emak. Yang anak2 sekolah SD itu seperti frend juga dengan emak, tidak ada rasa takut atau harus gimana dengan emak. Ya like a frend gitu... Akrab. Apalagi dengan kita2 yang ibu2 ini. Itulah kenapa kehilangan ini sangat luar biasa. Karena saya kehilangan keakraban itu.
Beberapa minggu sebelumnya (2 minggu sebelumnya) saya memang lebih banyaki interaksi dengan emak. Emak mengajuikan rekomendasi seseorang yang sakit dan harus ditolong. Kemudian emak juga yang mengantar saya berkunjung ke rumah tetangga kantor yang terkena stroke. Itulah kenangan2 terakhir yang saya alamai bersama emak.
Emak itu... simbol kebaikan disini. Simbol kesabaran yang tak habis2 dirasakan banyak orang. Tetangganya. Teman2 ngajinya. Murid2 ngajinya. Rasanya tidak satu dua orang yang mengatakan (sedih mereka) dengan pertanyaan kenapa emak begitu cepat dipanggil. Emak di mata tetangganya sangat luar biasa pemurahnya. Bahkan tetangga belakang ada yang mengatakan bangunan rumahnya semua kayunya dari emak.
Sejujurnya saya memang sempat shock dengan kehilangan ini. Saya memang bukan termasuk yang bisa memberi kesenangan pd emak, tapi saya benar2 kehilangan. Sy masih merasakan emak ada tiap kali ke masjid utk shalat jamaah, atau saat saya berkunjung ke sekolahan. Tiap pagi emak lewat depan rumah utk jalan2. Entahlah...
Akhir yang baik insya Allah telah menemui emak. Semoga saat ini emak sedang berasyik masyuk bertemu dengan buah2 kebaikan dan keshalihannya. Smg emak saat ini sedang bercanda dengan jamuan surga dan menjadi salah satu bidadarinya di sana.
Pernah suatu ketika emak tidak setuju dengan kegiatan milad partai kami. Namun emak benar2 bisa menyalurkan aspirasinya saat tidak setuju. Tidak semua orang diberitau ketidaksetujuannya, tidak semua orang tau tentang itu. Saat diundang via SMS, emak hanya menjawab "Maap mbak, saya tidak bisa ikut acara itu. Karena di dalam Islam tidak ada istilah milad" Hanya bgitu... tidak ada upaya2 menjelekkan, menunjukkan kelemahan kami, dsb. Ya hanya tidak setuju saja dan tidak bisa ikut kegiatan milad. Benar2 tanpa ada tendensi utk menghakimi acar milad, apalagi sampe menjelek2kan kegiatan milad yang diadakan. Padahal kalo memang ada bibit utk menjelekkan, tidak sedikit orang yang kemudian dalam ketidak setujuannya memaparkan keburukan2 yang itu harusnya bisa ditahan. Luka yang dialami sendiri, lalu dikabarkan pd yang lain sehingga memnuculkan luka baru.
Kemudian, selama saya kenal emak sekitar 5th ini, saya selalu mendapati emak PENUH saat iktikaf. Benar2 penuh dalam rukunnya. Jika sedang terjaga pasti sedang tilawah. Jika tidak, maka sedang shalat. Saya saja pernah kena tegur "Iktikaf kok keluar masuk, ga tenanan" Maap ya makkk...
Akhirnya, emak.... selamat berbahagia ya
aku yakin emak sekarang sedang berbahagia dengan kehidupan emak sekarang.
emak hidup dalam jiwaku dan jiwa orang2 yang mengenal emak, insya allah
kebaikanmu yang membuat kami merasa kehilangan
entah apakah kami akan memiliki emak sepertimu lagi makk...
Ya Allah, tempatkan emak dalam tempat terindahMu
Karna emak layak mendapatkannya insya Allah
Semoga semua dpt mengambil teladan kebaikan ini.
Semangadd !!
Kamis, 24 Mei 2012
Nin dan Sekolahnya
Sejujurnya saya memang sangat terbantu dengan adanya Baby Smart tempat dimana Nin kini saya percayakan utk dididik. Dan memang saya sangat percaya dengan yg diajarkan di sana. Karna kata beberapa buku, kunci dari keberhasilan anak didik itu juga terletak pd kepercayaan orang tua pd lembaga pendidikan tersebut. Meskipun sekolah memang bukan satu2nya tempat terbaik utk mendidik anak2 kita. Sekolah -seperti kata salah seorang ustadzah tempat Nin belajar- adalah alat bantu utk orang tua mendidik anaknya dengan harga murah. Dan saya sendiri kini menghitung bahwa dengan 150rb per bulan, kini saya mendapati Nin -yg baru 3bulan ini- sekolah di sana bisa macam2. Dia tau bagaimana harus minum sambil duduk, dia berdoa bismillah setiap mau apa saja. Nin tau kudu salam tiap keluar dan masuk rumah, bahkan saking senengnya salam, keluar dari kamar mandi dia teriak "Ayaya Tum" soalnya mungkin dia berpikir pokoknya nglewati pintu dia akan salam. hihihih. Dia kini bisa berhitung, mengenal banyak hewan, bisa mengajak saya bicara dg bahasanya. Bla bla bla... So far, saya bahagia dan merasa sangat terbantu dengan sekolah Nin.
Ini mungkin saya bicara begini karna saya memang pekerja dan abina juga tidak di rumah. Jadi -maafkan Nda, nak- saya memilih utk menjagakan anak saya pada sekolah yg saya percaya. Bagaimanapun saya bertanggung jawab pd perkembangan pikiran dan akhlak Nin. Kata ibu saya dulu kenapa ga nyewa orang saja. Aihh... saya ga kepikiran gitu je. Nyewa orang dengan harga lebih mahal tapi mungkin tidak dibarengi kegiatan belajar. Bisa jadi malah si penjaganya galak, suka nyubit, sering denga arus rkan lagu2 atau tayangan2 tipi, suka nyuapi dengan memaksa (kalo ga mau makan dimarah2i dan dicubit). Ah endaklah, ini anak saya yg saya doakan jadi anak shalihah, abdi agama, ahli ilmu, juru kesehatan dan memberikan manfaat besar pd bumi ini. Masa' saya doanya sebesar itu tp malah melakukan langkah sebaliknya...?? Enggak banged kan?
So begitulah kini. Saya menemukan kenyataan bahwa saya butuh sekolah utk membantu Nin berkembang lebih baik. Nin butuh komnunitas kebaikan di luar rumahnya. Nin harus selalu dijaga dari keburukan2 lingkungannya sebisa mungkin. Nin harus tau tentang doa dan shalat sejak dia belum bisa melakukannya sendiri. Kini bi idznillah -saya selalu terharu dengan semua ini- Nin selalu narik2 saya setiap adzan tiba "Ndaaaa... udu udu" Lalu dia dengan air segayung akan mencelupkan tangan kecilnya dan membasuhkannya pada dua pipinya dan kemudian rambutnya, tangannya juga. Lalu dia bilang "Tatik nda, tatik" Kakinya disiram dg air dan kemudian dia tersenyum bilang "Udahh... udu"
Namun mungkin semua ini tidak berlaku pada keluarga yg melepaskan total anaknya pd sekolah. Keluarga tetaplah arus utama akhlaknya. Di rumah saya tetap menjalankan profesi saya sebagai bunda ustadzahnya. Saya tetap nyanyi2, ngajak Nin berhitung, mengaji, shalat dsb. Saya selalu katakan pd abina, sekolah itu alat bantu kita Nda, kitalah yg tetap paling berperan mendidik anak2 kita.
Karna saya ingin anak2 memberi menfaat seluas2nya utk bumi ini. Saya sering sekali katakan pd Nin, nanti Nin harus ke Gaza jadi perawat ya. Kapan waktu saya katakan, Nin juga bisa jadi ahli bulan (karna dia suka banged dg bulan dan bintang). Kapan waktu saya katakan, Nin belajar biar nanti bisa ngobatin orang sakit (waktu itu bapak saya lagi sakit). Saya sama sekali tidak bermaksud mengintervensi cita2nya, tapi saya ingin mengenalkan Nin pd cita2 besar. Dan saya sendiri minder dengan kemampuan saya mendidik di rumah saja jika saya bermimpi menjadikan Nin dan adek2ny kelak sebagai ahli ilmu yg akan mengelilingi Timur Tengah, yg kelak akan menjadi relawan kesehatan -bi idznillah- di Palestine sana, yg kelak saya cita2kan salah satu anak saya ada yg bergelar hafidz/hafidzah, yang selalu saya tuliskan dan doakan anak2 saya akan meninggikan dakwah dan nama Allah, menjadi prajurit2 gagahNya. Allahu Ahadd... Nikmat yg manakah yg bisa kami dustakann...??
Dan sekali lagi saya katakan, saya minder dan rendah diri dengan kemampuan saya mendidik Nin dan anak2 saya yg lain dengan sukses tanpa bantuan tangan2 shalih lain di luar keluarga saya. I mean, saya memang membutuhkan sekolah atau apapun namanya utk membantu saya mendidik anak2 saya. Karna saya tidak tau dimana kelak mereka akan hidup dg cita2 dan impian2nya. Saya juga tidak selalu bisa mengawasi perilaku anak2 saya di luar rumah. Saya juga tidak selalu bisa membuat orang lain suka dengan perilaku anak2 saya yg kadang mungkin dikatakan nakal, dsb. Nah, saya pikir sekolah dengan segenap kelemahan dan kelebihannya yg akan melengkapi usaha saya mendidik anak2.
Saya selalu katakan pd sinda, kita harus bekerja keras utk anak2 kita yg lebih baik. Jangan wariskan hal2 buruk (sebisa mungkin), hal2 yg membuat kita "sengsara". Dan saya pikir, kalo bukan utk anak2 kita ini mau kerja keras utk siapa lagi? Bahkan jika dibilang utk kebaikan dakwah ini, maka saya katakan juga anak2 juga harus mencintai dakwah ini dan kita juga yg harus mengenalkan dakwah ini.
Begitulah... Hari ini Nin hampir genap 4 bulan di Baby Smart-nya. Saya sudah memetik hasil2nya dengan bahagia. Saya bangga karna di usianya yg 20 bulan ini, saya menemukan kecerdasan2 dan keshalihannya. Dan ini adalah berkat kerja sama yg baik antara Nin, ustadzah2nya dan tentu saja keluarganya. Bukan begitu??
Terima kasih utk semua ustadzah Nin di Baby Smart Nurul Islam....
Smg Allah menganugrahkan surga yg luas untuk semua kerja keras dan waktu yg diberikan utk mendidik Nin. Allah pasti menyayangi kalian semua... Insya Allah.
Ini mungkin saya bicara begini karna saya memang pekerja dan abina juga tidak di rumah. Jadi -maafkan Nda, nak- saya memilih utk menjagakan anak saya pada sekolah yg saya percaya. Bagaimanapun saya bertanggung jawab pd perkembangan pikiran dan akhlak Nin. Kata ibu saya dulu kenapa ga nyewa orang saja. Aihh... saya ga kepikiran gitu je. Nyewa orang dengan harga lebih mahal tapi mungkin tidak dibarengi kegiatan belajar. Bisa jadi malah si penjaganya galak, suka nyubit, sering denga arus rkan lagu2 atau tayangan2 tipi, suka nyuapi dengan memaksa (kalo ga mau makan dimarah2i dan dicubit). Ah endaklah, ini anak saya yg saya doakan jadi anak shalihah, abdi agama, ahli ilmu, juru kesehatan dan memberikan manfaat besar pd bumi ini. Masa' saya doanya sebesar itu tp malah melakukan langkah sebaliknya...?? Enggak banged kan?
So begitulah kini. Saya menemukan kenyataan bahwa saya butuh sekolah utk membantu Nin berkembang lebih baik. Nin butuh komnunitas kebaikan di luar rumahnya. Nin harus selalu dijaga dari keburukan2 lingkungannya sebisa mungkin. Nin harus tau tentang doa dan shalat sejak dia belum bisa melakukannya sendiri. Kini bi idznillah -saya selalu terharu dengan semua ini- Nin selalu narik2 saya setiap adzan tiba "Ndaaaa... udu udu" Lalu dia dengan air segayung akan mencelupkan tangan kecilnya dan membasuhkannya pada dua pipinya dan kemudian rambutnya, tangannya juga. Lalu dia bilang "Tatik nda, tatik" Kakinya disiram dg air dan kemudian dia tersenyum bilang "Udahh... udu"
Namun mungkin semua ini tidak berlaku pada keluarga yg melepaskan total anaknya pd sekolah. Keluarga tetaplah arus utama akhlaknya. Di rumah saya tetap menjalankan profesi saya sebagai bunda ustadzahnya. Saya tetap nyanyi2, ngajak Nin berhitung, mengaji, shalat dsb. Saya selalu katakan pd abina, sekolah itu alat bantu kita Nda, kitalah yg tetap paling berperan mendidik anak2 kita.
Karna saya ingin anak2 memberi menfaat seluas2nya utk bumi ini. Saya sering sekali katakan pd Nin, nanti Nin harus ke Gaza jadi perawat ya. Kapan waktu saya katakan, Nin juga bisa jadi ahli bulan (karna dia suka banged dg bulan dan bintang). Kapan waktu saya katakan, Nin belajar biar nanti bisa ngobatin orang sakit (waktu itu bapak saya lagi sakit). Saya sama sekali tidak bermaksud mengintervensi cita2nya, tapi saya ingin mengenalkan Nin pd cita2 besar. Dan saya sendiri minder dengan kemampuan saya mendidik di rumah saja jika saya bermimpi menjadikan Nin dan adek2ny kelak sebagai ahli ilmu yg akan mengelilingi Timur Tengah, yg kelak akan menjadi relawan kesehatan -bi idznillah- di Palestine sana, yg kelak saya cita2kan salah satu anak saya ada yg bergelar hafidz/hafidzah, yang selalu saya tuliskan dan doakan anak2 saya akan meninggikan dakwah dan nama Allah, menjadi prajurit2 gagahNya. Allahu Ahadd... Nikmat yg manakah yg bisa kami dustakann...??
Dan sekali lagi saya katakan, saya minder dan rendah diri dengan kemampuan saya mendidik Nin dan anak2 saya yg lain dengan sukses tanpa bantuan tangan2 shalih lain di luar keluarga saya. I mean, saya memang membutuhkan sekolah atau apapun namanya utk membantu saya mendidik anak2 saya. Karna saya tidak tau dimana kelak mereka akan hidup dg cita2 dan impian2nya. Saya juga tidak selalu bisa mengawasi perilaku anak2 saya di luar rumah. Saya juga tidak selalu bisa membuat orang lain suka dengan perilaku anak2 saya yg kadang mungkin dikatakan nakal, dsb. Nah, saya pikir sekolah dengan segenap kelemahan dan kelebihannya yg akan melengkapi usaha saya mendidik anak2.
Saya selalu katakan pd sinda, kita harus bekerja keras utk anak2 kita yg lebih baik. Jangan wariskan hal2 buruk (sebisa mungkin), hal2 yg membuat kita "sengsara". Dan saya pikir, kalo bukan utk anak2 kita ini mau kerja keras utk siapa lagi? Bahkan jika dibilang utk kebaikan dakwah ini, maka saya katakan juga anak2 juga harus mencintai dakwah ini dan kita juga yg harus mengenalkan dakwah ini.
Begitulah... Hari ini Nin hampir genap 4 bulan di Baby Smart-nya. Saya sudah memetik hasil2nya dengan bahagia. Saya bangga karna di usianya yg 20 bulan ini, saya menemukan kecerdasan2 dan keshalihannya. Dan ini adalah berkat kerja sama yg baik antara Nin, ustadzah2nya dan tentu saja keluarganya. Bukan begitu??
Terima kasih utk semua ustadzah Nin di Baby Smart Nurul Islam....
Smg Allah menganugrahkan surga yg luas untuk semua kerja keras dan waktu yg diberikan utk mendidik Nin. Allah pasti menyayangi kalian semua... Insya Allah.
Rabu, 23 Mei 2012
Kali ini rasanya benar2 beda dengan saat ada Nin dalam rahim saya dulu. ENtahlah, tapi saya sangat menikmatinya. Sangat2 menikmati tiap kejutan2 yg dihadirkannya. Bukan bermaksud membanding2kan, tapi saya mungkin sedang ingin mematahkan anggapan tentang keseragaman rasa saat hamil seperti yang dikatakan orang2 di luar sana. Banyak yg bilang kalo hamil awalnya sudah teler, maka berapapun anaknya juga akan teler saat hamil. Dan sebaliknya. Atau kalo anak pertama saja sudah gedhe, maka anak kedua pasti lebih gedhe dan seterusnya. Enggaklah, saya ga percaya *senyum mringis* Itu tergantung amal dan perbuatan saja kok hahaha
Hamil saya yg kali ini bener2 unik. Sy rasa juga tidak terlalu berat, meskipun kini kadang tiba2 diserang pusing, mual tapi alhamd ga sampe memuntahkan makanan2 yg sudah masuk. Doa saya begini "Ya Allah, saya mau mual tapi perkenankan ga sampe muntah ya. Sayang sama makanannya, kan makanan ga boleh dibuang2" Gitulah... Kan saya nego dengan doa ini sama Allah. Alhamd kini saya diberi kesempatan merasakan pusing, tiba2 lemes, tiba2 pandangan gelap, mual2 ga karuan dan bi idznillah ga sampae muntah2 ga karuan kayak cerita teman2 yg lagi pregnant.
Ada lagi dan mungkin ini agak malu2in. Saya paling seneng makan di tempat orang. Maksudna gini, kalo dirumah maleeesss banged makan *padahal saya sudah masak dg sepenuh hati lho* ntar saya ajak abina jalan2 dan mampir rumah temen. Di sana saya bisa makan dg lahap, bahkan nambah2. Mangkanya kalo lagi datang malas makannya, saya SMS langsung "Mbak, masak apa? aku numpang yaa" Hahaha Tapi tenang saja, saat ini tumpangan makan saya baru di satu tempat itu kok, siap2 saja kalo saya mampir makan ya hihihi.
Selama 3 bulan kehamilan ini, saya bener2 maniak sama salak dan jus2 buah yg kecut2. Biasanya tiap pagi saya SMS abina "Nda, jus mangga ga pake susu, gulanya dikiit saja. Lagi datang mualna" Kalo beli salak bisa langsung kandas sekali beli. Entahlah betapa hebatnya Allah menyetting semua ini sangat sempurna. Saat biasanya salak itu tidak ramah di perutku kalo dalam keadaan normal, eh tiba2 sekarang saya bisa makan salak 1kilo tanpa efek apapun. Bener2 tanpa efek!
Sebenarnya napsu makan saya ga turun2 amat, tetep kayak biasanya. Cuman ya kadang tiba2 malas utk menyendok. Malas utk megang sendok dan makan sendiri. Alhamduliillah sinda ki orang super telaten ngramut saya, sampe kehamilan jalan 3bulan ini, saya juga tidak pernah makan sendiri. Sinda selalu full nyuapi pagi, siang, malam. Kecuali pas lagi makan di luar atau lagi pisah tempat. Soalnya kalo di rumah dan saya tau ada sinda di rumah, mau makan saja malas. Megang sendok lho rasanya ga kuat. hahaha. Tapi sejak awal saya sudah bilang ke sinda "Nda, aku rasanya males bgt makan dewe. Kalo ga disuapi ya mungkin aku ga makan. So, its your time to suapi me. hahaha" *Thanks a lot nda, smg ada surga luas untukmu atas sayangmu padaku*
Yah begitulah kini saya menikmati hamil ini. Dulu pas hamil Nin saya bener2 tidak merasakan apapun. Ga ada lemes2nya, mual2nya. Makanan apa saja masuk. Bayangkan berat saya sampe naek 21kg. Aihh... kebayang kayak tong besar kan?
Tapi sekali lagi dan berulang kali saya akan katakan, saya sangat menikmati keadaan saya begini. Pas mual2 sangat saya katakan pada si adek "Dek... yg kuat ya. Hayo yg pinter" Pikiran saya satu, saya harus kuat dan makan yg banyak biar makin kuat. Toh, saya memang tdk boleh egois hanya mikir saya sendiri yg malas makan, mual dan sebaginya itu. Sudah ada ttitipan besar di rahim saya, masa' saya cuman gitu2 saja kekuatannya? Alhamdulillah Nin juga pinter banged, kalo pas liat saya baring dia usap2 perut sambil bilang "Adek... adek... At yaa" Soalna saya ngajari Nin bilang gitu kalo lg santai2. Kalo dia mimik, saya bilang "Adekk... berbagi mimik saya Mbak Nin yaa" Nanti Nin senyum2 sendiri kalo saya gitukan.
Begitulah, entah bagaimana saya ungkapkan kebahagiaan ini. Alhamdulillah utk semua ini, ya Allah. Kebiasaan lama saat hamil Nin yg saya hentikan adalah meminum susu ibu hamil. Wong asline saya ga suka susu, cuman dulu saja kena euforia orang hamil jadi gaya2an minum susu bumil. Sekarang sudah tau ilmunya, ya mending uang utk susu buat beli yg lain. Better kan?
So, utk ibu hamil di seluruh dunia, yuk ah nikmati semua perjalanan indah ini. Sudah jangan dirasakan mual2 muntahnya, komunikasikan sama Allah utk menguatkan kita. Jangan malas makan apapun yg baik utk tubuh. Makan saja demi anak yg di dalam rahim itu. Manja boleh, tapi tetap kudu banyak makan apalagi utk awal kehamilan. Carilah sejuta cara biar makanan bisa masuk ke perut. Yakinlah kalo kita sungguh2, maka Allah juga akan membantu kesungguhan kiita menjaga anak kita. Satu lagi, jangan lupa selalu didoakan. Didengarkan yg baik2. Dulu pas hamil Nin saya selalu memutar murottal ar Rahman dan lagu Gaza Izzatul Islam. Percaya atau tidak, pas bayi selama belum ada murotal ar Rahman dll Nin juga ga tidur2. Dan sampe sekarang Nin apal dengan lagu Gaza (hapal gaya takbir dan gaya hentakan2 lagunya maksudna, Nin kan belum bicara dg lancar) Jadi kalo lagi buka laptop dia akan bilang "Aca aca Abbann" Gaza... Gaza Allahu Akbar! Yah... ini adalah upaya saya untuk mengenalkan Nin pd kebaikan2 yg banyak sekali macamnya, kebaikan yg ada diantara banyak sekali kejahilan di sekitarnya kan? Bukankah kalo anak tidak di blow up dg kebaikan di rumah, maka dia akan sangat mudah terbawa arus di luar?
Yuk ah semangat ibu2 hamil!
Hamil itu adalah saat menjadi wanita paling bahagia dan paling SEXI di dunia, insya Allah :P :D
Hamil saya yg kali ini bener2 unik. Sy rasa juga tidak terlalu berat, meskipun kini kadang tiba2 diserang pusing, mual tapi alhamd ga sampe memuntahkan makanan2 yg sudah masuk. Doa saya begini "Ya Allah, saya mau mual tapi perkenankan ga sampe muntah ya. Sayang sama makanannya, kan makanan ga boleh dibuang2" Gitulah... Kan saya nego dengan doa ini sama Allah. Alhamd kini saya diberi kesempatan merasakan pusing, tiba2 lemes, tiba2 pandangan gelap, mual2 ga karuan dan bi idznillah ga sampae muntah2 ga karuan kayak cerita teman2 yg lagi pregnant.
Ada lagi dan mungkin ini agak malu2in. Saya paling seneng makan di tempat orang. Maksudna gini, kalo dirumah maleeesss banged makan *padahal saya sudah masak dg sepenuh hati lho* ntar saya ajak abina jalan2 dan mampir rumah temen. Di sana saya bisa makan dg lahap, bahkan nambah2. Mangkanya kalo lagi datang malas makannya, saya SMS langsung "Mbak, masak apa? aku numpang yaa" Hahaha Tapi tenang saja, saat ini tumpangan makan saya baru di satu tempat itu kok, siap2 saja kalo saya mampir makan ya hihihi.
Selama 3 bulan kehamilan ini, saya bener2 maniak sama salak dan jus2 buah yg kecut2. Biasanya tiap pagi saya SMS abina "Nda, jus mangga ga pake susu, gulanya dikiit saja. Lagi datang mualna" Kalo beli salak bisa langsung kandas sekali beli. Entahlah betapa hebatnya Allah menyetting semua ini sangat sempurna. Saat biasanya salak itu tidak ramah di perutku kalo dalam keadaan normal, eh tiba2 sekarang saya bisa makan salak 1kilo tanpa efek apapun. Bener2 tanpa efek!
Sebenarnya napsu makan saya ga turun2 amat, tetep kayak biasanya. Cuman ya kadang tiba2 malas utk menyendok. Malas utk megang sendok dan makan sendiri. Alhamduliillah sinda ki orang super telaten ngramut saya, sampe kehamilan jalan 3bulan ini, saya juga tidak pernah makan sendiri. Sinda selalu full nyuapi pagi, siang, malam. Kecuali pas lagi makan di luar atau lagi pisah tempat. Soalnya kalo di rumah dan saya tau ada sinda di rumah, mau makan saja malas. Megang sendok lho rasanya ga kuat. hahaha. Tapi sejak awal saya sudah bilang ke sinda "Nda, aku rasanya males bgt makan dewe. Kalo ga disuapi ya mungkin aku ga makan. So, its your time to suapi me. hahaha" *Thanks a lot nda, smg ada surga luas untukmu atas sayangmu padaku*
Tapi sekali lagi dan berulang kali saya akan katakan, saya sangat menikmati keadaan saya begini. Pas mual2 sangat saya katakan pada si adek "Dek... yg kuat ya. Hayo yg pinter" Pikiran saya satu, saya harus kuat dan makan yg banyak biar makin kuat. Toh, saya memang tdk boleh egois hanya mikir saya sendiri yg malas makan, mual dan sebaginya itu. Sudah ada ttitipan besar di rahim saya, masa' saya cuman gitu2 saja kekuatannya? Alhamdulillah Nin juga pinter banged, kalo pas liat saya baring dia usap2 perut sambil bilang "Adek... adek... At yaa" Soalna saya ngajari Nin bilang gitu kalo lg santai2. Kalo dia mimik, saya bilang "Adekk... berbagi mimik saya Mbak Nin yaa" Nanti Nin senyum2 sendiri kalo saya gitukan.
Begitulah, entah bagaimana saya ungkapkan kebahagiaan ini. Alhamdulillah utk semua ini, ya Allah. Kebiasaan lama saat hamil Nin yg saya hentikan adalah meminum susu ibu hamil. Wong asline saya ga suka susu, cuman dulu saja kena euforia orang hamil jadi gaya2an minum susu bumil. Sekarang sudah tau ilmunya, ya mending uang utk susu buat beli yg lain. Better kan?
So, utk ibu hamil di seluruh dunia, yuk ah nikmati semua perjalanan indah ini. Sudah jangan dirasakan mual2 muntahnya, komunikasikan sama Allah utk menguatkan kita. Jangan malas makan apapun yg baik utk tubuh. Makan saja demi anak yg di dalam rahim itu. Manja boleh, tapi tetap kudu banyak makan apalagi utk awal kehamilan. Carilah sejuta cara biar makanan bisa masuk ke perut. Yakinlah kalo kita sungguh2, maka Allah juga akan membantu kesungguhan kiita menjaga anak kita. Satu lagi, jangan lupa selalu didoakan. Didengarkan yg baik2. Dulu pas hamil Nin saya selalu memutar murottal ar Rahman dan lagu Gaza Izzatul Islam. Percaya atau tidak, pas bayi selama belum ada murotal ar Rahman dll Nin juga ga tidur2. Dan sampe sekarang Nin apal dengan lagu Gaza (hapal gaya takbir dan gaya hentakan2 lagunya maksudna, Nin kan belum bicara dg lancar) Jadi kalo lagi buka laptop dia akan bilang "Aca aca Abbann" Gaza... Gaza Allahu Akbar! Yah... ini adalah upaya saya untuk mengenalkan Nin pd kebaikan2 yg banyak sekali macamnya, kebaikan yg ada diantara banyak sekali kejahilan di sekitarnya kan? Bukankah kalo anak tidak di blow up dg kebaikan di rumah, maka dia akan sangat mudah terbawa arus di luar?
Yuk ah semangat ibu2 hamil!
Hamil itu adalah saat menjadi wanita paling bahagia dan paling SEXI di dunia, insya Allah :P :D
Selasa, 22 Mei 2012
Upaya-Upaya Cinta
Pagi hari adalah waktu yang paling menggembirakan bagi saya, abina dan tentu saja dengan Nin. Biasanya Nin bangun dan langsung meluk2 saya atau abina minta gendong dan kemudian selalu diingetkan "Hayoo doa dulu" dan dia dengan mata polosnya hanya diam ndengerin kami mbaca doa bangun tidur.
Lalu setelah itu dia akan ngglibet dengan sy atau dengan abina (mau sama siapa lagi wong memang cm ada dua orang ini di dekatnya hahaha) dan saya langsung "KLIK" nyetel tivi dan pasti di satu channel. Wisata Hati Yusuf Mansyur. Tiap pagi saya dan abina bisa dipastikan menikmati kajian ini. Yahh... itung2 membuka hari dengan hal baik kan? Toh tiap kali kalimat2 ust Yusuf yg baik kemudian bisa jadi bahan "olok2an" penyemangat. Kalo biasanya kami ingin sesuatu trus kok keinginannya ga kecapai2 ntar bisa dibuat olok2an "Paling kita mintanya belum serius, kita kurang infaqnya, atau mungkin kita ini masih dipandang belum serius sama Allah" Ya gitu2 olok2an saya dan abina. Terkadang seperti menjelang panen ayam, andai hasil ga signifikan saya juga ngolok lagi "Lha sudah didoani belum? Lupa didoakan kali' ayam2nya"
Ya begitulah cara kami mengupayakan cinta itu biar segar mulanya di pagi hari. Soalnya kalo kesiangan dikit saja memulai hari (sampe ga liat yusuf mansyur misalnya) rasanya siangnya pun rada2 panas suasananya. Mangkanya... Syukuuuurrr bgt alhamdulillah atas nikmat Allah menakdirkan saya hidup di area Kediri sini. Ga kebayang kalo saya hidup di Jakarta sana, masih subuh sudah harus berkutat kejar2an dnegan waktu biar ge disapa macet. Pernah saya di kawasan Depok, jam 6 pagi kendaraan sudah ampun2an ramenya. Saya siy agak kaget saja, ini kalo di Kediri saya masih asyik2an ngobrol di rumah sambil nonton brita olahraga. Padahal pulangnya juga sudah sore ntar ttp macet... Ah, ga kebayang gimana kalo di sana jadi pegawai kantoran yg kudu masuk jam 7.30 trus pulang jam 16.30. Waktu habis di jalan saja berapa jam, panas, ninggalin anak istri/suami. Waktu berkwalitas habis di jalan. Kecuali pengusaha lho ya.... pengusaha kan ga punya jam kantor. Mau kerja kapan saja ya terserah dia, schedule dia yg buat. Nah, kalo kantoran? Alamakkk... Mungkin saya akan sangat rindu utk sering2 dipeluk hahaha Saya kan paling suka dipeluk sesering mungkin, lha kalo jam 6 pagi sudah berangkat ketemu lagi isya' sudah capek, mau melakukan ibadah cinta juga sudah sisa2 tenaga. Mangkanya saya sering bgt bilang ke abina, alhmad kita di sini ya. Kapan hari pas di Sby saja rasanya ampunn...
Kalo dirumah, pagi hari selalu ada aktifitas blanja pagi dengan Nin lalu makan kue bareng dengan abina. Nin yg bagi2 kue. Cukup dengan dua ribu perak sudah bisa makan bareng sambil ngobrol. Lalu saya potong2 masakan utk sarapan bareng dan bekal Nin nanti. Simple kan? Permasalahannya mungkin kadang belum terbiasa saja. Kalo anaknya banyak ya bisa disiasati waktunya biar tetep bisa masak dan sarapan bersama. Paling tidak di pagi hari itu sediakan waktu khusus utk menikmati pagi. Jangan cuma say hello, cium kening dan pipi anak istri, langsung mandi dan pergi (utk suami2 pekerja lho yaa) Sediakan waktu lima menit saja buat ngobrol ngeteh. Kecuali suami2nya ga keikat jadwal kerja lho ya... Efeknya luar biasa lho, banyak yg bisa diobrolin sambil santai. Bisa jadi hal2 berat jd ringan dibicarakan saat pagi2 segar gini. Ngobrol saja sembarang. Bola, teman, cerita ngawur, nirukan suara2 hewan, nyritakan OVJ, nyritakan transformer, nyanyi2 bla bla bla... Apa saja bisa lah hihihi
Terkadang mungkin utk beberapa orang upaya cinta ini sudah tidak penting lagi, apalagi kalo usianya sudah tua anak sudah banyak. Ntar paling bilang mikir makan saja sudah pusing kok disuruh mikir cinta2 lagi. Pusiing...
Tidaklah, jangan gitu... Kasian kalo mengorbankan diri utk tidak mengupayakan cinta. Bahkan rasul saja terus mengupayakan utk tetap dan terus mencintai Khadijah bahkan saat Khadijah sudah wafat. Ingat kan gmana Rasul dnegan tegas mengatakan pd Aisyah tentang posisi Khadijah yg mulia dan tak tergantikan? Apalagi kita yg hidupnya di jaman ga karu2an gini ya. Yg ustadz/ustadzah saja, panutan keagamaan saja terkadang tiba2 meberitakan berita besar : berpisah. Klise saja kalo alasannya beda prinsip, nurut saya yg bener mereka tdk mengupayakan cinta mereka biar tetap dlm harmony. Allah itu kan maha mengejutkan, nah kalo kita tidak punya kuda2 bagus pasti akan terkejut sangat bahkan mungkin terjengkang dg kejutan2 Allah.
So, teman2... yuk jaga upayakan cinta kita tetap menyemi. Cinta utk suami, anak2, dakwah ini, keluarga kita, cita2 besar kita, dan impian2 kita. Jika cinta dakwah ini pun tidak diupayakan, alangkah berat beban kerja yg harus kita tanggung. Jika cinta suami tdk kita upayakan, sayang sekali jika suami kita tdk menjadi sosok2 membanggakan utk kita. Jika cinta anak juga tidak diupayakan, maka mungkin kita sering kali tdk sadar telah menyakiti hati anak2 kita.
Kalo bukan kita, siapa lagi?
Cinta kamu, Nda! Sayang kamu, Nin Aisyah!
Lalu setelah itu dia akan ngglibet dengan sy atau dengan abina (mau sama siapa lagi wong memang cm ada dua orang ini di dekatnya hahaha) dan saya langsung "KLIK" nyetel tivi dan pasti di satu channel. Wisata Hati Yusuf Mansyur. Tiap pagi saya dan abina bisa dipastikan menikmati kajian ini. Yahh... itung2 membuka hari dengan hal baik kan? Toh tiap kali kalimat2 ust Yusuf yg baik kemudian bisa jadi bahan "olok2an" penyemangat. Kalo biasanya kami ingin sesuatu trus kok keinginannya ga kecapai2 ntar bisa dibuat olok2an "Paling kita mintanya belum serius, kita kurang infaqnya, atau mungkin kita ini masih dipandang belum serius sama Allah" Ya gitu2 olok2an saya dan abina. Terkadang seperti menjelang panen ayam, andai hasil ga signifikan saya juga ngolok lagi "Lha sudah didoani belum? Lupa didoakan kali' ayam2nya"
Ya begitulah cara kami mengupayakan cinta itu biar segar mulanya di pagi hari. Soalnya kalo kesiangan dikit saja memulai hari (sampe ga liat yusuf mansyur misalnya) rasanya siangnya pun rada2 panas suasananya. Mangkanya... Syukuuuurrr bgt alhamdulillah atas nikmat Allah menakdirkan saya hidup di area Kediri sini. Ga kebayang kalo saya hidup di Jakarta sana, masih subuh sudah harus berkutat kejar2an dnegan waktu biar ge disapa macet. Pernah saya di kawasan Depok, jam 6 pagi kendaraan sudah ampun2an ramenya. Saya siy agak kaget saja, ini kalo di Kediri saya masih asyik2an ngobrol di rumah sambil nonton brita olahraga. Padahal pulangnya juga sudah sore ntar ttp macet... Ah, ga kebayang gimana kalo di sana jadi pegawai kantoran yg kudu masuk jam 7.30 trus pulang jam 16.30. Waktu habis di jalan saja berapa jam, panas, ninggalin anak istri/suami. Waktu berkwalitas habis di jalan. Kecuali pengusaha lho ya.... pengusaha kan ga punya jam kantor. Mau kerja kapan saja ya terserah dia, schedule dia yg buat. Nah, kalo kantoran? Alamakkk... Mungkin saya akan sangat rindu utk sering2 dipeluk hahaha Saya kan paling suka dipeluk sesering mungkin, lha kalo jam 6 pagi sudah berangkat ketemu lagi isya' sudah capek, mau melakukan ibadah cinta juga sudah sisa2 tenaga. Mangkanya saya sering bgt bilang ke abina, alhmad kita di sini ya. Kapan hari pas di Sby saja rasanya ampunn...
![]() |
| Senengna liat gaya sarapan Nin, pdhl lauk tempe hebohnya gini amat :D |
Terkadang mungkin utk beberapa orang upaya cinta ini sudah tidak penting lagi, apalagi kalo usianya sudah tua anak sudah banyak. Ntar paling bilang mikir makan saja sudah pusing kok disuruh mikir cinta2 lagi. Pusiing...
Tidaklah, jangan gitu... Kasian kalo mengorbankan diri utk tidak mengupayakan cinta. Bahkan rasul saja terus mengupayakan utk tetap dan terus mencintai Khadijah bahkan saat Khadijah sudah wafat. Ingat kan gmana Rasul dnegan tegas mengatakan pd Aisyah tentang posisi Khadijah yg mulia dan tak tergantikan? Apalagi kita yg hidupnya di jaman ga karu2an gini ya. Yg ustadz/ustadzah saja, panutan keagamaan saja terkadang tiba2 meberitakan berita besar : berpisah. Klise saja kalo alasannya beda prinsip, nurut saya yg bener mereka tdk mengupayakan cinta mereka biar tetap dlm harmony. Allah itu kan maha mengejutkan, nah kalo kita tidak punya kuda2 bagus pasti akan terkejut sangat bahkan mungkin terjengkang dg kejutan2 Allah.
So, teman2... yuk jaga upayakan cinta kita tetap menyemi. Cinta utk suami, anak2, dakwah ini, keluarga kita, cita2 besar kita, dan impian2 kita. Jika cinta dakwah ini pun tidak diupayakan, alangkah berat beban kerja yg harus kita tanggung. Jika cinta suami tdk kita upayakan, sayang sekali jika suami kita tdk menjadi sosok2 membanggakan utk kita. Jika cinta anak juga tidak diupayakan, maka mungkin kita sering kali tdk sadar telah menyakiti hati anak2 kita.
Kalo bukan kita, siapa lagi?
Cinta kamu, Nda! Sayang kamu, Nin Aisyah!
Selasa, 15 Mei 2012
Tentang Sesuatuh :D
![]() |
| Hayoooo... Jangan mencoba mengartikan gambarnya tanpa petunjuk saya ya *lebay* |
Di sini, gambar2 seperti ini saya simpan dan sering kali saya bisikkan ke Nin. Saya katakan padanya Nda ingin Nin bisa ke Alexandriya, atau nanti adek Nin juga boleh. Bahkan sejak adek Nin masih di rahim saya katakan Nda berdoa kelak kamu bs ke Alexandriya, mengelilingi timur tengah utk belajar, menikmati sore di sungai Nil. Saya katakan juga pada sinda saya pengen punya ini dan itu, saya katakan pada teman saya ingin ke sana ke sini, saya pengen ketemu akrab dengan ini dan itu. Bukan utk menyombongkan impian, tapi semoga pada setiap orang yang saya percaya utk saya ajak bicara itu, insya Allah ada doa2 tulus di sana. Jadi saya tidak bicara dengan sembanrang orang ttg semua impian saya.
Kenapa harus dirupakan gambar? Dulu saya cuma nulis aja sebenarnya, bahkan hal sekecil saya pengen punya baju model ini itu saya juga tulis. Sekarang kemajuannya, dikasih gambar. Kenapa? Biar lebih tervisualisasikan. Biar lebih kerasa nikmatnya. Bukankah kalo liat foto anak dan suami langsung itu lebih menggembirakan daripada hanya membayangkan? Nah gitu juga ini...
So, kawan2ku yg sholih dan disayang Allah,
jadilah bagian dari suksesor gambar2 impianku *hihihi*
Ini masih satu, di leptop cantikku ini masih sekian banyak lagi
Beberapa hal di atas sudah tercapai, kalo pengen tau yg belum hubungi akika ya... MMurah dehh biayanya hahaha *apah pulah inih, Ndaaaa....*
Yuk ah, semangat hidup utk lebih banyak orang dan keluarga kita!
Lop zu all....
Senin, 14 Mei 2012
Ternyata Ramadhan Sudah Dekat !!
Tinggal 65 hari lagi!
Wih wih wih... gak krasa amat ya, perasaan baru kemaren saya gendong2 Nin yg masih cengar cengir saja silaturahim lebaran. Eh sekarang sudah mau ketemu Ramadhan lagi. Masih juga anget rasanya kayak baru kemaren tarawih bareng Nin dan abina, Nin yg teriak2 mukul2 kaca masjid pas shalat. Subhanallah... Ramadhan Mubarak!!
Mumpung masih 2bulan lagi, ayuk segera siap2. Siapkan yg mau buat rencana2 Ramadhan, mau tarawih dimana saja, buka puasa dimana saja, mau i'tikaf dimana bla bla bla. Yg hartanya sudah masuk nilai zakat, ayuk segera siap2 diitung2 zakatnya. Kalo Ramadhan gini tinggal pilih saja mau nyalurin zakat dimana, mau infaq kayak apa. Tapi inget ya... zakat harus disalurkan hanya dalam bentuk UANG lho yaa... kalo infaq ya terserah kita mau bentuk kayak apa.
Smakin smangad kawan2!
alhamd Ramadhan ini dalam keadaan hamil lagi, jd bisa ngajari dedek ganteng arti lapar. Padahal sekarang sj sdah sering laper ya dek, gara2nya kudu berbagi maem sm mbak Nin. Kuatlah dekk... :*>
Yang mau gabuung dengan program Ramadhan saya dan LMI,
yuk bisa banged...
Ada voucher takjil dengan nilai HANYA 2,500 saja,
Voucher buka bersama dengan nilai 10,000
Voucher santunan yatim hanya 25,000
Percaya sama saya, surga itu "murah" harganya kalo kita mau membelinya dengan sungguh2. Cumangad !!
Wih wih wih... gak krasa amat ya, perasaan baru kemaren saya gendong2 Nin yg masih cengar cengir saja silaturahim lebaran. Eh sekarang sudah mau ketemu Ramadhan lagi. Masih juga anget rasanya kayak baru kemaren tarawih bareng Nin dan abina, Nin yg teriak2 mukul2 kaca masjid pas shalat. Subhanallah... Ramadhan Mubarak!!
Mumpung masih 2bulan lagi, ayuk segera siap2. Siapkan yg mau buat rencana2 Ramadhan, mau tarawih dimana saja, buka puasa dimana saja, mau i'tikaf dimana bla bla bla. Yg hartanya sudah masuk nilai zakat, ayuk segera siap2 diitung2 zakatnya. Kalo Ramadhan gini tinggal pilih saja mau nyalurin zakat dimana, mau infaq kayak apa. Tapi inget ya... zakat harus disalurkan hanya dalam bentuk UANG lho yaa... kalo infaq ya terserah kita mau bentuk kayak apa.
Smakin smangad kawan2!
alhamd Ramadhan ini dalam keadaan hamil lagi, jd bisa ngajari dedek ganteng arti lapar. Padahal sekarang sj sdah sering laper ya dek, gara2nya kudu berbagi maem sm mbak Nin. Kuatlah dekk... :*>
Yang mau gabuung dengan program Ramadhan saya dan LMI,
yuk bisa banged...
Ada voucher takjil dengan nilai HANYA 2,500 saja,
Voucher buka bersama dengan nilai 10,000
Voucher santunan yatim hanya 25,000
Percaya sama saya, surga itu "murah" harganya kalo kita mau membelinya dengan sungguh2. Cumangad !!
Kamis, 03 Mei 2012
OM PEP : You're A Power !!
Iya, beneraannnn... Ini tentang Om Pep Guardiola, si Om Pelatih mas2 di Barca yg beberapa hari terakhir ini jadi semakin terkenal dan panas dibicarakan. Sampe2 saya yg nyata2 bukan penggemar fanatik bola termasuk Barca itu saja sampe seneng ngeliat beritanya sampe2 saya tertarik nyari "sesuatu" dari om Pep yg masih inyik2 ini *keren maksudna... hahaha*
Nah, akhirnya kemaren pagi pas si abi yg penggemar bola lagi liat brita, nah si Om Pep keluar lagi jadi brita utama. Si presenter bilang kemunduran om Pep dari pelatih Barca telah membuat sedih bukan hanya pemain dan manajemen Barca tapi juga seluruh penggemar Barca di dunia. Bahkan bayangan saya sampai ada yg nangis2 karena kemunduran om Pep.
Sy liat memang si Om Pep ini kereeeeeennn bener pas ndampingi anak didiknya di lapangan. Saya belum pernah ngeliat ada guru/pelatih yang SAMPE SEGITUnya pas ndampingi anak2nya. Guru nyium kening muridnya itu sangat jarang lho, tp om Pep kayak biasa nyium mas Messi setelah kasih goal. Yang paling kereeennn bgt itu ya itu, bagaimana dia ndampingi anak didiknya berlatih dan bertanding. Mourinho yg famous bgt saja ga sampe gitu2 amat di lapangan. Apa itu aneh? Kalo nurut saya siy tidak, itu malah keluar biasaannya sebagai seorang pelatih utama.
Dia mencium kening Messi dan pemain lainnya pada saat ngegolkan, dia memeluk partner2nya dg erat setelah berhasil gol. Pelukan2 itu hangat dan sangat diperlukan oleh para anak didik lho... Memeluk hangat, mencium saat berhasil (INGAT! ini antar lelaki lho ya, ga ada ceritanya kalo nyium murid ceweknya itu hal baik. Dosa tauu'...). Lihatlah bagaimana om Pep kalo ngasih support, gerakan2 tangannya, kakinya, ekspresi mukanya, gerakan2 tubuhnya, tangan2nya yg meng-kode pemain, gerak2annya semua seperti sempurna. Dia terkadang seperti anak kecil yg menghentak2kan kakinya, tangannya membentuk bola2 menyemangati anak didiknya. Pokoknya saya melihatnya bener2 luar biasa di lapangan saat mendampingi anak2nya. Dia ekspresif, murah pelukan, pokoknya ya gitu lah... Bayangkan sendiri senengnya kalo ada guru yg mendidik muridnya sampai seperti itu. Keren dan luar biasaa !!
Itulah yang kemudian saya ambil kesimpulan kenapa om Pep begitu dicintai bukan hanya pemain tapi juga penggemarnya. Dia dekat dengan semua anak didiknya, sampai2 semua jd pd melankolis pas perpisahan. Apalagi mas Messi, sampe sedihnya segitunya kan? Itu bisa diartikan dia memang guru/pelatih yg berharga dan dicintai. Sekarang coba cari guru yg kayak gitu... bisa diitung jari tuh. Malah2 yg banyak guru tidak disukai murid2nya karna sikapnya dan mgk juga kurang berkasih sayang, hasilnya pas perpisahan itu adalah hal terindah.
So, begitulah.
Dicari guru2 yg seperti om Pep atau lebih luar biasa lagi. Apalagi guru2 sekolah2 "Mahal" guru2 sekolah "Excellent" guru2 sekolah/pondok yg harganya juta2an. Karna menjadi guru itu memang beratnya harus melebihi harga yg diberikan. karna sebelum apapun, menjadi guru itu memang kewajiban yg sangat berat. Bahkan sangat2 berat. Karna menjadi guru itu bukan cuma ngajar kan? Tapi juga njaga, ndidik dan mengasihi. Itulah beratnya. Bukan cuma menjadikan anak pinter saja, lebih berat2 lagi dari itu. Ah saking beratnya sampae sulit ditulisnya.
Utk guru2, tetap bersemangad !!
Jadilah yg terbaik, didik dg kasih sayang. Kalian juga luar biasa!
Terima kasih banyak telah mendidikku juga...
Nah, akhirnya kemaren pagi pas si abi yg penggemar bola lagi liat brita, nah si Om Pep keluar lagi jadi brita utama. Si presenter bilang kemunduran om Pep dari pelatih Barca telah membuat sedih bukan hanya pemain dan manajemen Barca tapi juga seluruh penggemar Barca di dunia. Bahkan bayangan saya sampai ada yg nangis2 karena kemunduran om Pep.
Sy liat memang si Om Pep ini kereeeeeennn bener pas ndampingi anak didiknya di lapangan. Saya belum pernah ngeliat ada guru/pelatih yang SAMPE SEGITUnya pas ndampingi anak2nya. Guru nyium kening muridnya itu sangat jarang lho, tp om Pep kayak biasa nyium mas Messi setelah kasih goal. Yang paling kereeennn bgt itu ya itu, bagaimana dia ndampingi anak didiknya berlatih dan bertanding. Mourinho yg famous bgt saja ga sampe gitu2 amat di lapangan. Apa itu aneh? Kalo nurut saya siy tidak, itu malah keluar biasaannya sebagai seorang pelatih utama.
Dia mencium kening Messi dan pemain lainnya pada saat ngegolkan, dia memeluk partner2nya dg erat setelah berhasil gol. Pelukan2 itu hangat dan sangat diperlukan oleh para anak didik lho... Memeluk hangat, mencium saat berhasil (INGAT! ini antar lelaki lho ya, ga ada ceritanya kalo nyium murid ceweknya itu hal baik. Dosa tauu'...). Lihatlah bagaimana om Pep kalo ngasih support, gerakan2 tangannya, kakinya, ekspresi mukanya, gerakan2 tubuhnya, tangan2nya yg meng-kode pemain, gerak2annya semua seperti sempurna. Dia terkadang seperti anak kecil yg menghentak2kan kakinya, tangannya membentuk bola2 menyemangati anak didiknya. Pokoknya saya melihatnya bener2 luar biasa di lapangan saat mendampingi anak2nya. Dia ekspresif, murah pelukan, pokoknya ya gitu lah... Bayangkan sendiri senengnya kalo ada guru yg mendidik muridnya sampai seperti itu. Keren dan luar biasaa !!
Itulah yang kemudian saya ambil kesimpulan kenapa om Pep begitu dicintai bukan hanya pemain tapi juga penggemarnya. Dia dekat dengan semua anak didiknya, sampai2 semua jd pd melankolis pas perpisahan. Apalagi mas Messi, sampe sedihnya segitunya kan? Itu bisa diartikan dia memang guru/pelatih yg berharga dan dicintai. Sekarang coba cari guru yg kayak gitu... bisa diitung jari tuh. Malah2 yg banyak guru tidak disukai murid2nya karna sikapnya dan mgk juga kurang berkasih sayang, hasilnya pas perpisahan itu adalah hal terindah.
So, begitulah.
Dicari guru2 yg seperti om Pep atau lebih luar biasa lagi. Apalagi guru2 sekolah2 "Mahal" guru2 sekolah "Excellent" guru2 sekolah/pondok yg harganya juta2an. Karna menjadi guru itu memang beratnya harus melebihi harga yg diberikan. karna sebelum apapun, menjadi guru itu memang kewajiban yg sangat berat. Bahkan sangat2 berat. Karna menjadi guru itu bukan cuma ngajar kan? Tapi juga njaga, ndidik dan mengasihi. Itulah beratnya. Bukan cuma menjadikan anak pinter saja, lebih berat2 lagi dari itu. Ah saking beratnya sampae sulit ditulisnya.
Utk guru2, tetap bersemangad !!
Jadilah yg terbaik, didik dg kasih sayang. Kalian juga luar biasa!
Terima kasih banyak telah mendidikku juga...
Jumat, 27 April 2012
Keinget Si Mantan
Agak narsis juga siy pas saya nulis judul itu, tapi bingung juga mau kasih judul apa. Geli juga prasaan kok kayak anak2 ABG aje, suka bicara mantan2 gituh. hahaha. Ga papalah, teori jurtnalistik mengajarkan tulis saja apapun meskipun asalnya adalah aku tidak tau mau nulis apa. Coz otak manusia itu tercipta berangkaian dg banyak hal, jadi pasti bisa langsung berpesta saat kita mau memancingnya berkreasi dg tulisan. Betul?!
Pagi ini setelah main2 dg Nin di tempat tidur, lalu tiba2 saya keinget nasyid2 jadul pas kuliah dulu. Akhirnya saya klik2 folder2 nasyid itu dan memilih beberapanya dengan mini speaker. Cucok deh... Semut2 pd bergegas bangun ikut berbaris menemaniku berendevouz *LEBAY*
So, maksudna apa dengan keinget si mantan?
Yaiyalah.... Yg saya puter lagu2 pas kuliah dulu, pas kuliah diantara banyak sekali teman yg baik2 eh nyempil si dia disana juga *maluh2* yg kadang terasa sangat menenangkan, menyenangkan tapi kadang tiba2 menjengkelkan juga. Nah ceritanya aslinya kemaren pas saya ngaji mingguan dengan genk saya. Dasarnya dalam kelompok saya itu orangnya ceriwis2 dan pada suka tertawa semua, jadi tema tentang tarbiyah keluarga dakwah jadi bahan lucu2an. Ah, wajah orang2 itu menggemaskan sekali pas nggoda2 aye gituh ah *banjay=bancijijay*
Nah, pas giliran saya, keluarlah kisah tentang itu. Ga lugas siy, karna kan cuman disuruh cerita yg lain daripada yg lain. Awalnya saya bilang gini "Ah siapa bilang ikhwan akhwat ga ada yg pacaran, saya dulu lho merasakan pacaran itu. hahaha. Ya pacaran biasa, bedanya cuman no touch saja. Tapi bahasa tubuh, hati dan pikiran itu sama, aku sayang, dia sayang, kita sama2 sayang. Bukankah kadang pacaran itu ga harus skin touch, tapi lebih pada permainan hati. Saya nyaman ada dia meskipun kadang menjengkelkan, suka kangen juga meskipun dia kadang menggemaskan. Tapi inti menyayangi itu sudah dapet banged, saya sayang meskipun dlm diam, dan saya percaya juga dengan sayangnya" Tuh hebat kan gue?
Lalu kata temen2 "Alahhhh... GR ah, masa' ada yg mau sayang dirimu?" Hahahah "Ah tuduhan tidak manusiawi itu, tapi ya ga tau juga siy disayang beneran pa gak, soalnya endingnya kan jelek hihihih" Dan tertawa kami bener2 menggema hahaha
Ya cuman gitu saja sebenarnya, karena harus buat cerita yg beda dengan yg lain lalu saya cerita tentang ini saja. Lha kan semua sudah cerita standart, tentang pernikahan2 itu. Lalu ada nyelutuk "Masih suka inget ga?" saya langsung ketawa "Ah pertanyaan yg harus dihindari tuh. Masih suka inget soalnya hahaha" Gimana mau ga inget, itu pertama kali saya suka orang dg sangat tulus, merasakan dengan melipat2 dan memendam2 eh berakhir duka huaaaaa... *ini hanya lebay saja lho ya :D*
Akhirnya pas itu saya cerita gini "Doa saya dulu itu gini sejak usia 20an, "Ya Allah saya ingin menikah dengan laki2 yg sama2 ngaji, pendiem, pekerja keras dan pake kacamata" Nah saat ini itulah yg saya dapat. Menikah dengan laki2 yg sama2 ngaji, pendiem, pekerja keras dan pake kacamata. Paling tidak secara dasar banget Allah telah memberikan yang saya butuhkan. Nah pas itu temen2 langsung bilang gini "Berarti yg dulu ga kayak doanya ya..." Aihhhh... "Yaiyalah... buktinya kan ga dijodohkan dengan akika. Ah, gitu saja masa' ga bisa nebak. Kalo memang kayak gitu ya mesti jodoh tho mbak? Lha memang pake kacamata, pekerja keras, tapi mungkin kurang pendiem yah. Karna meskipun rada2 pendiem tapi dia gaul lho dengan cewek2, nah saya yg ga gitu sreg dengan yang gituan. Apalagi sampe banyak disuka cewek, ampuunnn... saya ini kan kalo sayang ya sayang bener, cemburuan ntar"
Kalopun sekarang saya masih suka inget, ya inget saja. Tanpa sebab. Tanpa alasan. Dan juga tanpa harus dijawab dan ditanya kenapa. Namanya juga inget kan? Masa' ada settingan hari ini harus inget, jam segini jangan inget dulu bla bla blaaa... Ga mungkin gitu kan? Yg penting pas gue inget langsung gue istighfarin, yg paling sering gue peluk bantal trus istighfar dan segera bangun biar ga kebawa lama2. Dan satu hal, inget itu bukan berarti apa2 lho ya, itu td yang gue bilang just remember without anything else *gue end*
Jadi, jadi gimana ni kesimpulannya?
Saya bilang pas itu "Yg masih bujang yg doa spesifik. Biar Allah juga mengabulkannya spesifik. Jangan sekedar sholeh, baik, penyayang, penyabar. Standart itu, semua orang juga pengen itu. Yang spesifik kalo minta sama Allah, coz Allah itu punya semuanya." Trus tentang mantannya gimana? "Ya udahlah, kan sudah dulu. Sekarang sudah ada pak Danang yg sempurna melengkapi hidup saya, lebih sempurna lagi dengan si Nin yang unyu2 itu. Trus apa ya harus meletakkan orang yg kita sayang tapi DULU itu dalam barisan hidup kita? Saya bahagia dengan yg saya jalani sekarang. Dan saya yakin dia juga bahagia, bukankah sudah sama2 menjalani kehidupan masing2? Hiks2" *usap ingus*
Endingnya simbak Nurul tanya "Fesbuknya apa non?" Hahahaha "Ntar deh mbak kuSMS nama fesbuknya, wong aku juga sudah tidak berteman sama dia. Sudah diremove 5x setelah di add sendiri sama dia, diremove2 sendiri. Bingung dia kali mau ditaruh mana nama gue di friend listnya. Soalnya gue kan unyu2 sebenarnya tapi dulu dia belum tau kalo gue begini unyu2, pinter pula. hahaha"
Catatannya disini, kita2 ini sudah pd nikah semua lho... Sudah pd beranak pinak, tapi memang bahasan minggu ini temanya ya tentang bagaimana menjaga keluarga dakwah tetap survive dengan semua kondisi. Temen2 lain sudah banyak cerita dan saya disini ingin cerita tentang diri saya sendiri. Jadi yuk sama2 memperbaiki diri.
Saya lho enjoy dengan yg saya jalani saat ini, enjoy saja saat harus tiba2 inget si dia. Saya lho kalo memang diizinkan tetap mau berhubungan baik. Toh sudah sama2 tua, mau apalagi coba. Sudah sama2 bergandengan tangan dg yg lain. Tapi jikapun tidak bisa berhubungan baik, saya pikir Allah memang itu mauNya, jadi ya dinikmati saja kan?
Sudah ah, si Nin saya suruh jalan2 sama abinya pas saya nulis ini. Aku mencintai kalian, lebih dari yg kalian tau. Nin dan Sinda. Dua keajaiban bagiku. Luph zu!
==============================
backsound : full house, i think i love u hahaha
Pagi ini setelah main2 dg Nin di tempat tidur, lalu tiba2 saya keinget nasyid2 jadul pas kuliah dulu. Akhirnya saya klik2 folder2 nasyid itu dan memilih beberapanya dengan mini speaker. Cucok deh... Semut2 pd bergegas bangun ikut berbaris menemaniku berendevouz *LEBAY*
So, maksudna apa dengan keinget si mantan?
Yaiyalah.... Yg saya puter lagu2 pas kuliah dulu, pas kuliah diantara banyak sekali teman yg baik2 eh nyempil si dia disana juga *maluh2* yg kadang terasa sangat menenangkan, menyenangkan tapi kadang tiba2 menjengkelkan juga. Nah ceritanya aslinya kemaren pas saya ngaji mingguan dengan genk saya. Dasarnya dalam kelompok saya itu orangnya ceriwis2 dan pada suka tertawa semua, jadi tema tentang tarbiyah keluarga dakwah jadi bahan lucu2an. Ah, wajah orang2 itu menggemaskan sekali pas nggoda2 aye gituh ah *banjay=bancijijay*
Nah, pas giliran saya, keluarlah kisah tentang itu. Ga lugas siy, karna kan cuman disuruh cerita yg lain daripada yg lain. Awalnya saya bilang gini "Ah siapa bilang ikhwan akhwat ga ada yg pacaran, saya dulu lho merasakan pacaran itu. hahaha. Ya pacaran biasa, bedanya cuman no touch saja. Tapi bahasa tubuh, hati dan pikiran itu sama, aku sayang, dia sayang, kita sama2 sayang. Bukankah kadang pacaran itu ga harus skin touch, tapi lebih pada permainan hati. Saya nyaman ada dia meskipun kadang menjengkelkan, suka kangen juga meskipun dia kadang menggemaskan. Tapi inti menyayangi itu sudah dapet banged, saya sayang meskipun dlm diam, dan saya percaya juga dengan sayangnya" Tuh hebat kan gue?
Lalu kata temen2 "Alahhhh... GR ah, masa' ada yg mau sayang dirimu?" Hahahah "Ah tuduhan tidak manusiawi itu, tapi ya ga tau juga siy disayang beneran pa gak, soalnya endingnya kan jelek hihihih" Dan tertawa kami bener2 menggema hahaha
Ya cuman gitu saja sebenarnya, karena harus buat cerita yg beda dengan yg lain lalu saya cerita tentang ini saja. Lha kan semua sudah cerita standart, tentang pernikahan2 itu. Lalu ada nyelutuk "Masih suka inget ga?" saya langsung ketawa "Ah pertanyaan yg harus dihindari tuh. Masih suka inget soalnya hahaha" Gimana mau ga inget, itu pertama kali saya suka orang dg sangat tulus, merasakan dengan melipat2 dan memendam2 eh berakhir duka huaaaaa... *ini hanya lebay saja lho ya :D*
Akhirnya pas itu saya cerita gini "Doa saya dulu itu gini sejak usia 20an, "Ya Allah saya ingin menikah dengan laki2 yg sama2 ngaji, pendiem, pekerja keras dan pake kacamata" Nah saat ini itulah yg saya dapat. Menikah dengan laki2 yg sama2 ngaji, pendiem, pekerja keras dan pake kacamata. Paling tidak secara dasar banget Allah telah memberikan yang saya butuhkan. Nah pas itu temen2 langsung bilang gini "Berarti yg dulu ga kayak doanya ya..." Aihhhh... "Yaiyalah... buktinya kan ga dijodohkan dengan akika. Ah, gitu saja masa' ga bisa nebak. Kalo memang kayak gitu ya mesti jodoh tho mbak? Lha memang pake kacamata, pekerja keras, tapi mungkin kurang pendiem yah. Karna meskipun rada2 pendiem tapi dia gaul lho dengan cewek2, nah saya yg ga gitu sreg dengan yang gituan. Apalagi sampe banyak disuka cewek, ampuunnn... saya ini kan kalo sayang ya sayang bener, cemburuan ntar"
Kalopun sekarang saya masih suka inget, ya inget saja. Tanpa sebab. Tanpa alasan. Dan juga tanpa harus dijawab dan ditanya kenapa. Namanya juga inget kan? Masa' ada settingan hari ini harus inget, jam segini jangan inget dulu bla bla blaaa... Ga mungkin gitu kan? Yg penting pas gue inget langsung gue istighfarin, yg paling sering gue peluk bantal trus istighfar dan segera bangun biar ga kebawa lama2. Dan satu hal, inget itu bukan berarti apa2 lho ya, itu td yang gue bilang just remember without anything else *gue end*
Jadi, jadi gimana ni kesimpulannya?
Saya bilang pas itu "Yg masih bujang yg doa spesifik. Biar Allah juga mengabulkannya spesifik. Jangan sekedar sholeh, baik, penyayang, penyabar. Standart itu, semua orang juga pengen itu. Yang spesifik kalo minta sama Allah, coz Allah itu punya semuanya." Trus tentang mantannya gimana? "Ya udahlah, kan sudah dulu. Sekarang sudah ada pak Danang yg sempurna melengkapi hidup saya, lebih sempurna lagi dengan si Nin yang unyu2 itu. Trus apa ya harus meletakkan orang yg kita sayang tapi DULU itu dalam barisan hidup kita? Saya bahagia dengan yg saya jalani sekarang. Dan saya yakin dia juga bahagia, bukankah sudah sama2 menjalani kehidupan masing2? Hiks2" *usap ingus*
Endingnya simbak Nurul tanya "Fesbuknya apa non?" Hahahaha "Ntar deh mbak kuSMS nama fesbuknya, wong aku juga sudah tidak berteman sama dia. Sudah diremove 5x setelah di add sendiri sama dia, diremove2 sendiri. Bingung dia kali mau ditaruh mana nama gue di friend listnya. Soalnya gue kan unyu2 sebenarnya tapi dulu dia belum tau kalo gue begini unyu2, pinter pula. hahaha"
Catatannya disini, kita2 ini sudah pd nikah semua lho... Sudah pd beranak pinak, tapi memang bahasan minggu ini temanya ya tentang bagaimana menjaga keluarga dakwah tetap survive dengan semua kondisi. Temen2 lain sudah banyak cerita dan saya disini ingin cerita tentang diri saya sendiri. Jadi yuk sama2 memperbaiki diri.
Saya lho enjoy dengan yg saya jalani saat ini, enjoy saja saat harus tiba2 inget si dia. Saya lho kalo memang diizinkan tetap mau berhubungan baik. Toh sudah sama2 tua, mau apalagi coba. Sudah sama2 bergandengan tangan dg yg lain. Tapi jikapun tidak bisa berhubungan baik, saya pikir Allah memang itu mauNya, jadi ya dinikmati saja kan?
Sudah ah, si Nin saya suruh jalan2 sama abinya pas saya nulis ini. Aku mencintai kalian, lebih dari yg kalian tau. Nin dan Sinda. Dua keajaiban bagiku. Luph zu!
==============================
backsound : full house, i think i love u hahaha
Selasa, 24 April 2012
Selamat Datang Sayang...
Iya, ini untukmu nak...
bertumbuhlah dengan baik dan sehat dalam rahim Nda
harus lebih kuat dari Mbak Nin
karna Nda juga memberikan kasih yg sama untukmu saat ini
Sini, dengarkan cerita Nda
Dulu mbak Nin di rahim Nda juga 9 bulan dan insya Allah adek juga akan sama
eh tidak ding! Mbak Nin dulu molor dua minggu dari hari perkiraan lahir, sampe2 pas lahiran mbak Nin air ketuban Nda sudah keruh warnanya. Alhamdulillah Allah masih sayang pd Nda dan mengijinkan Nda melahirkan Mbak Nin dengan normal. Subhanallahh...
Kini, engkau yg menempati rahim hangat yg dulu ditempati mbak Nin, smg semakin hangat ya Nak ;)
Nda bersyukuuuuuurr buanged atas hadirmu yg sesuai rencana. Kenapa Nda bilang begitu? Karna Nda memang merencanakan program adek buat mbak Nin pas usia mbak Nin 1,5tahun. Kenapa tidak sekalian 2tahun? Karna Nda ingin memiliki lebih dari 3 anak-anak shalih/shalihah nak, dan itu harus direncanakan dg baik. Bukankah Allah juga yg mengajak kita berencana dan meminta? Dan bi idznillah, setelah mbak Nin berusia 1,5th lebih seminggu, Allah menghadirkan adek utk abi dan Nda. Dan nda yakin, mbak Nin akan semakin cepat dewasa dan pinter. Insya Allah mbak Nin tidak akan kekurangan kasih sayang juga.
Adek berbagi maem juga dg mbak Nin. Karna mbak Nin malah semakin giat sekarang mimiknya. Kata orang2 nanti kalo sudah hamil lagi, mbak Nin pasti ga mau mimik. Eh malah kebalikannya.... Mbak Nin malah semakin semangad mimiknya. Hidup mbak Nin ! hihihi
Selamat datang ya sayang...
Selamat berenang2 di sana. Harus kuat. Harus pinter.
Dulu Nda selalu bilang pd Mbak Nin pas masih di perut, menjadilah yg bermanfaat utk sekitar nak, menjadilah sesuatu yg dirindukan. Kini Nda sampekan ini juga padamu Nak, menjadilah yg shalih menjadilah ahli ilmu. Menjadilah cinta utk semua. Menjadilah pendamai. Menjadi harapan. Cintai Allah, cintai agamamu. Cintai dakwah, seperti Rasul yg mencintai dakwah dan umatnya. Seperti abi dan Nda yg juga mencintai dakwah ini.
Menjadilah cerdas nak, karna Nda ingin melihatmu sampai di Alexandria dan mengisikan airnya dalam sebuah botol dan jadikan itu hadiah milad pernikahan abi dan Nda. Kuatlah karna kami ingin melihatmu mjd abdi kebaikan. Sungguh nak, Nda ingin melihatmu sampai di Alexandria dan berjalan gagah di Cordova dan kemudian bersujud di Al Aqsha. Mintalah pd Allah, dan Allah akan mengabulkan pintamu.
Smangad sayang!!
*ini salah satu surat resolusi Nda untukmu pas di usia Nda 30th. Katakan milad mubarakah pd bunda dong nakkk... :D
bertumbuhlah dengan baik dan sehat dalam rahim Nda
harus lebih kuat dari Mbak Nin
karna Nda juga memberikan kasih yg sama untukmu saat ini
Sini, dengarkan cerita Nda
Dulu mbak Nin di rahim Nda juga 9 bulan dan insya Allah adek juga akan sama
eh tidak ding! Mbak Nin dulu molor dua minggu dari hari perkiraan lahir, sampe2 pas lahiran mbak Nin air ketuban Nda sudah keruh warnanya. Alhamdulillah Allah masih sayang pd Nda dan mengijinkan Nda melahirkan Mbak Nin dengan normal. Subhanallahh...
Kini, engkau yg menempati rahim hangat yg dulu ditempati mbak Nin, smg semakin hangat ya Nak ;)
Nda bersyukuuuuuurr buanged atas hadirmu yg sesuai rencana. Kenapa Nda bilang begitu? Karna Nda memang merencanakan program adek buat mbak Nin pas usia mbak Nin 1,5tahun. Kenapa tidak sekalian 2tahun? Karna Nda ingin memiliki lebih dari 3 anak-anak shalih/shalihah nak, dan itu harus direncanakan dg baik. Bukankah Allah juga yg mengajak kita berencana dan meminta? Dan bi idznillah, setelah mbak Nin berusia 1,5th lebih seminggu, Allah menghadirkan adek utk abi dan Nda. Dan nda yakin, mbak Nin akan semakin cepat dewasa dan pinter. Insya Allah mbak Nin tidak akan kekurangan kasih sayang juga.
Adek berbagi maem juga dg mbak Nin. Karna mbak Nin malah semakin giat sekarang mimiknya. Kata orang2 nanti kalo sudah hamil lagi, mbak Nin pasti ga mau mimik. Eh malah kebalikannya.... Mbak Nin malah semakin semangad mimiknya. Hidup mbak Nin ! hihihi
Selamat datang ya sayang...
Selamat berenang2 di sana. Harus kuat. Harus pinter.
Dulu Nda selalu bilang pd Mbak Nin pas masih di perut, menjadilah yg bermanfaat utk sekitar nak, menjadilah sesuatu yg dirindukan. Kini Nda sampekan ini juga padamu Nak, menjadilah yg shalih menjadilah ahli ilmu. Menjadilah cinta utk semua. Menjadilah pendamai. Menjadi harapan. Cintai Allah, cintai agamamu. Cintai dakwah, seperti Rasul yg mencintai dakwah dan umatnya. Seperti abi dan Nda yg juga mencintai dakwah ini.
Menjadilah cerdas nak, karna Nda ingin melihatmu sampai di Alexandria dan mengisikan airnya dalam sebuah botol dan jadikan itu hadiah milad pernikahan abi dan Nda. Kuatlah karna kami ingin melihatmu mjd abdi kebaikan. Sungguh nak, Nda ingin melihatmu sampai di Alexandria dan berjalan gagah di Cordova dan kemudian bersujud di Al Aqsha. Mintalah pd Allah, dan Allah akan mengabulkan pintamu.
Smangad sayang!!
*ini salah satu surat resolusi Nda untukmu pas di usia Nda 30th. Katakan milad mubarakah pd bunda dong nakkk... :D
Perayaan Kemenangan Cinta
Hari ini, bareng dg sodaraku yg dirahmati Allah Mbak Asty Mikaila Azzahra Azzahra dan Vita Wahyuningrum, insya Allah merayakan kemenangan2 cinta. Kemenangan atas kegenapan yg dihadirkan Allah utk kami, atas nikmat cinta pasangan kami. Atas orang2 sholeh yg melingkupi kebaikan2.
Semoga disampaikan ke surga...
Puisi ini utk kita
Selamat menyelam usia lebih tua kawan
selamat menjalani masa2 bahagia lebih dalam
selamat menikmati kejutan2 hidup
selamat menggenapkan kebaikan
Tetap berhimpunlah disini
dalam pusaran kebaikan
bersama orang2 baik
dan tetap cintai kebaikan
Allah telah dengan sengaja mengajak kita merayakan kesamaan ini
maka marilah lebih bersyukur
menjejaklah dg hati yg lurus
marilah terus lipatgandakan syukur kita
agar syukur kita berbuah cintaNya
karna apalagi yg kita cari selain cintaNya
Bersujud atas dosa kita
bersujud atas nikmat dariNya
bersujud atas suami yg membanggakan
bersujud atas anak2 yg beraroma surga
bersujud atas aktifitas kebaikan
bersujud atas kebersamaan
bersujud, bersujud, bersujud
Dan aku mencintai kalian
*Peluuukkkk...
(Milad mubarak tetanggaku dan teman kuliahkuuu... Maap2 atas salahku ya hiks2)
Senin, 23 April 2012
Menginstal Nyali Surviver Anak
Sebenarnya ini bukan kisah saya sendiri, tp saya mengamati dari kerja si abina beberapa hari terakhir yang mengurusi camp anak2 SMA xx Jakarta. Tujuan mereka study tour, dan di kampung inggris study mereka selama 4hr.
Kenapa kemudian saya tertarik menulis ini?
Karna alamaaakkk.... Anak2 itu lucu2, menggemaskan jiwa, menggetarkan kesabaran. Lucu2 karna sebagian besar anak SMA itu sungguh masih anak2, menggemaskan karna anak2 itu buanyak sekali maunya, menggtarkan karena bner2 anak2 yg sudah masuk usia remaja SMA itu benar2 miskin empati. Mereka memprotes ini, maunya begini, ini kotor, makanan ga enak, banyak debu, camp sempit, bla bla bla...
Ada yg kalo ada apa2 langsung hubungi mamah papahnya di Jakarta sana, hasilnya mapahnya sibuuukkk nelp gurunya nanyakan anaknya kenapa, kok ga diperhatikan bla bla bla...
Saya geli2 gemes liat anak2 ABG itu. Coba ya gimana kalo mereka dilepas di hutan sekali waktu atau biarkan dengan aktifitas bebas. Sekuat apa, semampu bagaimana.
Sebenarnya yg paling berperan tetap orang tuanya. Bagaimana bisa membuat anak bisa kuat dimanapun. Bisa menghadapi situasi2 sulit. Bagaimana biar dalam keadaan apapun, anak bisa merasa oke2 saja.
Saya bersyukur karena berada di lingkungan ibu2 yang kuat dalam mendidik anaknya meskipun kesibukan mereka jg luar biasa. Saya melihat anak2 itu kuat, pinter, berani, mandiri dan juga sopan (sopannya anak2 lho yaa...) Mereka biasa minta izin utk melakukan hal2 diluar schedule, mereka mudah diajak belajar, makan minum duduk, bla bla bla...
Saat "dilepas", anak2 itu juga survive. Tetep pinter, kuat, banyak temen, dsb. Yang saya tau, saat dirumah mereka diijinkan berkreatifitas meskipun akhirnya lantai kotor, rumah berantakan, baju belepotan. Trus mereka boleh naik2 pohon, nyebur di sungai, hujan2an, guling2 di tanah. Mereka boleh menghabiskan sebanyak mgk kertas utk menggambar, makan sendiri meski kececeran ga karuan. Mereka jg biasa menghabiskan waktu dg hal2 ekstrem.
Kita hanya harus berhati2 menjaga anak2, tp biarkan mereka merasakan kehidupan mereka dg cara mereka. Jangan terlalu dipenuhi dg kegenapan2, biarkan mereka sesekali merasa tidak harus semua dipenuhi. Anak2 itu akan menemui kehidupan mereka sendiri. Kasihan jika mereka harus begitu tergantung pd orang tua pd saat mereka seharusnya sdh mulai belajar mandiri.
Saya SMA dulu bener2 lepas tangan ibu bapak. Mereka membiarkan saya dg cara blajar saya, yg penting ttp juara :D Sy berangkat jam enam krg seperempat nyampe rumah jam 4 sore. Jalan kaki kemana2, naek angkot, nongkrong, aktifitas masjid dsb. Makanya skrg Nin jg saya ajari gitu. Sering skali dia pulang dr babysmart dg lebam di paha, pipi kecubit temannya, dsb. Kdg juga dia jalan tdk ati2 kejungkel, nabrak pagar dst. Sy biarkan, toh dia bs bangun sendiri. Kalo memang bahaya juga pasti ditolong. Sy bilang sama Nin "Gpp, cm jatuh saja kok. Nanti jg sembuh, biar cpt gede" Lalu saya tiup di bagian yg sakit dg baca bismillah. Setelah itu taraaaaa... dia sdh ga mrasakan apa2 kayaknya hihihih
Yuk ah, mandirikan anak2 kita semampu kita. Smangad!
Kenapa kemudian saya tertarik menulis ini?
Karna alamaaakkk.... Anak2 itu lucu2, menggemaskan jiwa, menggetarkan kesabaran. Lucu2 karna sebagian besar anak SMA itu sungguh masih anak2, menggemaskan karna anak2 itu buanyak sekali maunya, menggtarkan karena bner2 anak2 yg sudah masuk usia remaja SMA itu benar2 miskin empati. Mereka memprotes ini, maunya begini, ini kotor, makanan ga enak, banyak debu, camp sempit, bla bla bla...
Ada yg kalo ada apa2 langsung hubungi mamah papahnya di Jakarta sana, hasilnya mapahnya sibuuukkk nelp gurunya nanyakan anaknya kenapa, kok ga diperhatikan bla bla bla...
Saya geli2 gemes liat anak2 ABG itu. Coba ya gimana kalo mereka dilepas di hutan sekali waktu atau biarkan dengan aktifitas bebas. Sekuat apa, semampu bagaimana.
Sebenarnya yg paling berperan tetap orang tuanya. Bagaimana bisa membuat anak bisa kuat dimanapun. Bisa menghadapi situasi2 sulit. Bagaimana biar dalam keadaan apapun, anak bisa merasa oke2 saja.
Saya bersyukur karena berada di lingkungan ibu2 yang kuat dalam mendidik anaknya meskipun kesibukan mereka jg luar biasa. Saya melihat anak2 itu kuat, pinter, berani, mandiri dan juga sopan (sopannya anak2 lho yaa...) Mereka biasa minta izin utk melakukan hal2 diluar schedule, mereka mudah diajak belajar, makan minum duduk, bla bla bla...
Saat "dilepas", anak2 itu juga survive. Tetep pinter, kuat, banyak temen, dsb. Yang saya tau, saat dirumah mereka diijinkan berkreatifitas meskipun akhirnya lantai kotor, rumah berantakan, baju belepotan. Trus mereka boleh naik2 pohon, nyebur di sungai, hujan2an, guling2 di tanah. Mereka boleh menghabiskan sebanyak mgk kertas utk menggambar, makan sendiri meski kececeran ga karuan. Mereka jg biasa menghabiskan waktu dg hal2 ekstrem.
Kita hanya harus berhati2 menjaga anak2, tp biarkan mereka merasakan kehidupan mereka dg cara mereka. Jangan terlalu dipenuhi dg kegenapan2, biarkan mereka sesekali merasa tidak harus semua dipenuhi. Anak2 itu akan menemui kehidupan mereka sendiri. Kasihan jika mereka harus begitu tergantung pd orang tua pd saat mereka seharusnya sdh mulai belajar mandiri.
Saya SMA dulu bener2 lepas tangan ibu bapak. Mereka membiarkan saya dg cara blajar saya, yg penting ttp juara :D Sy berangkat jam enam krg seperempat nyampe rumah jam 4 sore. Jalan kaki kemana2, naek angkot, nongkrong, aktifitas masjid dsb. Makanya skrg Nin jg saya ajari gitu. Sering skali dia pulang dr babysmart dg lebam di paha, pipi kecubit temannya, dsb. Kdg juga dia jalan tdk ati2 kejungkel, nabrak pagar dst. Sy biarkan, toh dia bs bangun sendiri. Kalo memang bahaya juga pasti ditolong. Sy bilang sama Nin "Gpp, cm jatuh saja kok. Nanti jg sembuh, biar cpt gede" Lalu saya tiup di bagian yg sakit dg baca bismillah. Setelah itu taraaaaa... dia sdh ga mrasakan apa2 kayaknya hihihih
Yuk ah, mandirikan anak2 kita semampu kita. Smangad!
Rabu, 28 Maret 2012
Perjalanan Cinta (Part 7)
Bagian 3
Siang di Bumiaji...
Ternyata ada terik juga di Bumiaji. Siang di Bumiaji juga bisa memanas meski panasnya lebih menghangatkan. Yang tetap terasa adalah tiupan yang dingin dari angin yang entah bagaimana mereka seperti tidak memiliki kelelahan untuk meniupkan kekuatan mereka. Dan andai tidak dengan kekuatan mereka sendiri, matahari juga tidak akan memenangkan persaingan dengan kesombongan angin. Persaingan kecil namun kemudian meluluhlantakkan kesombongan angin. Cerita tentang petani yang berteduh di bawah pohon yang kemudian menjadi tokoh untuk persaingan matahari dan angin.
Shina masih belum juga membuka pembicaraan tentang alasannya mengundang Jagad dan Naya ke rumah mungilnya setelah tiga tahun mereka tanpa komunikasi sama sekali.
“Kamu tau bagaimana caranya membuka pembicaraan dengan Shina, Nay? Aku semakin merasa bingung dengan yang disembunyikan Shina pada kita. Hfff... Bagaimana kita bisa mengerti dengan keinginan Shina sementara sudah tiga hari kita sama-sama tidak mengerti keadaanya,” Jagad menutupkan kedua telapak tangannya. Kebekuan antara keduanya memulih beberapa waktu kemudian. Dan kini mereka mencoba tenang untuk mengerti yang sebenarnya terjadi.
“Shina tidur. Ah, aku tidak tau sebenarnya Shina benar-benar tidur atau gak di dalam sana. Tapi aku melihat matanya menutup lelap dan tenang sekali. Wajahnya pun seperti tenang tanpa beban. Kamu juga melihatnya kan tadi?,” Naya menatap Jagad. Matanya menyisakan keterpanaan yang luar biasa. “Jadi apa yang membuat kita bisa menebak alasan Shina mengundang kita ke sini? Semntara dari awal kedatangan saja kita hanya terlibat keributan-keributan.
Jagad tersenyum mendengar kalimat Naya. Geli.
“Kamu mau jalan-jalan, Nay? Aku kira kita bisa bertanya pada kebun apel dan orang-orang yang dekat dengan kehidupan Shina. Kita bisa menanyakan keadaan Shina selama di sini. Siapa tau ada petunjuk. Kamu mau?
“Jalan-jalan?,” Naya merengut. Jalan-jalan pake apa? ada raut sipu-sipu di wajah merajuknya. “Pake apa?,” tanya Naya lagi.
“Pake sepeda,” jawab Jagad enteng. “Kuboncengin.
“Hah?
“Kenapa? Gak mau?
“Hahahaha. Kamu aneh. Mana aku mau kamu boncengin... Enak saja. Ngarep,” Naya beranjak menjauhi Jagad. “Aku ganti kerudung dulu, kamu tunggu saja di depan. Ukur suhu di luar sana, kalo memang terlalu panas untuk kita jalan pake kaki, lebih baik aku tidur saja. Key?
Jagad hanya melirik. Kemudian seperti begitu saja menuruti perintah Naya. Beranjak keluar dan mengukur suhu. Sepertinya masih cukup sejuk meski sedikit terik. Tidak mengapa sedikit berkeringat.
“Nayyy... Cepetaaaaannn...
“Aku siap, bos!
Jenaka senyum Naya di depan Jagad. Kerudung putihnya tadi telah berganti menjadi peach segar dengan kaos senada. Tangan kanannya terangkat memberi hormat pada Jagad. Naya, naya... Andai saja hhhfff...
“Tapi aku tak punya sendal, Gad... aku pake sendalmu lagi yah
Seperti tersadar, Jagad tak segera memberi komentar pada permintaan Naya. Pikirannya sempat melayang beberaa detik lalu. Manisnya anak kecil ini...
“Gad! Kamu ini kenapa sih, dari tadi kayak gak punya kehidupan,” Naya kembali bersuara. “Aku pake sendalmu boleh gak?
“Trus aku pake apa, Nay?
“Hmpp...,” bibir Naya mengerucut “Pake sepatu saja. Yah?
“Gak ah, kamu juga ada sepatu. Kenapa gak pake?
“Sepatuku berat, Gad... Nanti malah bikin capek,” Naya bersikukuh. Dan hasilnya sudah bisa dipastikan, Jagad akan mengalah meski enggan terpaksa dipakainya sepatu gunungnya dan matanya melihat sandal jepitnya terinjak manis di kaki Naya. Seperti tanpa dosa Naya memakai sandal itu. Senyum mentarinya terlihat cemerlang meski tak mampu mengusir dingin sekalipun dia tersenyum di malam hari.
Marilah menuju kebahagiaan...
Jalanan sepanjang kurang lebih satu kilometer lebih setengahnya itu terasa lengang. Mungkin karena ini jam-jam istirahat siang bagi pekerja kebun di sekitar daerah ini. Hanya beberapa orang saja yang dapat ditemui di sepanjang jalan. Lengang. Tapak kaki Naya dan Jagad pun tidak terlalu dipacu sekedar untuk menghindari terik. Sepertinya mereka menikmati saat-saat seperti ini meskipun tak harus saling bicara.
“Bagaimana kalo Shina nyari kita, Gad?,” Naya seperti mengingat sesuatu hal yang penting. Pandangannya jatuh pada sisi mata Jagad.
“Yahh... ga tau. Enaknya gimana?
Naya mulai merengut lagi. Kebiasaan yang sudah sangat dihafal Jagad, Shina dan bahkan seluruh teman-temannya. Kebiasaan lucu Naya yang kadang menjadi kebiasaan buruk saat keluar tidak pada waktunya.
“Kamu yang ngajak kok... Kamu yang tanggung jawab dong,” wajahnya semakin tertekuk-tekuk. Mulutnya makin mengerucut dan bicara seperti tak jelas. Kakinya sesekali menendang-nenang batu yang tak terlihat.
“Hahahaha. Gitu saja ngambek, Nay. Naya, naya... hahaha
“Apaannn...
“Hahahahaha. Dasar koala, kalo gak merengut ya berarti ngambek!
Matahari seperti menjadi penggembira perjalanan mereka berdua. Seperti hilang kemarahan dan keributan yang teradi berulang kali itu. Menguap menjadi bulir-bulir merah sipu di wajah Shina dan senyum yang tak habis terkembang.
“Gad, gimana kabar ibu? Masih lancar jualan kerudungnya?
“Iya, alhamdulillah. Masih lumayan pesenan-pesenan dari dalam dan luar kota.
“Oh ya, ya...,” Naya mengangguk-angguk. “Hmmpp... kira-kira ibu masih ingat aku gak ya, Gad?
Hah? Maksudnya?
“Ingat? Sama kamu?
“Hu uh. Masih ingat aku gak ya?
“Memang kenapa?
“Kalo gak ingat kok ya kebangetan ya, kita kan pernah pulang bareng lebih dari lima kali,” Naya melirik Jagad jail. Jagad pun mengangkat alisnya menunggu kalimat Naya selanjutnya. “Tapi kalo ingat, kok ibu gak nitipin kerdung buatku ya, Gad.
“Oooo gitu tho,” Jagad menahan senyumnya. “Ya kali ibu dah nemu penggantimu. Aku juga gak tau. Orang tua kan semakin jarang dihubungi semakin lupa.
“Heeee... Apa maksudmu?
“Ga ada maksud kok. Memang kenapa?
“Halaahhh... bilang saja mau nyindir aku gak pernah nyapa ibu kan?
“Ooo... jadi kamu ngerasa gitu? Bukan aku yang bilang kan?
“Hahahaha
kembali matahari seperti tertawa dengan lepasnya tawa naya. Sudah hampir tiga puluh menit mereka berjalan. Naya... aku selalu bahagia dengan tawamu.
“Gad, aku capek.
“Manja!
“Apaaannn... kamu gak liat kita dah jalan jauh banget. Kesel niy, panas lagi.
“Lha terus gimana... mau kugendong? Gak mau juga kan?
“Bodo!
Naya menghempaskan begitu saja tubuhnya di pinggiran jalan berumput. Kakinya diselonjorkan dan tangannya memijat-mijat pelan. Jalanan masih lengang. Hanya sesekali mulai terdengar suara anjing yang melolong. Rumah penduduk juga sudah terlihat satu dua. Kerudung peach Naya tertiup angin perlahan. Angin gunung, angin yang sunyi dan dingin.
“Gad!
“Hm...
“Ausss...
“Merepotkan banget siy kamu, Nay. Disini nyari minum dimana? Ya udah ayo berdiri, tinggal bentar juga sampe... nanti kamu boleh makan apel biar gak aus lagi. Yuk berdiri!
Kaki mereka pertama kali berhenti di rumah mbak Sum. Tentu saja Naya yang mengetahui dimana rumah mbak Sum karena tadi pagi dia yang turut mbak Sum belanja sayur dan lauk. Rumah kecil yang Naya bilang sejuk karena dinding-dindinya seperti mengeluarkan udara segar saat bersentuhan lagsung dengan kulitnya. Tidak terlalu besar ukurannya. Hanya terdiri sebuah ruang berkursi letter L di bagian depan dan sebuah kamar yang berada berseberangan dengan ruang itu. Disekat oleh sebuah lemari perkakas pecah belah dan ke belakangnya, cerita Naya langsung berupa ruang makan yang berfungsi juga sebagai dapur. Dan tentu saja, bersekat tembok antara ruang itu dengan ruang tengah bertelevisi.
“Ada apa ya, mbak, kok tiba-tiba ke sini. Mbak Shina sakit?,” mbak Sum tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Wajahnya seperti tiba-tiba memucat. Bahkan saat Naya sudah mengatakan bahwa dia hanya ingin jalan-jalan saja.
“Iya, mbak, kami hanya jalan-jalan kok.
Mbak Sum masih juga memandang heran. “Mbak Sum ini... beneran kok. Tadi di rumah kan Shina tidur, trus Jagad ngajak jalan-jalan. Pengen metik apel juga aku, mbak.
“Kok gak naek sepeda saja biar gak capek?,” akhirnya mbak Sum meluluh juga melihat ekspresi Naya dan Jagad yang santai itu.
“Gak ada yang boncengin, mbak. Hehehehe
mbak Sum menunjuk pada Jagad. “Masnya gak bisa naek sepedah, tho?
Jagad salah tingkah. Hanya sekejab. “Bisa siy, mbak... Cuman Naya-nya yang gak biasa naek sepeda. Apalagi naeknya dengan saya. Malu katanya.
Mbak Sum ber-oo pelan. Setengah terkejut dia bangkit. “Sampai lupa gak diambilin minuman. Maaf ya, mbak, mas...
Naya tertawa. Seperti mendapatkan berita gembira saja saat mbak Sum menyebut air minum. Matanya melirik jail ke arah Jagad. Akhirnyaa...
Naya melangkahkan kakinya menyusul mbak Sum ke dapur. “Wahh... sudah, mbak, biar saya saja. Mbak Naya tunggu saja di depan,” sambut mbak Sum kikuk mengetahui Naya sudah ada di delakangnya dengan senyum tengilnya. “Temani mas Jagad saja, mbak, bentar lagi juga selesai kok, mbak.
Naya tertawa. Justru karena aku tak bisa berdekatan lebih lama lagi dengannya aku mengikuti langkahmu, mbak... Aku tak bisa berlama beradu pandang dengannya.
“Monggo, mbak...
Naya tersadarkan. Langkahnya kemudian mengikuti gerak kaki mbak Sum. Kembali ke ruang depan. Jagad terlihat terpaku pada Hpnya. Hanya diam dan menatap benda kecil itu.
“Nay,” lemah sekali suaranya. Naya mengangkat alisnya menjawab panggilan Jagad yang terlihat aneh. Kenapa dia?
“Ehm, aku tau ini akan menimbulkan banyak sekali tanya. Ehm mbak Sum, tidak apa kan saya bicara dengan Naya dulu di sini?,” mbak Sum mengangguk. Naya semakin terlihat tak mengerti. “Mbak Sum boleh tetap disini kok.
“Gini, Nay, tapi aku harap kau bisa mendengar permintaan tolongku dengan sisi hatimu yang lain. Aku benar-benar butuh pertolonganmu saat ini,” Naya tanpa suara. Apa yang terjadi? “Sebentar lagi ada orang yang akan menelpon ku. Aku harap kamu mau mengangkatnya untukku,” pinta Jagad. “Katakan apa saja. Aku akan keluar untuk membuatmu nyaman mengangkat telponnya. Katakan aku sedang keluar atau apalah yang tidak terlalu jauh berbohong. Plis, Nay... lakukan satu itu saja untukku.
Naya bengong. Kenapa hanya mengangkat telpon saja dia begitu resah?
“Siapa yang nelpon, Gad?,” serak suara Naya bertanya. Jagad hanya diam. “Tunggu saja, dia akan nelpon segera kok. Tolong aku ya. Lakukan untukku sesuatu yang menurutmu baik untukku,” Jagad berkata pelan dan kemudian melangkah keluar begitu saja. Tinggal Naya yang bengong dan mbak Sum yang juga tidak mengerti.
Dan telepon dalam genggam tangan itu pun berdering. Sebuah lagu lawas terdengar. Naya Seolah berdebar mendengar dering yang seolah meneriakkan namanya itu. Naya memandang punggung Jagad dari dalam rumah.
Selasa, 27 Maret 2012
Perjalanan Cinta (Part 6)
Selepas Maghrib di Kediri...
Aku sudah siap dengan helm dan jaket jalanku lagi.
“Madaaaaa...
“Masih cari jaket mbaaaakkk...
“Cepetan! Ngerti malam gak siy kamu?
Mada hanya cengar cengir mendengar semprotanku. Segera setelah itu dia menyalakan Revo merahnya. “Silakan, dinda... hahahaha
PLAK!
“Hadoohhhh... Sudah minta tolong anterin, malah kayak gini. Gak ada apik-apike mbak Naya ki.
“Sudah jalaannnn...
Ibu menyarankan aku membeli bebrapa oleh-oleh yang dulu disukai Shina. Enting-enting jahe, kacang gula merah dan tentu saja kripik tahu, makanan khas kotaku. Dulu tiap kali Shina ikut aku mudik dari Malang, aku selalu mengajaknya jalan-jalan ke beberapa tempat yang ramai. Terkagang ke gunung paling mati di kotaku, gunung Klothok. Terkadang ke air terjun Sedudo di Nganjuk, terkadang juga ke air terujun di daerah Mojo, air terjun Dholo. Biasanya aku berangkat pagi-pagi biar sampai sana bisa masih tetep seger. Kawasan itu biasanya kalau menginajk siang pasti ramai dan tidak lagi enak dinikmati.
HP ku bergetar. Dharma Calling...
Dharma? Ada apa?
“Assalamu’alaikum, Dhar
Wa’alaikumsalam. Lagi di jalan?
“Éh iya, ini lagi mau ke Patimura cari oleh-oleh
“Oh buat kawanmu itu yah
“Kok tau? Siapa yang cerita?
“Lho... kamu tadi kan cerita dengan Pak Restu.
“Owh iya, dasar Naya pelupa. Ehmm... ada apa ya, tumben. Ada yang bisa saya bantu?
“Eh enggak, hmm... ada yang ingin saya bicarakan sedikit. Tapi mungkin besok juga tak apalah, sekarang masih jalan juga kamunya...
“Oh ya... baiklah.
“Naya.
“Iyah?
Dharma seperti menahan kalimatnya sendiri. “Ada apa, Dhar?
“Oh gak papa. Besok saja. Ati-ati yak
“Yup, insya Allah.
Dharma segera salam setelah itu. Aku pun segera memasukkan kembali HP ku ke dalam tas. “Mas Jagad ya, mbak?,” tiba-tiba Mada sudah ikut bicara.
“Jagad, Jagad apaan...
“yah siapa tau mas Jagad. Hahahaha.
“PLAK! Nyetir yang bener.
“Hahahaha.
Hanya sekitar dua puluh lima menit perjalanan dari rumah ke Patimura. Tentu saja dengan kecepatan di atas 60km/jam. Patimura menyediakan banyak sekali makanan khas kota kecilku ini. Di sini ada beberapa toko yang sepertinya semuanya milik etnis China yang menjual makanan khas Kediri, mulai tahu kuning, kripik tahu, telur asap, dan macam-macam lagi. Entahlah, kemana orang-orang pribumi. Mungkin mereka kalah inovatif dengan orang-orang etnis ini hingga hampir semua toko yang menjual makanan khas Kediri malahan yang menjual orang etnis. Bisa jadi karena tabiat orang pribumi yang merasa lebih enak menjadi pegawai daripada pemilik yah. Ah entahlah...
“Sudah? Ada lagi gak?,” Mada bertanya padaku sambil membantuku membawa oleh-oleh yang kubeli.”Buat mas Jagad juga sudah mbak?
O iya, Jagad. Tapi dibelikan apa? Penting ya?
“Aku tadi pesen kaos ke mas Jagad. Hehehehe
“Hah? Kaos?
“Hu uh. Kenapa?
“Kaos apaan, Mada...
“Kaos buat dipakai dunk, mbak. Dia bilang OK, kok.
“Hahh... kamu!
Mau tidak mau aku kembali lagi ke toko oleh-oleh itu. Membeli beberapa makanan tambahan untuk Jagad. Dia tidak begitu suka tahu, tapi doyan dengan kripik bekicot.
“Mbak Nay, mas Jagad tanya mbak Nay nitip apa ga?
Dan aku hanya menjawab pertanyaan Mada dengan pelototanku. Kejam. Dan lagi-lagi kudengar tawa Mada. Kenapa dia juga suka tertawa seperti yah, aneh... hahahaha. Mada memang tidak jauh beda sifatnya denganku. Suka sekali tertawa, kadang terlihat sangat polos, terkadang terlihat cemerlang, dia tinggi tapi kurus, berbeda dengan Jagad. Ah, kenapa Jagad lagi yang kusebut. Hff...
“Sudah semua. Ayuk balek...
“Siap, bos!
Mulailah rvo merah Mada melaju di sepanjang Jalan Patimura hingga Jalan HOS Cokroaminoto. Hanya sekali berhenti lagi karena Mada minta dibelikan Martabak Holand ala pinggir jalan. Yah... aku turuti saja karna dia sudah sangat baik menjadi sopir pribadiku malam ini. Andai tak ada Mada aku juga tidak tau kapan ada waktu untuk membeli oleh-oleh untuk Shina.
Sdh balek?
Dharma. Ada apa siy segitunya memburuku.
Blum. Msh mampir sebentar. Ada apa ya? Balasku cepat
Ah gpp, jgn terlalu malam pulangnya. Kwatir ada apa2 J
Hah? Sejak kapan Dharma berani seperti ini...
Iya, matur nuwun njih... balasku akhirnya.
Sami-sami... J
Dharma sangat mirip dengan Mada. Kurus, tinggi. Namun dia tidak bisa tertawa hahaha seperti Mada. Dia lebih cenderung seperti lelaki flamboyan yang selalu menjaga ekspresi wajahnya. Wajahnya bersih dari minyak, tidak ada kerutan sama sekali. Dan yang selalu kurasakan tiap bertemu dengannya adalah wangi. Dia sangat wangi, entah parfum apa yang dipakainya. Dharma menjadi staff HRD berselisih dua tahun dengan kedatanganku. Entah sejak kapan tiba-tiba orang-orang kantor sibuk dengan perjodohanku dengan Dharma. Mungkin karena aku tidak pernah membicarakannya secara khusus dengan Dharma tentang kelakuan teman-teman kantor, jadinya dia pun merasa tidak ada masalah dengan semua itu. Padahal bagiku, itu jelas sekali suatu masalah. Namun tidak harus menjadi prioritas untuk diselesaikan.
Sudah hampir pukul setengah sebelas malam saat motor Mada masuk ke dalam rumah. Ibu bapak segera membantuku menurunkan oleh-oleh yang kubeli.
“Banyak sekali, Nay?
“Iya tuh pak sopirnya juga malak,” jawabku merengut.
“Malak apaan... cuman minta martabak dan kelengkeng doang,,,
“Huuu...
kuselonjorkan kakiku. Panas. Capek juga ternyata. Kuingat-ingat apalagi yang harus kusiapkan untuk keberangkatanku ke Bumiaji.
“Ibu jadi buat apa tadi buat Shina?
“Hmm.. Anu,,, Wajik, Nduk, Shina dulu suka itu kan? Seklian buat nak Jagad.
“Hahh...
“Kenapa, Nay?
“Kok semua perhatian banget dengan Jagad?,” ujarku kembali merengut.
“Kan kalian berteman, masa’ Shina dibuatkan Jagad tidak, kan tidak adil itu namanya,,,
“Tapi kan dia... Ah, sudahlah. Capek!
Selasa, 20 Maret 2012
Perjalanan Cinta (Part 5)
13.33, Hari yang sama...
Aku sudah membereskan pengajuan ijinku hari ini. Tinggal menunggu rekomendasi keluar dari bagian HRD. Aku kembali memutar badanku kiri kanan untuk melenturkan kembali otot-ototku. Aku kembali menghitung kemungkinan keberangkatanku. Jika aku berangkat hari Sabtu, maka mungkin aku bisa di sana hingga minggu depannya. Tapi serumah dengan Jagad dalam waktu yang lama? Ah, aku tidak akan bisa sepertinya. Pasti akan ada keributan yang tak terhindarkan. Hhfff...
Jagad Nawwaf.
Aku pertama kali melihatnya saat menjadi anak polos kampusku dulu. Dia memang seniorku, namun sama sekali tidak kutau kalo dia senior. Entahlah, mungkin karena dia memang lebih senang bersama anak-anak polos sepertiku. Yang baru melihat gedung besar, orang-orang berdasi ataupun anak-anak mahasiswa yang sebagiannya sok jadi orang pintar. Hah, aku lupa berapa kali aku mendapat hukuman gara-gara kebandelanku melawan senior-senior itu. Bahkan beberapa senior perempuan membenciku, aku tau itu. Sering kalinya mereka membicarakanku di belakang atau menyindirku.
Aih... mereka hanya belum tau siapa Naya.
“Tidak bosen dihukum-hukum terus?,” aku tak melihat kedatangannya, namun tiba-tiba aku mendengar suaranya. Jagad.
“Bosen siy, mas, tapi ya mau gimana lagi. Semua sok jadi petinggi. Hahaha,” aku seperti lupa kalo Jagad juga seniorku dan lupa kalo ini pertama kalinya kami berbincang. Jagad ikut tertawa dengan kataku.
“Kamu yang sabar saja, yang kuat,” katanya kemudian. Aku sudah tidak begitu memperhatikan kalimatnya selanjutnya karena aku sudah sibuk dengan bawaanku yang segudang. Namun yang aku tau selanjutnya, Jagad menjadi orang yang sering kali mendatangiku untuk menanyakan keadaanku setelah aku mendapat hukuman. Dia juga menasehatiku, memberitahuku tentang beberapa hal.
“Yahh... dimana-mana senior memang begitu. Aku sudah tau itu, mas. Jadi tidak kaget lagi. Paling juga balas dendam. Hihihihihi,” kataku. Jagad tertawa. Kerudung putihku tertiup angin yang menggoda kecerewetanku. Kuakui aku memang orang yang tidak begitu peduli dengan sesuatu yang itu berbeda denganku. Aku keras kepala dan suka ngeyelan. Bahkan saat terpojok pun aku masih mencoba untuk bisa bertahan dengan apa yang kuyakini.
Selepas itu semua, memang akhirnya aku bisa akrab dengan Jagad. Awalnya aku memang selalu memanggilnya dengan “mas”, tapi dia sendiri yang kemudian memintaku memanggilnya hanya dnegan Jagad. “Biar lebih akrab,” katanya. “Tapi bukan berarti kamu bisa semena-mena juga padaku.
Jagad Nawwaf.
Hampir sepuluh tahun sejak itu hingga saat ini aku mengenalnya. Mengenali sisi baiknya. Menerima sisi buruknya. Aku mengenalnya sebagai anak laki-laki dari tiga bersaudara perempuan. Ibunya seorang guru sekolah dasar dan bapaknya juga guru. Seorang adiknya kini telah kuliah di UIN Malang dan seorang lagi sedang menyelesaikan tugas akhirnya di STAN. Tidak ada yang istimewa darinya kecuali sifatnya yang tegas.
Meskipun berteman akrab, bukan berarti dimana ada Jagad, di situ ada Naya. Meskipun juga hampir semua orang mengatakan kami menjalin suatu hubungan, namun satu pun tak kami tanggapi.
“Bukankah itu fitnah untuk kalian?,” Asri, kawan berkerudungku mendekatiku suatu siang. Angin siang itu menerbangkan kerudung coklat susu yang kupadu dengan baju muslimah coklatku.
“Tapi antara aku dan dia benar-benar tidak ada apa-apa, As,” jawabku. Aku menyenderkan tubuhku pada tiang kampusku. Asri duduk menyebelahiku.
“Memang. Kalian yang tau semua yang terjadi diantara kalian berdua. Tapi wajar kan jika banyak orang menganggap kedekatan kalian itu bermakna lain? Bukankah dimana-mana persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang tulus?,” gadis berjilbab agak lebar di sampingku ini menyedot sisa es jeruknya. “Hm Naya, sebenarnya seberapa dekat kalian?
Aku melongo. “Dekat apaan? Plis dee... ya biasa saja. Hanya saja mungkin kami akrab satu sama lain. Lagi pula ada Shina diantara kami. Aku dan dia juga tak pernah jalan berdua. Juga tak penah boncengan. Juga tak pernah saling sentuh. Hah, orang-orang ini memang terlalu parno.
“Hihihihi. Ya udah, aku percaya sama kamu kok, Nay. Tapi saranku, ada baiknya juga kamu jaga hubunganmu. Biar terjaga juga ajaran anak-anak berjilbab rapi kayak kamu niy. Jangan sampe’ stigma berjilbab rapi tapi gak karusan kelakuannya menjadi hal biasa. Top gak?
“Hahahaha, beres dah... Insya Allah. Jagad juga bukan orang yang tidak paham dengan prinsipku kok. Itulah kenapa kita gak pernah jalan berdua. Selalu ada Shina diantara kami. Dan satu lagi, kami bertiga bersaudara. Tidak ada persaudaraan yang kukenali lebih dari aku mengenali Shina dan Jagad. Ibuku ibu Shina juga, bapakku juga menjadi bapak Jagad, ibu Jagad juga menjadi ibuku dan bapaknya Jagad juga menjadi bapaknya Shina.
Mataku seperti berair saat mengatakan itu. Asri menepuk-nepuk pundakku pelan dan merangkulku. “Sssttt... Jujur, aku cemburu. Hihihihihi.
Dari kejauhan, kulihat sosok yang sangat kukenali. Tertatih-taih menuju tempatku duduk. Asri segera berdiri dan mela mbaikan tangannya semangat.
Enaknya Di Dapurrrr....
yang paling membahagiakan saat mencoba mengaduk2 bahan di dapur adalah :
1. Saat melihatnya sudah jadi, siap disantap. Apalagi liat si Nin lahap bener. Abinya apalagiiii... Syeneeenggg bgt, panas2 dapur ilang kalo liat mereka makan hasil uji dapurku.
2. Saat bisa membungkus dan membagikannya pd yg lain, minimal ke tetangga lah... Biar tetanggal ga cuman nyium baunya saja, tp jg merasakan rasanya. Kasian bener kan kalo cm dikasih asapnya, apalagi kalo sampe yg nyium baunya anak tetangga, trus nangis2 minta dibuatin juga gimana... bs susah emaknyaaa :))
3. Saat tiba2 membuat org mengenal bahwa saya bs buat2 di dapur :D Jd label wanita ga bisa masak, ga kenal dapur bla bla bla *yg nurut saya itu kacau dan menghina sekali* bisa dikit2 ilang. Yg bener sajaaa... masa' dibilangin ga bisa di dapur, bisanya cm njajan. Aihhh... ter-la-lu !!
Jadi tips dari saya utk yg suka di dapur : lakukan dg hati dan bagikan kepada tetangga. Pasti rasanya lebih maknyess !!
Paling tidak, utk ibu2 yg suaminya terjadwal ngajinya, ini saatnya menguji nyali dan kemampuan mluthek di dapur *lebay*. Biar ada yg dijadikan camilan pas ngaji maksudna... Ngirit dan bs dibagi2 dg tetangga pula. Jd disayang tetangga insya Allah...
1. Saat melihatnya sudah jadi, siap disantap. Apalagi liat si Nin lahap bener. Abinya apalagiiii... Syeneeenggg bgt, panas2 dapur ilang kalo liat mereka makan hasil uji dapurku.
2. Saat bisa membungkus dan membagikannya pd yg lain, minimal ke tetangga lah... Biar tetanggal ga cuman nyium baunya saja, tp jg merasakan rasanya. Kasian bener kan kalo cm dikasih asapnya, apalagi kalo sampe yg nyium baunya anak tetangga, trus nangis2 minta dibuatin juga gimana... bs susah emaknyaaa :))
3. Saat tiba2 membuat org mengenal bahwa saya bs buat2 di dapur :D Jd label wanita ga bisa masak, ga kenal dapur bla bla bla *yg nurut saya itu kacau dan menghina sekali* bisa dikit2 ilang. Yg bener sajaaa... masa' dibilangin ga bisa di dapur, bisanya cm njajan. Aihhh... ter-la-lu !!
Jadi tips dari saya utk yg suka di dapur : lakukan dg hati dan bagikan kepada tetangga. Pasti rasanya lebih maknyess !!
Paling tidak, utk ibu2 yg suaminya terjadwal ngajinya, ini saatnya menguji nyali dan kemampuan mluthek di dapur *lebay*. Biar ada yg dijadikan camilan pas ngaji maksudna... Ngirit dan bs dibagi2 dg tetangga pula. Jd disayang tetangga insya Allah...
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)


